“Sebab keselamatan diri saat berkendara adalah tanggung jawab masing-masing kita”

 

Cekrek!

Di keremangan lampu rumah bagian belakang, tangan mungil tampak memutar gagang pintu. Hampir tak terdengar suara saat pintu terbuka. Setelahnya terdengar kaki sedikit berjingkat. Ia pun bergegas masuk ke kamar.

Tanpa sepengetahuannya, sepasang mata tajam mengawasi dari depan sebuah kamar tak jauh dari kamarnya. Dibantu penerangan di ruang kerjanya yang terbuka, ia bisa memastikan bahwa ia adalah anak tunggalnya, Jidin Putra.

Tok! Tok! Tok!

Di dalam kamar Putra tak mengindahkan suara tersebut. Ia telah lebih dulu membenamkan wajahnya di bantal. Raut wajahnya tak seperti saat ia pamit pada ayahnya sore sebelumnya. Matanya terlihat sayu. Bibirnya sesekali digigitnya. Bahkan air matanya pun seakan hendak berlomba lebih dulu menyentuh permukaan bantal.

“Put… Kamu sudah tidur?”

Putra tak menyahut suara berat milik ayahnya. Ia bergeming. Hingga akhirnya, ia pun beringsut dan perlahan bangun. Dengan sedikit menyeret kakinya, ia membuka pintu kamar pada panggilan yang kesekian kalinya. Di depannya terlihat sesosok lelaki paruh baya berdiri tegak. Perlahan menghilang saat sesosok itu berganti dengan bidang persegi empat berwarna putih, keramik lantai rumahnya.

“Kamu baru pulang?”

Putra hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari bidang persegi yang ditatapnya lekat-lekat. Ia tahu, ayahnya akan marah besar. Melanggar janji adalah kesalahan yang paling sulit dimaafkan oleh ayahnya. Ia tahu betul hal itu. Ini bukanlah pertama kalinya. Namun kali ini ia rasakan ada yang berbeda. Ia pun mengumpulkan keberanian dan mengalihkan pandangan kembali fokus pada wajah laki-laki yang telah membesarkannya sendirian selama lima belas tahun ini.

Di ruang tengah yang benderang, ia bisa melihat jelas kelelahan di mata ayahnya. Hingga akhirnya ia berhasil juga memecah keheningan.

“Pa… Pa.. Papah belum tidur?”

“Papah masih nunggu kamu, Put.”

“Kok?” Putra bertanya sambil sedikit membelalakkan mata.

Pernyataan dari ayahnya, satu-satunya orang tua yang dimilikinya, melahirkan banyak pertanyaan di kepalanya. Ini memang pertama kalinya. Biasanya, ayahnya lebih memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku di kamarnya. Atau sesekali juga ia lebih memilih menekuni pekerjaannya. Ia bisa melihat dari lampu ruang kerjanya yang tetap menyala meski jam berapa pun ia pulang.

“Ayo!” kata lelaki berkacamata itu sambil menarik tangannya.

Ajakan ayahnya membuat ia tersadar dari lamunan singkatnya. Ia tak menolak saat ayahnya menariknya ke arah ruang kerja. Ia tahu betul, ada sesuatu yang ingin ditunjukkan oleh ayahnya. Namun ia belum tahu apa itu.

Sesaat kemudian, ia merasakan tarikan tangan ayahnya kian longgar dan akhirnya terlepas. Beban ia rasakan bertumpu di pundak bagian kanan. Ia tahu itu adalah tangan kanan ayahnya. Ia pun melangkah bersamaan dengan langkah kaki ayahnya.

“Kamu kenapa pulang telat lagi?” tanya ayahnya sambil melangkah.

“Maaf, Pah. Putra enggak ngabarin dulu tadi. Sebenernya Putra baru saja pulang dari rumah sakit.”

Ia mengikuti ayahnya yang mendadak menghentikan langkahnya yang sedikit tertatih. Bukan karena faktor usia.

“Siapa yang sakit, Put?”

“Ngg… anu, Pah. Aris, Pah.”

“Aris?” Tanya ayah Putra sambil melepaskan pelukannya sebelum kemudian melanjutkan kata-katanya, “Aris temen kamu yang suka kebut-kebutan itu?”

Sesaat setelah tangan ayahnya terlepas dari pundaknya, ia menganggukkan kepala. Tak lama kemudian ia pun menyandarkan tubuhnya di dinding depan pintu ruang kerja. Pandangannya kosong menatap langit-langit ruang keluarga. Sementara ayahnya sudah terlihat duduk di kursi kerjanya.

