[Penjualan Khusus] Di Penghujung Pelukan

Featured[Penjualan Khusus] Di Penghujung Pelukan

Adalah kehilangan. Segala yang seringkali terjadi tanpa diharapkan. Pun bagian kehidupan yang terkadang melahirkan kedukaan. Namun, bukan saja perihal kesedihan. Disadari atau tidak, kehilangan bisa saja merupakan rahasia kebahagiaan dalam skenario Tuhan.

Adalah kehilangan. Bisa berupa apa saja. Pun dialami siapa saja. Termasuk tokoh-tokoh dalam sehimpun cerita yang memiliki beragam kisah kehilangannya. Bisa jadi, pada salah satunya kau pernah merasakan kehilangan yang sama.

***

Benar adanya jika kehilangan tak selalu berwajah duka, terkadang ia berwajah tawa dalam skenario Tuhan. Keduanya dibidik melalui sehimpun cerita kehilangan oleh dua orang penulis yang berkolaborasi, Iit Sibarani dan Momo DM. Melalui cerita yang mereka tulis berdua, ada pesan tersirat yang ingin disampaikan bahwa kebahagiaan selepas kehilangan itu ada.

Sebanyak sebelas cerita dalam buku ini masing-masing ditulis berdua. Kesamaan pemilihan kata dan gaya penulisan menjadikan masing-masing cerita seperti ditulis oleh satu orang saja, merupakan kekuatannya. Beragam cerita dengan satu tema kehilangan yang begitu dekat dengan keseharian bukan tidak mungkin pernah dirasakan oleh khalayak pada umumnya. Hati-hati banyak luka di dalamnya. Tak terkecuali duka. Namun tak sedikit juga suka.

Bekerja sama dengan beberapa toko buku online, pihak Penerbit Media Kita melakukan promo penjualan khusus selama sebelas hari dari tanggal 11 sampai 22 Mei 2017.
Penjualan khusus buku bertanda tangan penulis dengan potongan harga 20% dan bonus travel pouch dapat dipesan di toko buku online berikut:

  • bukukita.com ~> Pesan klik di sini (atau WA 081285000570);
  • buku-plus.com ~> Pesan klik di sini (atau WA 089628519266);
  • republikfiksi.com ~> Pesan klik di sini (atau WA 087885575247);
  • grobmart.com ~> Pesan klik di sini (atau Line @grobmart); dan
  • buku kece ~> Pesan di Line @bukukece.

Ayo pesan pelukanmu sekarang! Jangan sampai kehabisan karena stok sangat terbatas.

(mo)


Advertisements

#MyCupOfStory – Kopi Samsudin

#MyCupOfStory – Kopi Samsudin

“Bapak ndak mungkin pulang, Buk!”

“Kamu tahu apa tentang bapakmu, Mirna?”

Mirna pun terdiam. Ia tahu sore ini ibunya tidak akan berubah pikiran seperti hari-hari sebelumnya. Perempuan berusia enam puluh tahun itu tidak akan peduli apa pun perkataannya jika menyangkut bapaknya. Pemilik tubuh kurus itu akan tetap melakukan rutinitas seperti biasa. Menyeduh secangkir kecil kopi hitam lalu meletakkannya di meja teras rumah. Rutinitas yang seingat Mirna sudah dilakukan ibunya selama di rumah, setiap kali ia pulang merantau dari negeri jiran. Dan selama itu pula, ibunya memiliki keyakinan kalau bapaknya akan pulang untuk menghabiskan kopi hitam buatannya.

Continue reading “#MyCupOfStory – Kopi Samsudin”

CERPEN – Imaji

Ramalan Pisces

Dua tahun berlalu. Adikku sudah cukup besar untuk menentukan hidupnya sendiri dengan memilih berpisah dari keluargaku. Sementara kehidupan rumah tangga Papa dan Mama bukan lagi surga kecil bagiku. Semua telah berubah. Pun denganku. Banyak hal dalam diriku kurasakan berbeda. Tingkah laku, cara berpikir, dan bahkan tentang perasaan cinta. Cinta yang datang tiba-tiba sedikit demi sedikit menurunkan kemampuan akal sehatku untuk berpikir. Jangankan berpikir, sekadar mengingat orang-orang sekelilingku pun, aku mengalami kesulitan. Satu-satunya orang yang kuingat saat ini adalah Papa.

Aku sendiri sebenarnya juga bingung dengan keadaan ini. Papa. Iya. Papa. Entah mengapa tentang Papa tak ada satu hal pun yang bisa aku lupakan. Aneh, kan? Iya. Seperti itulah diriku saat ini. Aneh menurut orang yang tidak aneh. Padahal, sejatinya bagiku justru mereka yang aneh. Bersikap palsu dalam kenyataan untuk mengakui perasaan terdalamnya. Dalam kondisiku yang sekarang setidaknya aku bisa lebih jujur dengan diriku. Tentang cinta yang bagi sebagian orang menganggapnya tabu.

Dan, cinta itu kini telah berhasil membunuh sebagian jiwaku. Bukan cinta yang salah, tapi aku yang terus-menerus membiarkan perasaan itu berkembang tanpa kendali. Bahkan, sampai menerobos batas kewajaran. Salah? Aku rasa tidak. Bagiku cinta harus diperjuangkan semampunya. Meskipun, pada akhirnya rasa ini justru menyakitiku, tapi aku sudah tidak peduli. Ketidakseimbangan koordinasi syaraf adalah penyebabnya. Penolakan oleh orang sekitar, terutama Mama, membuatku semakin jauh tenggelam dalam kesedihan. Tunggu! Mama? Apakah aku punya Mama? Sebentar. Aku butuh waktu lama untuk mengingat tentang sosok Mama.

Semakin berusaha mengingatnya, sekujur tubuhku terasa semakin dingin. Seperti saat ini. Dingin yang begitu menusuk tulang membuat tubuhku terasa kaku. Sekuat apa pun aku berusaha, yang kutemukan hanya bayangan Mama sedang tertidur di sebuah ruangan. Itu saja. Mengingatnya membuat syaraf-syaraf sudut bibirku tertarik membentuk sebuah lengkungan dan membuat bola mata bergerak-gerak dalam kegelapan kelopak yang menutup.

