“Hahaha… Kenapa, Ran? Kamu masih merasa diri lebih suci? Hahaha…”

Sungguh senja yang berat oleh kata-kata terakhir Adam sebelum akhirnya mereka berdua berpisah di jalan kompleks perumahan itu. Rani sama sekali tak menyangka maksud baiknya justru berbalik melukai hatinya. Hampir lima tahun mengenal Adam, bukan waktu yang singkat untuk memahami kepribadian Adam. Dia hafal betul, saat kondisinya terdesak, Adam akan berubah menjadi sosok yang berbeda.

Dan, hari ini adalah puncaknya. Kata-kata Adam adalah pemicu keretakan hubungan keduanya. Dia sudah bertekad untuk tak lagi menegur sapa Adam saat bertemu di jalan kompleks. Dia memilih pura-pura tak kenal dan fokus pada usahanya, menjual sayur dengan gerobak dorong.

Dan, keesokan harinya, bayangan tentang Adam pun akhirnya perlahan menghilang. Rani pun melanjutkan langkah. Dia mulai menyusuri jalanan pagi di kompleks yang terlihat masih ramai. Belum banyak mobil berlalu lalang. Hanya ada satu atau dua mobil yang berpapasan dengannya. Salah satunya adalah mobil Jazz merah yang hampir menyenggol gerobaknya.

Berbeda dengan biasanya, hari ini Rani memutuskan datang lebih awal saat penghuni kompleks belum berangkat kerja. Ada pemandangan tak biasa saat dia melewati deretan rumah-rumah megah.

Hampir di setiap gerbang rumah, selalu saja ada sosok pria yang berdiri. Pandangan mereka menyiratkan rasa penasaran. Beberapa di antaranya bahkan melemparkan senyum ke arahnya. Merasakan ada hal ganjil, Rani mendadak merasa risih dan salah tingkah. Dia pun akhirnya bergegas menuju rumah paling ujung untuk mengantarkan pesanan sayur.

Di depan rumah bercat hijau tersebut, Rani menghentikan gerobaknya. Setelah dia memanggil sebuah nama, seorang perempuan paruh baya terlihat membuka pintu.

“Sebentar, Mbak.”

Baca juga: Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur (Bagian 2)

Di depan gerbang, wajah Rani mendadak kecut. Dia mengedarkan pandangan ke halaman rumah itu. Tak ada siapa-siapa. Tak seperti yang diharapkannya. Hingga akhirnya kedatangan seorang perempuan membuyarkan lamunannya.

Setelah Rani memberikan seikat sayur dan uang kembalian, perempuan itu kembali masuk rumah. Rani pun menyapukan pandangannya ke beberapa rumah lain di sekitarnya. Dia menyaksikan hal yang sama dengan di kompleks bagian depan. Lelaki-lelaki terlihat berdiri di depan gerbang rumahnya masing-masing. Seolah dikomando, mereka serempak tersenyum padanya. Melihat hal itu, sia tak mau berlama-lama lagi di kompleks itu. Sebuah tempat yang penghuninya seperti hendak menelanjanginya.

Di gerbang kompleks, Rani bernapas lega. Dia terus mendorong dan mendorong. Di sebuah warung pinggir jalan, dia memutuskan beristirahat.

“Kenapa justru bapak-bapak itu yang muncul? Ke mana Pak Soni?”

Sederet pertanyaan muncul begitu saja di kepalanya. Ada sebuah nama yang menjadi alasan lain kenapa dia tadi tak berlama-lama saat mengantarkan pesanan sayur di rumah ujung kompleks. Seseorang yang dia harapkan, tak muncul. Padahal ada satu hal yang hendak dia selesaikan.

“Ke mana Pak Soni?”

Pertanyaan itu menyapa lagi hatinya yang paling dalam.

“Kenapa dia sendiri yang tidak muncul tadi?”

Pertanyaan lain mengganggu pikirannya.

“Ah! Pak Soni….”

Rani mengesah sambil meluruskan kakinya. Dia tak mengira, perjuangannya sepagi ini gagal total. Berbeda dengan perjuangannya saat dia tak sedang berperan sebagai penjual sayur saat malam tiba.

“Dik Rani sudah punya pacar?”

Pertanyaan dari lelaki paruh baya berpenampilan rapi itu memaksa Rani menghentikan adukannya pada segelas kopi. Sejenak dia menatap pelanggan kedai kopi sederhananya yang terletak di depan kompleks mewah. Ini bukan pertanyaan yang pertama kali diajukan. Namun menjadi pertanyaan yang selalu mendapatkan jawaban yang sama, sebuah gelengan kepala.

Seringnya bertemu dan berkomunikasi membuat Rani pun jatuh hati. Dia tahu dia takkan bisa memiliki lelaki beristri itu. Namun dia tak pernah putus asa untuk menyimpan rasa yang dimilikinya. Diam-diam, dia pun menyusun rencana.

“Aku harus bisa mendapatkannya.”

(Bersambung)

Advertisements

4 thoughts on “#1Like1Blogpost ~ Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur [1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s