#FF2in1 – Lima Tahun Lalu

“Aku belum siap!”

“Aku tak memaksamu, Asha. Aku akan menunggu.”

Kulihat Asha menunduk. Ia hendak pergi saat aku mencengkeram lengannya. Sama sekali tak ada penolakan. Aku tahu itu. Sepuluh tahun mengenalnya cukup bagiku untuk mengetahui segala hal tentang dirinya. Ia pun tak beda jauh denganku. Sebenarnya. Aku tahu ia juga memiliki perasaan yang sama.

“Tolong kasih aku waktu, Ren.”

“Iya, Sha. Aku selalu nunggu sampai kamu benar-benar siap, kok.”

Aku pun akhirnya memilih untuk sementara menjauh darinya. Aku tahu persis rasanya kehilangan orang yang dicintai. Bukan tanpa alasan. Aku pernah merasakannya lima tahun lalu saat ayah meninggal karena sakit tua dan menjadikanku seorang yatim piatu. Sama persis dengan kematian orang yang paling dicintai Asha.

Beruntung di usia yang hampir sebaya dengan Asha, tiga puluh tahun, aku kuat. Terlebih aku juga telah memiliki pekerjaan tetap rasanya bisa membahagiakan Asha. Namun masalah hati tidaklah mudah. Apa pun yang terjadi aku bertekad menunggu Asha siap, meskipun sampai seribu tahun lamanya. Demi cintaku padanya, meskipun aku tahu kalau sebenarnya ia belum bisa melupakan almarhum suaminya — ayah kandungku.

– mo –

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

#FF2in1 – Dia Bukan Aku

“Lalu apa artinya sumpah kita dulu?”

Ia terdiam. Di sampingnya, aku masih meradang. Terlebih saat melihat ia melenggak-lenggokkan tubuhnya. Sesekali ia membetulkan gaun malamnya. Ia tampak sempurna. Tanpa cacat setelah kejadian dulu. Berbeda dengan kondisiku saat ini. Mendadak aroma tubuhnya menusuk hidungku. Hal ini sedikit banyak mampu meredakan amarahku. Aku menguatkan diri untuk memeluknya dari belakang.

“Gila kamu!”

Ia berteriak sambil memberontak. Berhasil. Ia terlalu kuat untuk tubuhku yang lemah. Kaki kiriku patah karena kecelakaan saat menjemput dia pulang kerja. Malam itu aku cukup lama menunggunya. Tidak seperti hari-hari biasanya, ia tidak keluar kantor sendirian. Di sampingnya melangkah seorang lelaki tegap. Ia pernah mengenalkannya padaku sebagai Andrew, direkturnya. Aku percaya.

Suatu hari sebelumnya aku mendengar kabar, bahwa ia menjadi simpanan direkturnya tersebut. Ia tak pernah mengetahuinya. Aku pun diam saja. Takut kehilangan dirinya adalah penyebabnya.

“Tunggu! Jangan tinggalin aku! Aku butuh kamu, Ratri!”

Ratri tak memedulikanku dan terus melangkah ke depan. Aku berusaha menyusulnya dengan tertatih hingga ke bahu jalan yang sepi. Aku sama sekali tak peduli dengan angin malam yang dingin menusuk tulang. Hingga di depan kantornya yang tak jauh dari rumahku dan rumahnya sekarang setelah pindah dulu, ia berhenti. sesekali ia menoleh ke arahku. Sekilas saja. Tanpa senyuman seperti dulu waktu pertama saling bersumpah untuk sehidup semati.

“Arion! Mendingan kamu pulang aja! Udah malem ini!”

“Kamu mau ke mana, Ratri?”

“Arion… Arion… Kamu enggak tahu malem apa sekarang?”

Aku menggeleng pelan. “Sekarang malem Jumat, Arion! Dan itu artinya waktu bagiku untuk ketemu Andrew. Bukankah kamu udah setuju?! Lalu kenapa masih menghalangiku?! Kenapa?!”

“Aku masih mencintaimu, Ratri.”

“Aku tahu itu, Arion. Tapi maaf. Aku lebih mencintai Andrew, manusia itu. Bukan kamu yang seorang hantu.”

Aku melihat Ratri melangkah menjauh.

“Sayangnya kamu lupa kalau kamu sama kayak aku, Ratri,” bisikku.