***

“Krak!”

Lamat-lamat aku mendengar suara pintu dibuka. Jari-jari tanganku bergerak-gerak. Dingin perlahan menjalar merangsang syaraf mataku untuk sedikit terbuka. Samar. Dengan sedikit mengerjap, bayangan benda perlahan mulai fokus. Benda-benda terlihat begitu samar. Semakin aku berusaha keras untuk melihat, kepalaku terasa semakin cepat berputar. Beruntung ikatan di kedua pergelangan tangan cukup membantuku untuk tetap berdiri, tanpa tenaga sama sekali. Satu-satunya kekuatan adalah harapan, bahwa aku masih hidup. Telapak kakiku tidak bisa menapak sempurna di lantai yang licin. Bahkan kepalaku terkulai seperti membawa beban berat dengan rambut menutupi sebagian wajah.

Kesadaranku tidak serta merta pulih. Butuh waktu agak lama, hingga aku benar-benar sadar kalau ini bukanlah mimpi. Setelah berhasil menyatukan kerja seluruh sistem organ tubuhku, aku bisa mendongakkan kepala. Retina mataku menangkap bayangan benda-benda yang tampak abu-abu. Semuanya nyaris sama. Kesadaranku agak pulih, saat lensa mataku melihat sesosok perempuan menggunakan pakaian terusan berwarna hijau muda. Otakku menerjemahkan bayangan itu sebagai aku. Iya. Aku. Tunggu! Kenapa aku bisa melihat bayanganku sendiri? Perlahan susunan sistem syaraf otak mulai melakukan tugasnya, menganalisa dan meneruskan pada organ mata, bahwa ini adalah dinding kaca. Dinding kaca? Di mana aku?

“Kamu sudah bangun, Cess?”

Sanggurdi telingaku menangkap impuls suara yang belum terdengar sempurna. Butuh waktu agak lama untuk menemukan dan mengenali sumber suara. Syaraf sensorikku sepertinya belum sinkron dengan sumber rangsang yang ada. Semua masih samar. Indera pendengaran, penglihatan, dan lainnya belum mampu mengantarkan pesan ke otak secara benar. Sampai akhirnya, waktu itu tiba. Susunan syaraf pusat dan tepiku mulai bekerja.

Di balik dinding kaca, seorang perempuan berkaca mata tebal dengan rambut hitam disanggul, tampak mondar-mandir di luar dinding kaca. Dia membelakangiku dengan terusan serupa yang kupakai. Siapa dia?

“Syukur kalau kamu sudah bangun.”

Rangsang suara kembali menuju otakku.

“Mama?”

Suara langkah dari seorang perempuan paruh baya yang kupanggil sebagai Mama perlahan mendekat. Langkahnya terhenti pada sebuah mesin tepat di depan tempatku berdiri. Tangannya menyentuh sebuah tombol berwarna merah. Pintu dinding kaca pun terbuka.

Kurasakan kedua pergelangan tanganku sudah bebas. Tak ada lagi ikatan. Perlahan Mama memapahku ke sebuah tempat tidur.

“Berbaringlah.”

“Iya, Ma.”

Mama meninggalkanku menuju panel di sebelah kanan tempat tidur. Tak sekalipun mataku terlepas darinya. Dengan cekatan Mama menekan tombol. Seketika dari bagian bawahnya keluar rak yang mengeluarkan asap dingin. Mama mengambil salah satunya yang berwarna biru. Cairan dalam tabung reaksi itu berpindah ke jarum suntik yang dipegangnya.

“Kamu siap, Cess?”

“Siap, Ma,” jawabku yakin.

Mama telah memberitahukan persentase keberhasilan penelitiannya kali ini. Aku pun tahu risiko yang mungkin bisa saja terjadi padaku. Tapi, demi Mama, aku rela melakukannya. Sebenarnya bukan demi Mama saja, tapi juga diriku. Ada banyak kebenaran yang disembunyikan orang-orang di sekitarku, terutama Papa.

Formula yang disuntikkan Mama sepertinya mulai bekerja. Sel-sel darahku mulai kehilangan kendali. Termasuk sistem peredaran darah menuju otak. Aku terpejam menahan denyut kepala yang tak tertahankan dengan tubuh kadang berguncang.

“Ahh! Sakit, Ma! Sakit!”

Semenit, dua menit, dan lima menit pun berlalu. Aku tak lagi meracau. Kulihat Mama berdiri di sampingku, tersenyum memegang tanganku.

“Nah! Beres!”

“Apanya yang beres, Ma?”

Mama tampak terkejut dengan pertanyaanku. Sejenak kemudian, rasa terkejutnya menjadi sebuah senyuman.

“Berhasil. Bahkan, Mama tak perlu mengeluarkan kata-kata dalam pikiran, kamu udah bisa ngebacanya,” kata Mama yang membuatku semakin bingung dengan banyak kode yang bertebaran dalam pikiran Mama.

***

Di ruang tengah, Mama mengeluarkan instruksi-instruksi, hanya lewat pikiran. Aku pun mampu menerjemahkannya sebagai perintah yang harus diikuti.

“Iya, Ma.”

“Sekarang berangkatlah. Sebelum Papamu pulang dari Singapura.”

Aku mengangguk dan berpamitan untuk berangkat kuliah. Di kampus, aku langsung menuju ruang mading. Aku tahu, seseorang yang kucari ada di sana.

“Hei!”

Dugaanku tepat. Dia memang ada di sana. Seorang gadis seusiaku dengan menggunakan baju flanel, celana jeans dan sepatu sport menuju ke arahku. Cara berpakaian yang sama sekali berbeda dengan gadis seusianya. Tapi, justru itu menunjukkan jiwa petualangnya.

“Hallo!”