“Kemarilah, Put!”

Putra menuruti permintaan ayahnya untuk masuk. Ia tidak duduk di sofa depan meja kerja. Namun ia memilih duduk di kursi tanpa sandaran di samping ayahnya. Ia tahu kursi tersebut biasa digunakan ayahnya untuk meluruskan kedua kakinya yang sebenarnya salah satunya tidak akan pernah bisa lurus.

Atas permintaan ayahnya juga, ia menceritakan kronologi kecelakaan yang menimpa temannya. Sesekali ia melihat ayahnya menganggukkan kepala. Sesekali pula, ia melihat ayahnya berusaha membuka gulungan di atas meja kerja dengan satu tangannya.

Keheningan tercipta ketika Putra menyelesaikan ceritanya dan ayahnya selesai menggelar gulungan kertas di meja kerjanya.

“Gambar apa ini, Pah?” tanya Putra sambil menggerakkan jemarinya di atas sketsa dengan menggunakan pensil yang terhampar di depannya. Menjawab penasaran di hatinya, ia pun kembali bertanya, “Ini siapa, Pah? Tahi lalatnya mirip sama Papah.”

Putra melihat ayahnya berdiri dengan susah payah. Telunjuk kanannya menunjuk tepat di atas sketsa sebuah wajah.

“Ini Papah waktu masih remaja. Ya kira-kira seusia kamulah.”

“Wuih! Papah keren. Masih remaja tapi tunggangannya motor gede gitu.”

“Keliatannya emang keren, Put. Kenyataannya itu hanya perasaan Papah doang.”

“Maksudnya, Pah?”

Putra mengikuti jari ayahnya yang bergerak ke sana kemari di atas kertas menunjuk pada urutan sketsa. Ia dengan sungguh-sungguh memperhatikan setiap penjelasan yang menyertainya. Tak ada satu pun yang terlewat. Hingga sedikit demi sedikit ia bisa melupakan tentang temannya yang terbaring di rumah sakit.

Pada sketsa terakhir di bagian pertama, ia mendengar ayahnya menarik napas panjang. Jari-jarinya berhenti tepat di ujung sketsa berupa jalan besar. Di sana, sketsa diri ayahnya sedang naik sepeda motor besar. Ia dikelilingi beberapa tokoh lainnya. Wajah ayahnya tergambar sangat puas. Hal ini diperjelas dengan gambar mahkota di kepalanya. Bahkan pada caption di bawah sketsa tertulis, Mahesa Raja Jalanan. Di titik tersebut, ayahnya menghentikan ceritanya untuk sesaat. Ia sama sekali tak menyangka jika masa remaja ayahnya jauh melebihi dirinya saat ini.

“Awalnya Papah bahagia.”

Putra mendengar nada datar dalam penutup cerita bagian pertama yang digambarnya. Ia tak berani menyahut lebih jauh perkataan ayahnya. Terlebih saat ia memperhatikan dengan jelas perubahan raut wajah ayahnya. Perubahan yang semakin terlihat jelas ketika ayahnya melanjutkan cerita.

“Sebutan itu Papah peroleh ketika Papah berhasil merajai berbagai balapan. Ilegal memang. Tapi gejolak remaja Papah waktu itu tidak peduli dengan semuanya. Yang Papah tahu waktu hanya menang… menang… dan menang. Lalu puaskah Papah dengan semua itu? Tentu, Put. Papah puas dengan semua pencapaian. Papah bangga dengan semua pengakuan. Bahkan Papah sampai lupa kalau waktu itu harus mengikuti ujian kelulusan.”

Sampai di situ, Putra melihat ayahnya kembali menarik napas panjang. Ia berusaha menahan kantuknya untuk menunggu kelanjutan cerita ayahnya. Benar saja. Tak butuh waktu lama baginya untuk menunggu. Hanya beberapa detik setelahnya, ayahnya kembali melanjutkan cerita.

“Sekarang coba lihat bagian dua ini, Put. Bagian ini adalah fase terendah dalam hidup Papah.”

Putra kembali mengikuti gerakan jari ayahnya di atas sketsa. Dengan saksama ia memperhatikan gabungan dari garis-garis yang membentuk sebuah cerita tersebut. Ia menghentikan pengembaraan penglihatannya pada sketsa sesosok mayat. Ia mengumpulkan keberanian di ujung jari telunjuk kanannya.