– mo –

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

[Diary Sang Zombigaret] – Perjamuan Terakhir

Napasku tersengal-sengal. Ini bukan pertama kalinya. Setidaknya sudah dua bulan terakhir ini. Udara bukan lagi sebuah kesegaran bagi rongga paru-paruku. Semua karena kebiasaan burukku sejak aku berusia belasan tahun. Kebiasaan yang aku pelajari dari ayahku. Meskipun tidak pernah diajarkan olehnya, tetapi aku juga banyak belajar dari teman-teman sepermainan saat aku SMP hingga sekarang berusia 30 tahun. Sebuah rentang waktu yang panjang untuk bersenang-senang. Semu.

Tak terkecuali malam ini. Di pinggir jalan sepi menuju rumah, aku rebah. Mendadak tubuhku terguncang oleh batuk yang tiba-tiba datang. Dengan tempo cepat dan suara keras, batuk itu membuatku mengeluarkan dahak. Aku berusaha membuka tangan yang kupakai untuk menutup mulut. Setelahnya, aku melihat telapak tanganku. Ada yang berbeda di permukaannya. Bukan dahak seperti hari-hari biasanya. Kali ini ada gumpalan berwarna merah. Aku berusaha bangun. Pengaruh alkohol dan berjuta-juta partikel asap rokok seusai berpesta dengan teman-temanku mengalahkan kesadaranku. Tubuhku yang semakin hari semakin kurus dari sebelumnya tak mampu meneruskan langkah. Sekelilingku mendadak gelap.

Saat membuka mata, kulihat sekelilingku tetap gelap. Tunggu! Ini bukan rumahku yang nyaman di tepi desa. Rumahku tidak segelap ini. Bukan itu saja. Rumahku juga tidak sepengap ini. Hanya saja, ada satu hal yang sama. Rumahku dan ruangan ini sama-sama bau asap rokok. Aku masih terbaring di lantai basah dan lembab. Mataku memandang kosong ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada apa-apa. Aku benar-benar sendirian. Aku bangun dan bersandar di dinding yang juga lembab ketika kurasakan seseorang datang menghampiriku. Dia memegang tanganku. Dingin.

Aku beringsut menjauh dan meringkuk di sudut. Dia terus mendekatiku. Sesaat setelahnya, dia menyalakan lampu kecil di atas sebuah nampan yang dibawanya. Bukan lampu kecil saja. Di sekitar lampu terdapat beberapa piring bertudung mengilat. Tepat di depanku, dia meletakkan nampan itu. Aku memperhatikan dan meneliti setiap bagiannya. Nyala redup lampu kecil,  sebuah gelas berisi cairan merah pekat, dan piring yang telah dibuka tudungnya berisi makanan berwarna kehitaman.

“Ini. Makanlah! Sudah lama kamu tidak makan enak, bukan?”

Kurasakan perutku bergejolak. Sudah beberapa bulan terakhir aku memang jarang makan. Bukan tidak ada yang dimakan, tetapi memang aku sama sekali tidak memiliki nafsu makan. Aku sudah merasa kenyang ketika partikel asap rokok lebih dulu masuk ke dalam aliran darah di tubuhku. Selalu seperti itu. Tak heran, tubuhku tinggal kulit yang membalut tulang. Kurus kering.

“Kok, diam? Kamu tidak mau?”

Pertanyaannya membuatku kembali berusaha fokus pada makanan yang dihidangkannya.

“Makanlah! Ini kesempatanmu menikmati makanan.”

Aku menatap ke arah sumber suara itu.  Samar kulihat wajahnya begitu dingin menatapku.

“Ayo! Segera habiskan. Waktumu tidak banyak.”

Sedikit menunduk, dia menyodorkan nampan ke arahku. Tanganku menyentuh makanan itu dan merasakan tekstur lembut. Aku mengambilnya sepotong. Kubatalkan niat ketika melihat rongga-rongga yang ada di dalamnya. Aku hendak meletakkan kembali makanan itu, ketika tangan berjari-jari panjang itu mendorong pelan tanganku untuk menyuapkan makanan ke mulut. Aku menggigitnya sedikit. Lidahku merasakan sensasi yang berbeda. Tidak seperti masakan yang pernah kucicip sebelumnya. Aku pun segera menghabiskannya.

“Bagaimana? Enak, kan? Habiskan. Itu milikmu sendiri. ”

Kudengar tawa penuh cemooh membahana sampai dia kembali melanjutkan kata-katanya,  “Iya. Itu adalah paru-parumu sendiri. Sengaja aku masak untukmu. Sayang kalau dibiarkan. Tadi aku lihat terjatuh saat kamu pingsan di pinggir jalan.”