Aku membalas sapanya dan langsung memeluknya. Seminggu tak ada komunikasi benar-benar membuatku rindu pada sahabatku yang satu ini, Ariana. Meskipun, beda jurusan, tapi kedekatanku dengannya benar-benar terjalin sempurna. Perlahan kulepaskan pelukan saat menyadari banyak sekali pertanyaan dalam pikiran Ariana tentangku perihal aku yang menghilang.

“Oke. Cukup, Ariana.”

“Maksud elo apa, Cess?”

“Oh… Eh… Enggak papa, kok. Eh… Kantin yuk! Gue traktir, deh.”

“Eh… tumben. Emang hari ini elo ulang tahun? Tapi, sekarang, kan, tanggal 27 Maret? Ulang tahun elo bukannya tanggal 2 Maret, Cess?”

“Bawel, ah!”

Aku gandeng tangannya menuju kantin kampus. Banyak hal yang ingin aku korek dari Ariana. Tentang segala hal yang diketahuinya terkait hubungan kakaknya, Ratri, dengan papaku.

Di kantin, aku mengajak Ariana duduk di pojok yang sepi. Aku yakin di sini adalah tempat yang aman.

“Eh… Elo kenapa tumben kusut gitu, Ar? Ada masalah apa?”

“Jadi gini, Cess.”

Ariana tampak menghela napas. Sepertinya ada beban dalam hatinya yang ingin dikeluarkan. Dan, gilanya, aku justru menghilang saat dia membutuhkan.

“Gimana? Gimana?”

“Gini, Cess. Saat libur dua minggu kemarin, gue ada rencana jalan-jalan.”

“Terus?”

“Tapi, ya gitu. Elo tau, kan, gimana kakak gue?”

“Kakak elo yang hobi jalan sama om-om itu?”

“Heh! Kurang ajar elo! Gitu-gitu dia kakak gue tahu!”

Suara Ariana tiba-tiba meninggi. Hal ini membuatku sedikit terkejut.

“Maaf, deh,” kataku merajuk.

Ariana mendadak terdiam. Aku tahu dia tersinggung dengan kata-kataku. Diletakkannya sendok bakso di mangkoknya dengan agak kasar. Bunyi yang tercipta membuatku tersentak.

“Ar… Elo mau, kan, maafin gue?”

“Sebenernya gue enggak susah maafin orang. Untung aja elo sahabat gue. Oke, Cess. Lupain. Omongan elo sebenernya ada benernya juga, si. Dan, elo tahu, gara-gara itu rencana jalan-jalan gue gagal total. Damn!”

Sekarang waktunya. Kugeser dudukku lebih dekat lagi dengan Ariana. Dengan sekali tepukan pelan di punggungnya, Ariana menceritakan segala hal tentang Ratri, sekretaris pribadi Papa. Dari ceritanya, aku tahu, Ratri sama sekali tidak ada keinginan untuk menggoda Papa. Hanya saja, kebetulan dia diajak Papa pergi ke Singapura dalam rangka tugas. Karenanya Ariana dan saudara kembarnya tidak bisa ke mana-mana karena harus menjaga ayahnya yang sakit keras.

“Maafin gue, ya, Ar. Semoga bokap elo cepet sembuh.”

“Thanks, Cess.”

Sekali tepuk di punggungnya, Ariana kembali ke keadaan semula.

***

Sepulang kuliah, aku menemui Mama di laboratoriumnya. Mama menyuruhku berbaring untuk mengecek kondisiku. Aku pun melaporkan tentang segala informasi yang kuperoleh. Tak ada sedikit pun yang terlewat. Aku bangun dengan Mama duduk di sampingku. Iseng kutepukkan tanganku ke punggung Mama.

“Apa rencana Mama selanjutnya?”

“Entahlah, Cess. Mama hanya ingin pergi jauh dari Papa. Mama enggak sanggup kalau terus-menerus kayak gini. Banyak hal yang berubah pada Papa sejak beberapa bulan yang lalu.”

“Mama mau ninggalin Papa?”

“Kayaknya, iya.”

“Sendirian?”

“Enggak. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut Mama, asal kamu bisa menerima kehadiran asisten baru Mama.”

“Asisten? Kok Mama enggak pernah cerita, si? Siapa dia?”

“Dia masih baru. Selain sebagai asisten, dia juga sangat pinter bikin Mama bahagia. Di mana pun dan kapan pun. Enggak kayak Papa kamu.”

Aku semakin penasaran dengan cerita Mama. Aku sama sekali tidak menyangka, ternyata selain aku, Mama juga menyimpan rahasia. Secara saksama, aku mendengarkan cerita Mama. Sampai akhirnya, sebuah nama meluncur begitu saja dari bibir Mama, Ronald.

Ronald? Iya. Ronald adalah alasan utamaku mendukung penuh Mama untuk mengungkap perselingkuhan yang dilakukan Papa. Aku tidak ingin Mama mengalami hal yang sama denganku, menjadi korban perselingkuhan. Tapi, kenyataannya, ternyata justru Mama sendiri juga berselingkuh — dengan kekasihku.

Amarah pun akhirnya memuncak. Aku merasa selama ini Mama telah memanfaatkan aku demi tujuan pribadinya. Sebuah keinginan untuk mencari pembenaran atas apa yang dilakukannya. Bersamaan dengan itu, ada pesan masuk dari Papa yang mengabarkan kepulangannya hari ini, sekaligus memberikan sebuah instruksi.

Aku turun dari tempat tidur membiarkan Mama bercerita tanpa kontrol tentang kedekatannya dengan Ronald. Kedekatan yang sudah seperti suami istri. Secepat kilat kutekan tombol pada panel di samping tempat tidur. Rak berisi cairan terbuka. Kucari botol bertuliskan ‘racun’. Setelah menemukannya, cairan itu pun berpindah ke jarum suntik di tangan kananku. Sekali tusuk, tubuh Mama terkulai lemas di tempat tidur dengan kaki menggantung. Sejenak kemudian, tubuhnya mengejang dengan mulut mengeluarkan banyak busa. Mama terkapar.