“Ini siapa, Pah?” Putra bertanya sambil menoleh ke arah wajah ayahnya yang sedang menarik napas.

“Dia adalah Rasjid. Sahabat Papah sejak masih SD. Kami berdua sangat dekat. Mungkin sedekat kamu sama Aris saat ini.”

Pikiran Putra berusaha mencerna penyebab kematian teman ayahnya dari rangkaian sketsa. Ia terbelalak ketika melihat kenyataan yang ada. Sosok Rasjid digambarkan sedang naik sepeda motor. Di belakangnya tampak gedung bertuliskan nama sebuah SMA di kotanya. Ia memahami itu sebagai Rasjid yang sedang pulang sekolah. Lebih terkejut lagi, ketika ia melihat Rasjid digambarkan terguling di jalan menuju rumah dalam keadaan tanpa memakai pengaman kepala. Dari sketsa ayahnya itu, ia juga tahu penyebab meninggalnya. Hanya karena masalah sederhana. Rasjid tampak jatuh di sebuah tikungan tajam. Kepalanya tepat membentur pembatas trotoar jalan. Seketika ia bergidik.

“Pah… “ Putra menyentuh pundak ayahnya yang menunduk dengan menumpukan tangan kanannya di meja kerja.

Keduanya bersitatap sesaat setelah akhirnya ayahnya melanjutkan cerita.

“Itu belum seberapa, Put. Kejadian selanjutnya bisa kamu lihat apa yang terjadi. Setelah temen Papah, selanjutnya adalah giliran Papah. Di tempat yang sama. Penyebabnya pun sama. Papah terlalu sembrono saat menikung. Beruntung nyawa Papah masih bisa diselamatkan. Tapi ya… akhirnya kondisi Papah kayak yang kamu lihat saat ini.”

Cerita ayahnya terhenti saat ia menunjukkan tangan kirinya. Ia tahu bagaimana kondisi tangan kiri ayahnya. Secara fisik terlihat lengkap dan sempurna. Namun secara fungsi, terbatas sekali. Tangan kiri ayahnya tidak bisa dipakai untuk melakukan kegiatan-kegiatan berat. Bahkan hanya untuk sekadar memasukkan ke dalam lengan baju saja, ayahnya selalu kesulitan.

“Bukan itu saja, Put. Kamu lihat kaki Papah?”

Suara ayahnya menghentikan pengembaraan ingatan tentang kesulitan-kesulitan yang pernah dialami ayahnya karena keterbatasannya. Ia juga telah tahu tentang kondisi kaki ayahnya. Secara kasat mata, ia bisa melihat dari cara berjalan ayahnya yang tertatih.

“Iya, Pah. Putra tahu banget. Jadi sejak remaja Papah kayak gini?”

“Begitulah, Put. Dalam segala keterbatasan, Papah akhirnya memutuskan meninggalkan jalanan dan menanggalkan atribut raja jalanan. Kejadian itu menyadarkan Papah bahwa keselamatan diri di jalan adalah tanggung jawab masing-masing kita. Papah akhirnya juga menyadari bahwa kebanggaan memiliki gelar hanyalah semu dan sementara. Pada akhirnya kita tetaplah manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Waktu itu Papah benar-benar terpuruk. Bahkan pernah suatu waktu sama sekali enggak ingin hidup. Namun kakek dan nenek kamu enggak pernah menyerah untuk membangkitkan Papah. Dan, berkat mereka Papah bisa kembali bangkit untuk mengikuti dan meneruskan jejak bisnis toko buah mereka. Hingga saat ini.”

Putra melingkarkan lengan ke pinggang ayahnya. Di lengan kiri ayahnya, ia menyandarkan kepala sambil berkata, “Pah… Putra baru tahu cerita ini. Maafin Putra juga, Pah. Selama ini enggak pernah ngindahin nasihat Papah.”

“Put… Papah hanya nunggu waktu yang tepat untuk menceritakannya padamu. Bagaimanapun juga Papah enggak ingin kamu mengalami nasib yang sama kayak Papah.”

Putra merasakan jari tangan kanan ayahnya bergerak menyusur kepalanya. Ia pun akhirnya memilih mengeratkan pelukan di pinggang ayahnya. Ada keinginan untuk tidak berpisah. Baginya perpisahan cukup hanya dengan ibunya yang meninggal saat melahirkannya dan… masa remajanya yang tak pernah mengindahkan keselamatan berkendara.

***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Advertisements

2 thoughts on “#SafetyFirst – (Bukan) Raja Jalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s