Aku melongo. Dengan spontan, aku pun meraba bagian dadaku. Kosong. Aku lalu melihatnya. Lubang besar menganga. Tanpa paru-paru. Hanya tinggal pangkal tenggorokan yang meneteskan darah kental. Keluar begitu saja bersama udara pengap yang kuhirup.

“Cukup! Waktumu habis!”

Aku melihat seseorang  berjubah panjang yang menyambung menjadi sebuah tutup kepala itu mengayunkan schyte yang berkilat-kilat.

Selanjutnya gelap.

– mo –

1255171_596220503797621_947247904_n

#CeritaKruBFG – Lelaki Bermata Sayu

“Lepaskan! Lepaskan aku! Kekasihku bukan kamu!”

“Ah! Kau tidak perlu meronta, Sayang. Aku hanya ingin memegang dadamu yang telanjang. Sedikit saja. Setelahnya aku tidak akan melakukan apa-apa. Boleh, ya?”

“Kurang ajar! Dasar gila! Aarrrggghhh!”

Tes. Tes. Tes.

Warna merah mengalir dari tengah dadamu. Pun dadaku. Zat berbau anyir itu perlahan turun hingga bermuara di ujung kakimu.

“Aku mencintaimu. Dari dulu. Tidakkah kau tahu, Kekasihku?”

“Tapi, aku tidak mungkin mencintaimu! Tidak akan pernah bisa! Aku tidak seperti kamu, Raymond! Cih!”

Aku mengusap wajah yang dipenuhi ludahmu.

“Teruslah meronta! Percuma! Kau tahu di sekitar sini tidak ada siapa-siapa! Hanya burung hutan yang sedang menunggumu,” kataku mencekik lehermu.

Hingga satu jam kemudian…

Di bawah kakimu yang terkulai layu, tergantung, tertinggal jarum jahit dengan ekor panjang benang merah. Juga sebilah pisau dapur berlumur darah. Satu per satu bergantian tugas. Perlahan namun pasti, sepotong hati, hatimu, melesak ke rongga dadaku. Memberi detak pada cinta diam-diam yang kupendam selama ini, padamu, lelaki bermata sayu.

~ mo ~

#CeritaKruBFG – DONA: Perlakuan Demi Pengakuan

“Apa yang kamu lakukan?!”

Dona tak mengacuhkan teriakanku. Dia terus mengangkat setumpuk buku dan meletakkannya dengan kasar dalam drum minyak yang terbuka bagian atasnya. Dia bergegas menyiramkan sedikit bensin ke dalamnya. Dan, sesaat setelahnya.

Wooshhh!

Api meliuk-liuk menjilat setiap sisi buku yang kucetak dan jilid sendiri. Dari kejauhan aku berusaha mencegah Dona yang hendak kembali masuk ke dalam rumah.

“Apa salah buku-buku itu?! Hah?! Bukankah kamu bilang kamu menyukai semuanya?!”

Kugoncang-goncangkan tubuhnya. Dia bergeming tanpa ekspresi. Akhir-akhir ini dia selalu begitu. Tiba-tiba diam tanpa pernah memberi tahu alasannya. Aku melihatnya sebagai kebosanan. Malam ini adalah puncaknya.

“Kamu benar-benar ingin tahu alasanku?!”

Dona akhirnya angkat bicara. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali berkata, “Aku mencintaimu, Do…”

“Kalau memang kamu mencintaiku, kenapa kau bakar semua buku karanganku?! Kenapa?! Kenapa?!”

Dona terisak. Bahunya terguncang setelah aku melepaskan cengkeraman.

“Aku enggak pernah sanggup secara terbuka mengatakan! Dengan membakarnya, aku berharap kamu sadar, bahwa aku ada! Untukmu! Bukan sekadar tokoh rekaan seperti yang sering kautuliskan.”

– mo –

~ mo ~

Cincin Mirah Delima

Di mana?

Aku mencari-cari cincin yang kuambil dari kekasihku setelah dia memutuskan memilih lelaki lain minggu lalu. Aku tidak punya pilihan selain membalas perlakuannya padaku yang telah rela menunggu.

Semalam, setelah merasa aman, aku meletakkannya di atas meja sebelum akhirnya ketiduran. Sampai pagi membangunkanku. Cincin itu hilang.

Jangan-jangan ibu?

Ah! Tidak mungkin. Apa urusannya. Toh ibu sudah menjadi orang asing bagiku sejak dia tidak menyetujui hubunganku dengan Sinta, setahun lalu saat kuputuskan bertunangan.

Sekarang, sepertinya ibu benar. Sinta bukan jodohku. Kesungguhanku bukan jaminan. Apalah aku yang hanya penulis serabutan.