Prok! Prok! Prok!

Suara tepuk tangan terdengar di pintu laboratorium. Seorang lelaki gagah muncul. Aku menyambutnya dengan pelukan.

“Gimana, Pa? Aku berhasil, kan?”

“Iya, Sayang. Dengan begitu enggak akan ada lagi yang mengganggu hubungan kita berdua. Kita akan bisa hidup bahagia selamanya, Sayang. Kamu mau, kan?”

Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan Papa. Jawaban yang menjadi rahasia selamanya, termasuk menyembunyikannya dari Mama dengan caraku sendiri. Ketakutan-ketakutan yang akhirnya terus-menerus merajam setiap syaraf sadarku.

***

Dingin di sekujur tubuhku. Bola mata bergerak-gerak dalam kegelapan kelopak yang sedikit demi sedikit terbuka.

“Kamu udah bangun, Cess?”

“Kamu si… siapa?”

“Aku mamamu, Cessa. Kamu enggak inget?”

“Ma… Ma?”

“Iya. Ini Mama.”

Aku terdiam. Tak percaya. Bagaimana mungkin Mama tiba-tiba berada di sini. Bukankah aku telah membunuhnya di laboratorium?

“Enggaakkk! Enggak mungkin!”

Kulihat matanya sembap menatap ke arahku. Tangannya halus membelai rambutku yang kusut. Sesekali dia meraba pergelangan tanganku yang terikat ke ranjang. Aku tahu, aku berada di tempat yang berbeda. Ini bukan di laboratorium. Aku sedikit melotot menatap seorang pria yang berdiri terdiam di sampingnya. Terlebih saat ada seorang pria lagi memakai jubah putih memasuki ruangan.

“Gimana kondisi anak saya, Dok?”

“Setelah hampir seminggu dia seperti ini, saya butuh waktu untuk menganalisa kondisinya lagi.”

“Ada kemungkinan dia bisa sembuh, kan, Dok?”

“Kemungkinan sembuh pasti ada, Pak. Saya akan berusaha. Sementara Bapak dan Ibu, jangan lupa berdoa.”

“Iya, Dok.”

“Oya, maaf, Pak, Bu. Jam besuk sudah habis. Saya harus memeriksa kondisi kejiwaan anak Bapak dan Ibu lagi. Tolong tinggalkan ruang perawatan ini.”

“Iya, Dok.  Terima kasih.”

Aku mendengar percakapan yang sebenarnya tak kumengerti. Ruang perawatan? Kenapa aku bisa di sini? Kondisi kejiwaan? Apakah aku sakit jiwa?

Aku berteriak saat kulihat seorang perempuan yang mengaku sebagai mamaku tertunduk meninggalkan ruangan.

“Tungguuu! Kamu bukan mamaku. Mamaku sudah mati!”

Dia tidak memedulikan teriakan histerisku. Aku terus meronta berusaha melepaskan diri dari ikatan di  tanganku. Sementara perempuan itu meninggalkan ruangan, sang pria justru berusaha mendekatiku.

“Kamu yang tabah. Mamamu ada tawaran penelitian ke Singapura bersama Ronald sebagai asistennya. Mereka akan menetap di sana. Mungkin selamanya. Papa yang akan menjagamu.”

Dia pun lalu menghilang mengikuti si perempuan. Perlahan seorang lelaki berjubah putih menusukku. Setelahnya, syaraf sadarku perlahan kembali tidak berfungsi, lenyap bersama semua imajinasi yang berada tipis di samping kenyataan hidup yang kujalani selama ini. Senyap.

 – mo –

Bukan (Lubang) Perawan

Kau tak perlu buru-buru menyebutku sebagai anak nakal. Suka keluyuran malam sendirian ke taman, lalu berkenalan dengan preman-preman. Aku hanya tidak tahan. Hampir setiap hari aku melihat sebuah pertengkaran. Adu mulut yang akhirnya berujung pada pemukulan. Semua terekam jelas dalam ingatan. Bahkan saat kau perlahan jauh meninggalkan. Mencari kehidupan. Seperti itu yang pernah kaukatakan.

Kau lantas menghilang di ujung jalan. Sementara ibu, harus membesarkan empat orang anaknya, sendirian. Salah satunya adalah aku, Tuan. Seorang anak lelaki kelas lima SD berusia belasan.

Dengan sayap yang memikat, aku pun akhirnya hidup di taman. Hinggap dan berpindah dalam setiap pelukan ke pelukan. Bukan kenikmatan. Aku hanya rindu dua tanganmu yang menghangatkan, Tuan.

Malam ini, aku kembali menyusuri ingar-bingar taman. Redupnya lampu adalah sebuah pemandangan. Menggodaku untuk meneruskan berjalan. Hingga sebuah sudut kutemukan. Di sana, seorang laki-laki seusiaku duduk sendirian. Lalu, kau pasti tak tahu apa yang terjadi, bukan?

Aku dan laki-laki mungil itu, sebut saja Alfian, berbagi kenikmatan. Berdua menggulung diri dalam asap putih yang menenangkan. Memang terlalu dini bagi usiaku yang belasan. Namun, aku sama sekali tak memahami itu sebagai perbuatan. Toh, ibu juga tak sempat mengingatkan.

Hingga larut, aku dan Alfian masih melagukan masing-masing kesedihan. Tanpa aku sadari, bahkan aku sudah tidak sedang berduaan. Di samping Alfian telah duduk dua orang lelaki dewasa yang berbincang penuh keakraban. Tanganku pun terjulur untuk bersalaman. Mereka adalah Anton dan Adrian. Malam pun akhirnya penuh tawa yang menyenangkan. Seharusnya tawa itu juga bisa kurasakan saat bersamamu, Tuan.

