“Jangan ke sini! Aku enggak mau makan roti lagi! Ngerti?!”

Setelahnya terdengar derit dipan saat sesosok tubuh terempas begitu saja di atas seprai lusuh pembungkus kasur. Sosok itu, lelaki muda dengan tubuh bersih dan terawat, terlihat mengacak-acak rambut lurus dan tebalnya. Sesekali terdengar teriakan yang disambung dengan umpatan.

“Setan! Padahal sekarang jadwalnya! Argghhh!”

Tangan kekarnya seketika meraih bantal dan melemparkannya secara sembarangan. Dia tak menduga akan sedemikian cepat kejadiannya. Hanya satu minggu sejak keduanya sepakat untuk menjalani segalanya berdua. Termasuk risiko yang akan dihadapinya.

“Yang penting kamu hati-hati. Itu aja, sih, sebenernya.”

Begitu ingatan tentang kata-kata perempuan yang akhirnya dia cintai. Terlebih ketika perempuan yang usianya terpaut jauh dengannya itu meyakinkan, bahwa semua akan baik-baik saja.

“Kamu tenang saja, Adam. Dalam hal beginian aku sudah pengalaman, kok.”

Kata-kata berikutnya kembali singgah di telinganya. Kata-kata seminggu lalu yang akhirnya membuatnya berani mengambil keputusan. Sebuah keputusan yang dia ambil tanpa berpikir panjang.  Bagaimana dia bisa menolak permintaan seorang perempuan yang di usia hampir setengah abad masih terlihat memesona. Kulit putih bersih dan kencang, bibir tipis dengan senyuman menggoda, dan mata nakal di setiap tatapannya. Gelora jiwa mudanya terlalu tangguh untuk ditaklukkan oleh dirinya sendiri. Gelora yang bahkan mampu menghapus pesan almarhumah ibunya.

“Kamu boleh mencintai siapa saja. Yang penting jangan sampai merusak kebahagiaan orang lain.”

Saat itu, baginya pesan seorang ibu bukan lagi sebuah keharusan untuk ditunaikan. Yang paling penting baginya saat ini adalah dia masih ada kesempatan untuk meneruskan usaha jualan roti kelilingnya. Setidaknya, dia tidak lagi kesulitan untuk sekadar menyisihkan rezeki demi kelanjutan kuliahnya.

Namun sepertinya dia harus mengubur impiannya itu untuk sementara waktu. Ucapan perempuan yang dia cintai tadi pagi di saluran telepon adalah penyebabnya.

“Perempuan sialan! Padahal aku udah bikin dia bahagia sampai langit ke tujuh! Argghhh!”

Baca juga: Sepotong Roti dan Kenangan yang Menyertai (Bagian 2)

Sejenak dia melupakan luka yang menggores di dadanya. Dengan satu tarikan napas panjang, dia berhasil mengontrol emosinya. Ingatannya melayang pada suatu masa ketika dia baru pertama kali memasuki kompleks perumahan elit di pinggir kota Mataram.

“Rotimu enak juga, ya. Enggak tahu kalau penjualnya, enak atau enggak. Hahaha….”

Setelahnya perempuan itu berlalu begitu saja dari hadapannya. Sejenak dia menoleh ke kanan dan kiri. Beruntung tak ada satu pun warga yang terlihat berkeliaran di kompleks tersebut.

“Aman,” pikirnya.

Belum sempat dia mengucapkan terima kasih atas pujian itu, perempuan yang baru sekali membeli rotinya itu telah masuk rumahnya. Mereka bersitatap saat dia berlalu dan perempuan itu menutup pintu. Sebuah kesan pertama yang akhirnya mengantarkannya ke sebuah petualangan baru. Sebuah perjalanan kehidupan yang sama sekali belum pernah dialaminya.

Hingga akhirnya, dia pun bertekuk lutut atas nama menyambung hidup. Dia telah menjadi budak bagi perempuan yang saat ini entah sedang melakukan apa. Mungkin saja telah melupakannya. Atau bisa jadi sedang bersama seseorang yang telah menggantikan posisinya. Dia tak mau memusingkan itu lagi. Dalam pikirannya hanya satu, dia harus mencari cara agar kekasih singkatnya itu mau membeli rotinya lagi.

Dia pun berusaha untuk tetap tenang. Setidaknya, dia masih punya keahlian lain yang diturunkan oleh ayahnya yang meninggalkannya saat masih kecil. Keahlian itu pula yang telah mengenalkannya pada seorang pria kaya raya yang selalu bahagia mendengar ceritanya.

Semua berawal dari ketaksengajaan saat dirinya keluar kompleks sepulang mengantarkan roti untuk kekasihnya, lalu ada sebuah mobil mewah mengikutinya. Awalnya dia tak berusaha tak memedulikannya. Namun di gang masuk indekosnya, dia berhenti, lalu dengan gagah berani dia menyuruh pemilik mobil mewah untuk keluar.

Keduanya pun bersitatap cukup lama. Sampai akhirnya pria itu mengenalkannya dirinya.

“Saya Seno. Panggil saja Om Seno.”

Kesan pertama pertemuan itu mampu mengubur kecurigaannya tentang tujuan pria itu menemuinya. Dia yakin, pria yang saat ini telah menjadi pelanggan tetapnya adalah orang baik. Terlebih pria itu sangat senang mendengarkan cerita perjalanan cintanya saat dia sedang menikmati layanan terbaiknya.

Setidaknya sampai hari ini.

(Bersambung)

 

Advertisements

One thought on “#1Like1Blogpost ~ Sepotong Roti dan Kenangan yang Menyertai [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s