Ciittt! Ciittt!

Suara itu tiba-tiba mengalihkan perhatianku dari meja. Aku mendekat, menelanjangi bawah lemari. Sekali dorong, kotak persegi dari plastik itu bergeser, bersamaan dengan seekor tikus berlari.

Cincin mirah delima itu berpindah ke tanganku. Kuperhatikan setiap sisinya. Tidak ada cacat. Beberapa bagian masih merah, termasuk bagian bekas gigitan tikus.

Ah! Semalam setelah membuang mayat Sinta, aku lupa langsung memasukkan jari manis kekasihku itu ke dalam toples berisi larutan formalin yang telah kusiapkan.

Prompt #33 – Perayaan Rasa

– Credit –

“Aku ngerti perasaanmu.”

Raymond meletakkan kedua tangannya di atas meja bundar berlapis taplak merah motif bunga-bunga. Wajahnya berbinar ditimpa cahaya lilin yang bergoyang oleh angin. Tatapannya tepat ke arah perempuan bergaun merah di hadapannya.

Sementara di seberang mejanya terdengar suara seorang perempuan, “Makasih udah ngertiin aku selama ini. Aku bener-bener bahagia.”

Romantisme malam kian menghanyutkan saat suara Natalie Cole terdengar mengalun lirih dari pengeras suara yang di pojok restoran bergaya klasik dengan pilar-pilar tinggi itu. Liriknya sangat pas dengan yang sedang dialami oleh Raymond dan Joanna. Tentang ketika rasa dijatuhkan pada sebuah hati sebagai pelabuhan terakhir.

And the moment I can feel (feel that) that

Sambil meresapi makna setiap lirik lagu When I Fall in Love yang didengarnya, Joanna meletakkan kedua tangan di atas telapak tangan lelaki yang mengenakan setelan jas hitam lengkap di hadapannya.

Raymond menarik ujung bibirnya membentuk lengkungan sebelum akhirnya angkat bicara, “Enggak papa, kok. Aku juga bahagia. Kamu juga, kan?”

Tidak dipungkiri, di balik kata-katanya, sesak tiba-tiba merambat di rongga dada Raymond. Penuh yang tiba-tiba menjelma bening hendak terjatuh.

Perempuan berambut sebahu itu menarik kedua tangannya dan menatap lekat lelaki yang paling memahaminya sejak mereka sama-sama masih kecil.

Hingga akhirnya, malam ini, di restoran kecil pinggir kota menjadi saksi kepastian sebuah hubungan. Keputusan yang diambil untuk kebaikan bersama. Tidak ada pemaksaan.

“Iya. Sekali lagi makasih untuk waktumu. Juga untuk semua rasa yang membuatku mengenal arti indahnya dunia. Aku bahagia. Sekarang adalah waktunya. Lakukanlah!”

Raymond pun kembali mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya berat diucapkannya, “Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Ini yang terbaik,” sejenak dia menarik napas sebelum melanjutkan kata-katanya, “oya, aku tinggal ke toilet bentar, ya?”

Joanna. Perempuan yang baru saja mendengar ungkapan rasa dari lelaki pujaannya hanya terdiam. Setelahnya, dia pun akhirnya memutuskan menyusul Raymond ke toilet.

Di depan toilet restoran, Raymond yang tahu Joanna mengikutinya sengaja menunggu. Dia bersandar di dinding dekat pintu masuk. Sesaat kemudian, Joanna, perempuan berambut sebahu yang juga orang terdekatnya di kampus itu, ikut berdiri di sampingnya.

Raymond dan Joanna hanya saling pandang dan melempar senyuman, lalu berbalas pelukan. Ini adalah saatnya untuk mulai mengukir kisah indah mereka. Kini, keduanya melepas pelukan dan kembali bersandar di dinding.

Oleh bias cahaya lilin, penglihatan mereka lurus menatap ke arah kursi bekas duduk Raymond telah diisi oleh seorang lelaki dengan setelan jas hitam lengkap yang berpindah dari kursi seberang meja bundar. Dia sedang menyodorkan kotak berisi cincin pengikat masa depan bersama. Sementara seorang perempuan bergaun merah yang duduk di hadapannya menerima dalam senyuman termanisnya.

“Semoga usaha kita enggak sia-sia dan mereka berdua bisa bahagia selama-lamanya, ya,” kata Joanna menarik tangan Raymond keluar restoran, meninggalkan dua sahabat yang telah mereka ikhlaskan melepasnya untuk merayakan rasa dalam sebuah makan malam istimewa, berdua.

~ mo ~