Perbincangan pun menemui titik kesepakatan. Dua lembar uang kertas seratus ribuan pun mereka ulurkan. Ke dalam saku celana, aku bergegas memasukkan. Tidak berhenti di situ saja, Tuan. Kau pasti akan terkejut saat mengetahui kalau aku menerima sebuah ajakan. Iya. Sekadar ajakan untuk jalan-jalan. Hati mana takkan riang saat terbayang perjalanan yang menyenangkan. Seharusnya itu bersamamu, Tuan. Tentu akan lebih membahagiakan.

Sepanjang perjalanan menuju kota tujuan, mataku disuguhi bayangan warna-warni dari kotak persegi berbagai adegan. Dua orang laki-laki sedang berbagi kenikmatan. Tak terkecuali telingaku yang mendengar erangan bercampur lenguhan. Ini adalah pertama kalinya aku mengenalnya sebagai pengalaman.

Sebuah perjalanan hampir satu jam yang akhirnya membawaku tiba di sebuah salon kecantikan. Lelaki bernama Anton yang biasa dipanggil Ses Anti adalah pemilik tempat di pinggir jalan. Dan, kau pasti tahu apa yang selanjutnya terjadi, Tuan. Iya, Tuan. Aku menjadi budak nafsu setan dalam panjangnya sebuah tangis kesakitan. Maaf, Tuan. Setelahnya aku bukanlah perawan.

Usiaku yang masih belasan membuatku takut terhadap ancaman. Hingga dalam perjalanan pulang, pelecehan kembali aku dapatkan. Di tempat berbeda dengan jarak tempuh hampir satu jam dari salon kecantikan. Kedua kalinya, aku kembali tak perawan. Bukan oleh Anton, Tuan. Namun kali ini giliran Adrian. Untuk kedua kalinya, aku hanya bisa menahan air mata kesakitan.

Setelah tersalurkan, aku pun kembali menuju rumah yang penuh kehangatan. Tentu saja tanpa dirimu di dalamnya, Tuan. Kau telah pergi meninggalkan untuk menemukan kebahagiaan hidup baru sendirian.

Di depan rumah, ibu menyambutku dengan pertanyaan-pertanyaan. Penuh kemarahan. Aku sama sekali tak memiliki keberanian melakukan pembelaan. Dengan kejujuran, aku pun menceritakan. Seharusnya ada kau juga di sana menenangkan, Tuan. Beruntung ibu cukup sabar dalam mengambil tindakan. Ia bergegas menghubungi polisi untuk melakukan penyelidikan.

Saat ini, aku telah mendapat keadilan dari berbagai bantuan. Hanya saja, luka ingatan tetap saja tak mau pergi begitu saja meninggalkan. Lalu, kapan kau akan datang untuk menyembuhkanku, Tuan?

– mo –

*terinspirasi dari kisah nyata anak laki-laki korban korban kekerasan seksual*

Di Balik Tembok Merah

Ada dengus napas. Tersengal-sengal. Kelelahan terlihat di wajahku yang pias. Kedua kakiku menapak goyah di lantai keramik warna kuning kusam. Sebagiannya sudah retak. Di depanku, duduk seorang perempuan berambut pirang. Terdiam. Sepertinya juga sama-sama menunggu.

“Hai!”

Aku memberanikan diri menyapa gadis bermata biru itu. Dia masih terdiam. Bahkan senyumku pun tidak dibalasnya. Aku tak menyerah. Sambil mengatur pernapasan, aku menatap lurus ke arah gadis bersyal biru. Ada keinginan untuk lebih tahu tentang siapa dirinya. Hanya saja, kata-kata tak lebih dari sekadar aksara yang berdiam di rongga dada. Aku membisu. Hanya bisa memandangi tubuh yang dibalut kaos panjang warna merah muda. Sungguh perpaduan sempurna.

“Hai!”

Aku kembali memberanikan diri. Debar pun menjelma samar-samar. Detak teratur begitu jelas di dadaku. Terlebih saat bibir mungilnya yang dipoles lipstick merah muda sedikit terbuka. Aku bergegas mengeluarkan sebuah tanya, “Namamu siapa?”

“Aku Sepi.”

Setengah tak percaya, aku berusaha mendekat. Semakin jelas olehku, sepasang kakinya yang jenjang dalam celana panjang putih berbahan jeans.

Betapa luar biasa selera fashionnya.

Aku menghentikan langkah tepat dua keramik ukuran 50 cm di depannya. Dia kembali terdiam. Memandang kosong ke arah depan. Tidak ke arahku.

“Akan tiba waktumu menjadi aku.”

Deg!

Detak seolah berhenti mendadak. Aku terpaku pada kedua kakiku yang kaku. Bahkan tak tersadarkan oleh suara peluit tukang parkir yang bersahutan. Juga oleh riuh kendaraan bermotor yang lalu-lalang. Aku benar-benar tertegun. Pada sebuah ucap yang seketika melahirkan banyak tanda tanya di kepala.

“Apa maksudnya?”

“Kenapa dia bicara seperti itu?”

“Kapan waktu itu tiba?”

“Siapa penyebabnya?”

“Di mana akan terjadi?”

“Bagaimana bisa menimpaku?”

Setelahnya, hening. Aku larut dalam kebisuan panjang dalam tatap mata kosong.

“Iya. Kamu akan menjadi seperti aku, ketika kamu masih juga merasakan sepi dalam keramaian.”

Sederet kalimat meluncur begitu saja dari bibir tipisnya. Aku memahaminya sebagai sebuah petuah. Tapi, siapa dia? Apa haknya memberikan petuah padaku?

“Tenanglah, Anak Muda! Bukan kamu saja. Setiap yang pernah menikmati keriuhan, akan tahu arti sebuah kesepian.”

“Tunggu!”

Aku berteriak ke arahnya. Dia masih dalam posisi yang sama.

“Kenapa kamu berkata seperti itu?”

Dia sejenak terdiam sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya, “Ada masanya, kamu akan merasa sepi saat tidak dianggap oleh orang-orang di sekitarmu. Kamu takkan lebih dari sebuah pajangan. Seperti aku. Karenanya, jangan biarkan hatimu sepi. Riuhkan dengan doa-doa, agar kamu tetap bisa berguna untuk sesama. Dengan begitu, pertanyaan dalam hatimu tidaklah akan berguna.”

