Baca juga: Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur (Bagian 2)

“Sudah enggak zaman lagi lewat minuman, Nak. Kalau Mbah bisa lewat apa saja. Paling manjur, ya, lewat apa yang sering kamu bawa setiap hari.”

“Saya tiap hari bawa sayur, Mbah. Gimana? Bisa enggak, Mbah?”

Tanpa menjawab pertanyaan Rani, lelaki dengan ikat kepala itu merapalkan mantra pada seikat sayur yang disodorkannya. Dengan saksama Rani menyaksikan setiap detik ritual yang dijalani oleh lelaki itu. Dia sama sekali tak terganggu dengan asap dan aroma dupa yang memenuhi ruangan kecil itu.

Tak sampai setengah jam, Rani pun pamit. Sesampai di rumah dia menyiapkan segala sesuatunya. Tak sia-sia selama satu minggu ini dia telah mengamalkan anjuran dari lelaki tua yang dikenalkan padanya oleh Budi, penjual jajan keliling kompleks yang sama dengannya itu. Terbukti setiap malam Pak Soni tak pernah sekalipun absen mengunjunginya di warung hanya untuk sekadar berbagi cerita dengannya. Membayangkan wajah Pak Soni, Rani senyum-senyum sendiri.

Pertemuannya beberapa hari yang lalu masih membekas. Dia ingat betul dengan cerita Pak Soni tentang kebahagiaan-kebahagiaan kecilnya. Termasuk hal remeh tentang kelinci peliharaannya. Dia masih teringat, Pak Soni tertawa lepas saat menceritakan kelinci jantannya yang bersikap aneh setiap pagi.

“Mungkin sedang musim baginya untuk kawin. Sayang di rumah enggak ada kelinci betina. Kasihan kelinci itu, ya? Hahaha….”

Saat itu keduanya larut dalam tawa. Belum lagi saat keduanya terlibat dalam perbincangan tentang kehidupan rumah tangga. Pak Soni tak segan bercerita tentang keributan-keributan kecil dengan istrinya. Dan, saat seperti itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi Rani. Sedikit lagi, pikirnya.

Dan, malam ini adalah malam pertama yang berbeda bagi keduanya untuk bertemu. Sembunyi-sembunyi pastinya. Rani pun memutuskan untuk menutup warung kopinya. Dia akan menemui Pak Soni di suatu tempat yang telah mereka janjikan.

Pukul delapan lebih lima belas menit ketika Rani tiba di Taman Sangkareang. Dia melihat sebuah taman yang begitu hidup di malam hari. Pandangan matanya tertuju pada deretan anak-anak muda yang terlihat asyik membaca di bangku-bangku taman. Sementara beberapa perempuan terlihat begitu bahagia dalam tawa di antara deretan buku yang tertata rapi di salah satu bagian lainnya. Sangat berbeda dengannya yang sama sekali tak ada minat untuk membaca. Sekilas dia memperhatikan. Setelahnya dia pun terlihat bergegas sambil membetulkan letak tas selempang kecil cokelatnya.

“Ah! Bukan urusanku,” batinnya.

Perlahan tetapi pasti, dia pun menapaki anak tangga di pintu masuk. Di mengambil arah lurus lalu menuju ke bagian kanan lalu kembali turun. Di kursi taman dekat lapangan basket, dia duduk mendekap tasnya.

“Lima belas menit lagi,” batin Rani sambil sesekali melihat jam berukuran kecil metalik yang melingkar pergelangan tangan kanannya.

Namun sepertinya waktu berpihak padanya. Belum lagi tiba waktunya, dia melihat langkah kaki mendekat. Dan setelahnya, telinganya menangkap langkah kaki mendekat. Menyadari itu semua, dia pun menggenggam salah satu besi dingin kursi taman dengan tangan kirinya.

Dia hanya ingin menjaga agar hatinya tak terlonjak saat mengetahuk siapa yang datang. Dia hanya takut, jika setelah hatinya terlonjak, orang yang datang itu tak berniat menangkapnya.

Hingga akhirnya lampu penerangan taman menjadi saksi saat keduanya bertukar pandang. Tak terkecuali senyum lebar keduanya.

Basa-basi pun tercipta sebelum akhirnya obrolan hangat semakin mendekatkan mereka. Kehangatan yang sangat diimpikan oleh Rani. Diam-diam, ada harapan tumbuh di dadanya.

“Berhasil! Dia sepertinya telah tunduk padaku,” batinnya sambil mencuri pandang ke arah lelaki yang duduk di samping kanannya.

Namun benar adanya, kenyataan kadang tak sesuai harapan. Rani melihat lelaki itu hendak mengangkat tubuhnya. Secara lembut, Rani berusaha menahan kepergian itu dengan menarik tangannya. Lelaki itu menurut dan kembali duduk.

“Pak Soni belum cerita inti pertemuan kita malam ini,” kata Rani sambil mengedipkan mata manja ke arah lelaki yang sedang melonggarkan dasinya.

“Ran… Sebenernya sudah lama aku ingin ngomong tentang ini ke kamu.”

Deg!

Rani menggenggam erat besi kursi taman yang didudukinya. Ada getar halus merambat di dadanya. Berkelindan erat dengan harapan-harapan yang tumbuh subur.

Belum sempat Rani mengutarakan sesuatu yang dipendamnya, Pak Soni lebih dulu melanjutkan kata-katanya.

“Istriku, Ran. Dia selalu memaksaku untuk mengonsumsi sayur. Tapi aku enggak pernah mau makan sayur. Oleh karen itu, aku mau minta pendapatmu, tentang jenis sayur apa yang paling cocok untuk pemula sepertiku.”

Deg!

Tubuh Rani sedikit bergetar. Mendadak dia merasa ada yang tak beres.

“Jadi, selama ini Pak Soni enggak pernah makan sayur yang dibeli ibu dari saya?”

Pak Soni menganggukkan kepala.

“Lalu siapa yang makan sayur yang saya antar ke rumah kemarin itu, Pak?”

Pak Soni menatap Rani lalu berkata, “Kelinci jantan di rumah. Ia suka sekali makan sayur yang kamu antar. Ia bahkan tidak mau makan sayur selain yang kamu antarkan.”

Deg!

“Pantesan…”

Mendadak dunia Rani menjadi gulita. Dia tak tahu lagi bagaimana hendak meyakinkan diri setelah Pak Soni pamit pergi.

“Dasar dukun sialan!”

(Tamat)

Advertisements

One thought on “#1Like1Blogpost ~ Seikat Sayur dan Harapan yang Hancur [3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s