Aku mengangguk, pelan, lalu meninggalkannya sendirian. Di balik tembok merah tempatku sembunyi dari keramaian, di dalam kaca sebuah pertokoan.

– mo –

Elegi Tiga Hati

1| Tuntutan Menentukan Hati

“Pokoknya aku!”

“Tidak bisa! Harus aku!”

Suara pertengkaran terdengar sangat jelas. Bahkan mengalahkan debur ombak yang ada di depan Biru. Tubuhnya setelah menempuh perjalanan hampir dua jam dari Lombok untuk mencapai kawasan Nusa Dua ini cukup terasa lelah. Bukan hanya fisiknya, tetapi juga hatinya. Ini adalah keputusannya bersama dua orang teman kantornya untuk menerima tawaran menyepi, menenangkan kecamuk dalam hati. Dan, mereka sepakat untuk bertemu di sini, The Bay Bali.

Mereka bertiga tidak datang bersamaan. Pun tempat menginapnya. Mereka bertiga menentukan jalannya sendiri menuju tempat ini. Masing-masing butuh waktu untuk bisa memahami debar hati yang bergejolak saat sama-sama mencintai. Cinta yang tumbuh dari sebuah kebersamaan selama hampir tiga tahun di tempat kerja yang sama. Memang awalnya dia tidak begitu saja tergoda hatinya. Hingga akhirnya, pihak keluarga setengah memaksa dirinya untuk segera menentukan pendamping hidupnya. Di usianya yang sudah hampir tiga puluh tahun, adalah waktu yang tepat untuk segera menentukan pilihan. Hanya saja, dia bukanlah tipe penebar cinta. Dia lebih menikmati kesendiriannya, larut dalam pekerjaan dan menekuni hobinya, traveling ke berbagai kota dan negara.

Byur!

Lelaki berhidung mancung itu membiarkan tubuhnya basah dicumbu ombak. Setelah puas, dia pun memilih merebahkan tubuhnya di kursi panjang di bawah payung putih. Tatapan matanya menjelajah sepanjang pantai berpasir putih itu. Berpasang-pasang orang tengah menikmati senja yang sama, berdua. Beberapa di antaranya bergerombol dengan kelompoknya. Tampak olehnya seorang lelaki muda sedang memutar lensa kamera, tak jauh darinya. Dia mengenali lelaki itu sebagai Surya. Dia yakin, Surya baru saja tiba. Melihat Surya asyik memindahkan objek keindahan ke dalam lensa kameranya, dia membiarkannya. Dia tahu, sahabatnya itu sedang tidak mau diganggu. Pun dirinya.

Dalam rebahnya, mendadak lelaki dengan potongan rambut pendek rapi itu menemukan bayangan ibunya, orang tua satu-satunya yang tak lagi muda. Hingga ingatan akhirnya mengantarkannya pada suatu malam saat mereka bersama, menghabiskan waktu menikmati jagung bakar di wilayah Senggigi. Tak jauh dari rumahnya.

“Ru… Apa lagi yang kamu tunggu?”

Biru meletakkan tongkol jagung yang telah dihabiskannya. Matanya lekat ke arah perempuan yang rambutnya sudah tidak hitam lagi itu.

“Doakan saja, Ma. Nanti pada waktunya Biru juga akan menikah dengan orang yang tepat.”

“Mama tidak pernah lelah mendoakan kebahagiaanmu, Ru. Tapi apalah arti doa, jika kamu sendiri masih enggan untuk berusaha menjemput bahagia itu.”

Deg!

Kata-kata mamanya membuatnya agak tersentak. Debar dirasakan begitu tak beraturan. Ini untuk pertama kalinya mamanya menanyakan perihal kebahagiaan sebuah pernikahan. Dia tidak menyalahkan mamanya. Bagaimanapun juga, dia adalah anak satu-satunya. Bagi mamanya, kebahagiaannya adalah bisa melihat dia bahagia.

Jejak tapak kaki lelaki pemilik alis tebal itu tertinggal di atas hamparan pasir putih di bawah langit yang merona jingga. Dia pun perlahan menjauh dari kursi panjang di pinggir pantai. Sepi.

thumbs_1Setelah mempersiapkan diri di hotel, dia melangkahkan kaki kembali menuju The Bay Bali. Dari rekomendasi mamanya yang pernah menghadiri pernikahan koleganya di sini, ada keyakinan tumbuh, bahwa dia tidak akan salah memilih tempat untuk makan malam. Pilihannya jatuh pada menu kesukaannya, bebek goreng crispy. Benar saja. Tanpa ragu dia menjejak kompleks The Bay Bali dan langsung menuju ke restoran Bebek Bengil. Dengan langkah pasti dia menjejakkan kaki di jalan beton di kompleks itu. Dia terus melewat beberapa obor yang menyala di sepanjang jalan setapak yang dilewatinya. Nyala yang perlahan melahirkan percik-percik harapan tentang kebahagiaan.

thumbs_dsc_6111_reTak lama dia tiba di sebuah gazebo kayu bercat coklat. Di salah satu bagiannya, dia duduk bersandar pada bantal besar berwarna biru. Di bangunan persegi beratap ilalang itu dia duduk sendiri. Ada rasa berbeda ketika dia melihat sekumpulan orang dalam satu gazebo menikmati sajian. Jauh berbeda dengannya. Sendiri dalam sepi. Hanya ditemani angin malam yang menyusup lewat celah-celah tirai bambu yang tergerai di bagian belakang gazebo.

“Silakan, Bli.”

thumbs_dsc_6067_reSeorang pelayan restoran berpakaian seragam lengkap dengan udeng, ikat kepala khas Bali, menyodorkan lembaran daftar menu. Dengan cepat, Biru memilih menu kesukaannya. Setelahnya, dia mengempaskan tubuh begitu saja ke dalam kesendirian. Kali ini ditemani botol kecap dan saus di meja persegi pendek berwarna coklat muda. Ujung jarinya memainkan botol-botol kecil itu untuk mengusir bayangan tentang esok hari. Waktu yang disepakati untuk menyelesaikan elegi tiga hati.

thumbs_dsc_5975_reAkhirnya, sepotong bebek goreng panas telah tersaji lengkap dengan sambal matahnya. Rasa lapar yang telah terbit semakin menjadi. Dia menggeser makanan itu hingga mendekat ke arahnya dan mulai melahap daging bebek yang lembut dan crispy itu. Hingga akhirnya, bebek itu telah berpindah tempat seluruhnya ke perutnya yang rata. Tak ada yang tersisa. Dia lalu meminggirkan piring kosong dan meraih minuman rasa buah yang dikenal dengan nama hanoman. Dia sempat termenung sejenak ketika tangan kanannya memegang pengaduk dari kayu pohon kelapa. Dia membatalkan niat untuk mengaduknya dan justru asyik memperhatikan tiga warna berbeda dalam gelas besar beningnya.

Perlahan dia mengaduknya hingga terlarut menjadi satu.

Seharusnya, aku, Surya, dan Ayu juga bisa seperti ini. Larut dalam satu rasa yang sama. Tetapi, bagaimana mungkin?

thumbs_dsc_6013_reBiru membatalkan niatnya untuk merasakan kesegaran hanoman. Ingatannya lebih dulu menghangatkan kelopak mata. Dua bayangan wajah tergambar jelas, bergantian. Surya dan Ayu.

2| Kembalinya Sebuah Hati

“Pokoknya aku!”

“Tidak bisa! Harus aku!”

Ini bukan tentang saat ini, tetapi kejadian sebulan lalu saat dia dan sahabatnya beradu mulut sepulang kantor. Tidak ada yang mau mengalah. Bukan tanpa alasan. Adegan demi adegan tergambar jelas di dalam ingatan Surya. Umpatan. Cacian. Sumpah serapah. Semua menjadi satu. Bergantian.

Di ujung senja yang telah menjelma tepi malam, dia melangkahkan kaki meninggalkan pantai landai yang mulai sepi itu. Hanya debur ombak menemani. Juga kamera yang tak pernah lepas dari lehernya dengan bantuan tali. Dia melangkah gontai dalam pikiran-pikiran yang sulit dia mengerti. Ada dua sisi berlawanan yang hendak dia satukan. Di satu sisi dia begitu menghargai sahabatnya, Biru. Sisi lain hatinya berseru, bahwa dia harus memperjuangkan cintanya pada Ayu. Rumit.

Langkah kaki pemilik rambut ikal itu semakin cepat di bawah temaram purnama malam saat kembali ke hotel. Segera setelahnya, dia menuju komplek The Bay Bali untuk makan malam. Pilihan jatuh pada restoran de Opera. Sebelum mencapai tempat itu, dia lebih dulu menyusuri sepanjang pantai. Tanpa disadarinya, sepasang mata mencuri pandang dari arah restoran Bebek Bengil. Surya terus melangkah pasti tanpa memedulikan apa yang tidak disadarinya itu. Dia menjejak butiran pasir dengan harapan bisa segera mengisi perutnya.

de operaSetelah melewati deretan bangunan, dia memasuki sebuah pintu masuk bertuliskan de Opera. Tanpa ragu dia menjejakkan kaki di jalan setapak melewati kolam renang, tibalah di sebuah bangunan luas yang di dalamnya terdapat meja dan kursi yang diatur rapi. Di dalam ruangan luas mirip dengan tempat pertunjukan opera itu, dia memilih tempat duduk di bagian pojok ruangan. Sendirian. Temaram lampu menambah kesan romantis. Hanya saja itu tidak dirasakannya. Romantisme enggan menemani kesendiriannya. Beruntung, sesekali dia bersitatap dengan pelayan yang lalu-lalang. Setidaknya sebuah senyuman dari mereka adalah romantisme tersendiri baginya. Betapa senyum itu menguatkan hatinya yang sebenarnya kesepian.

nasi goreng de operaDi restoran yang menyajikan beragam menu makanan itu, dia memutuskan memilih nasi goreng ala Thailand. Nasi goreng dengan kombinasi sayuran, telur, dan daging itu langsung disantapnya setelah disajikan. Tak lupa, pada santapan terakhir dia menghabiskan irisan tomat dan mentimun, sehingga piring keramik bundar warna putih itu benar-benar bersih. Setelah menghabiskan menu utama malam itu, dia memilih es krim sebagai penutup. Dengan sendok kecil di tangannya dia menatap lekat ke arah tumpukan krim berwarna putih di depannya. Dia sama sekali tidak terpengaruh oleh riuh pengunjung yang memadati restoran. Dunianya saat ini, telah larut dalam kenangan pada suatu hari di sebuah kedai es krim.

Awalnya hanyalah percakapan biasa. Tentang cerita cinta dua orang lelaki muda yang mencintai satu orang gadis yang sama. Atas inisiatifnya, mereka berdua meluangkan waktu mengabarkan rasa. Dia berusaha tidak mengimbangi Biru. Selalu seperti itu. Baginya, Biru adalah sahabat sekaligus keluarga satu-satunya. Banyak hal dia korbankan demi kebahagiaan Biru, kecuali satu, masalah hati.

“Kamu kenapa ngotot sekali, sih, Sur?!”

“Kamu tahu, Ru? Setelah lima tahun berusaha mengubur ingatan dengan Dewi, Ayu satu-satunya gadis yang bisa membuatku kembali jatuh cinta. Kamu tahu itu, kan?! Hah?! Hah?!”

Es krim yang mereka pesan semakin meleleh. Berbeda dengan hati Surya yang justru semakin mengeras untuk memperjuangkan perasaannya. Dia tetap tidak mau mengalah saat Biru meminta baik-baik agar dia menjauhi Ayu.

“Enak saja!”

“Kurang ajar kamu, Sur! Bukankah kamu tahu kalau aku yang lebih dulu mengungkapkan perasaan! Hah?! Hah?!”

“Tidak bisa seperti itu, dong! Kamu belum mendapatkan jawaban, bukan?”

“Terus kenapa memangnya?”

“Hahaha…. Itu artinya aku masih memiliki kesempatan yang sama.”

“Brengsek kamu, Sur!”

Sia-sia. Dia gagal menghindari Biru. Es krim di tangan Biru telah berpindah tempat. Dia pun akhirnya membersihkan baju kerjanya dari es krim yang dilemparkan Biru. Dia mematung setelah Biru meninggalkannya. Pertengkaran sebulan lalu masih terekam jelas dalam ingatannya. Pertengkaran dua hati yang tak berhenti di situ saja. Masih ada pertengkaran-pertengkaran lain setelahnya. Sungguh, selembut apa pun es krim yang dinikmatinya saat ini, tak pernah bisa menghapus ingatan tentang sikap kasar Biru padanya. Beruntung hal itu tidak menyisakan dendam di hatinya. Bagaimanapun juga, Biru telah banyak berjasa dalam hidupnya. Terutama Mama Biru yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri.

“Sur… Kamu baik-baik saja, kan?”

Kata-kata Mama Biru adalah penenang segala deru ombak permasalahan hatinya. Selalu seperti itu. Mama Biru selalu punya cara sendiri untuk mengubah gemuruh samudera keruh dalam hati menjadi kembali bening dan tenang.

“Iya, Bu.”

Seperti biasa, lelaki muda berkumis tipis itu menceritakan secara detail kejadian antara dia dengan Biru. Dan, seperti biasa pula, Mama Biru menjadi penengahnya.

“Kalian sendiri yang bisa menyelesaikannya. Ibu yang akan mengatur semua. Kalian bertiga butuh ruang dan waktu yang baru untuk menyelesaikan perkara hati kalian. Nanti Ibu menyusul.”

es krimSesak tiba-tiba dirasakannya. Dia pun bergegas meninggalkan es krim yang tidak jadi disentuhnya. Begitu saja. Dia melangkah gontai hendak menenangkan diri di tepi kolam renang, ketika sekilas tatap matanya menangkap bayang-bayang seorang gadis berambut panjang berjalan menuju ke restoran Bumbu Nusantara. Surya hanya bisa menelan ludah lalu perlahan kembali melangkah menikmati malam sendirian, menunggu esok hari saat segala tentang hati akan ditentukan.

3| Saatnya Memilih Hati

“Pokoknya aku!”

“Tidak bisa! Harus aku!”

Kata-kata yang sama masih lekat dalam ingatan Ayu. Dua orang lelaki yang selama ini menjadi pelindungnya di tempat kerja, justru bersitegang memperebutkan cintanya. Ingatan tentang kejadian yang disaksikannya langsung di depan mata sebulan lalu, menemani langkahnya menyusuri jalan masuk ke komplek The Bay Bali. Pertengkaran yang akhirnya membuat hubungan mereka bertiga di kantor renggang. Berkali-kali, ketiganya mendapat peringatan dari atasan mereka, Mama Biru. Tetapi, tetap saja tidak menunjukkan hasil yang signifikan dengan kinerja. Hingga akhirnya, Mama Biru memberikan mereka untuk menenangkan diri. Sama seperti halnya Biru dan Surya, dia pun akhirnya menuruti keputusan pimpinannya itu.

Dia melintas begitu saja saat bersitatap dengan Surya. Tak ada sapa. Bahkan sekadar senyum pun tiada tercipta. Mereka berdua seolah menjelma makhluk asing yang tak saling kenal. Hanya saja, debar tetaplah mendetakkan kedekatan sebuah hubungan. Perempuan berambut hitam lurus panjang itu terus mempercepat langkahnya demi melihat Surya tak berhenti menatapnya. Tubuh rampingnya yang dibalut dress terusan warna merah marun terus menyelinap di antara keriuhan pengunjung yang menghabiskan malam dengan menggelar pesta di tepi kolam renang.

Sejenak kemudian, dia menghentikan langkah, lalu menoleh. Tatapan matanya ke arah Surya terhalang tubuh-tubuh tinggi besar yang larut dalam percakapan dengan beberapa di antaranya. Surya telah menghilang dari tempatnya berdiri sebelumnya. Dia lalu mengembuskan napas untuk mengumpulkan kekuatan hati agar bisa terus melangkah. Hingga akhirnya dia telah tiba di tempat tujuannya, restoran Bumbu Nusantara. Sekelebat bayangan hinggap di matanya ketika dia menarik kursi kayu di area itu. Lelaki muda yang tubuhnya dibalut kaos polo coklat dan celana army melintas begitu saja di depannya. Sepertinya dia sengaja melakukan untuk mencari perhatian. Ayu bergeming. Dia yang mengenali sosok itu sebagai Biru tak juga menyapanya. Hening tercipta dalam keriuhan suara pengunjung di Bumbu Nusantara.

thumbs_bn-food0585Dia menoleh pada Biru yang sesaat kemudian menghilang di ujung jalan setapak dari beton. Embusan napas kelegaan terdengar jelas di tempat Ayu melabuhkan rasa lapar. Dia mengangkat tangan ketika seorang pelayan berpakaian khas mendekati dan menyapanya.

“Nanti dulu, ya, Pak. Saya masih ingin menikmati suasana.”

Lelaki yang mengenakan baju hitam itu mengangguk, lalu meninggalkannya sendirian setelah menyodorkan buku menu.

thumbs_bn-food0472Perempuan berbibir tipis dipoles lipstick merah muda itu tidak segera menyentuh daftar menu itu, tetapi justru mengembarakan hati pada suasana di sekitarnya. Tampak olehnya, empat orang perempuan berkulit putih tertawa lepas. Di tengah-tengah mereka berdiri pelayan yang baru saja menyapanya. Kelima orang itu tampak asyik memilah dan memilih bahan untuk dimasak.

Cinta seharusnya bisa seperti itu. Menghasilkan kenikmatan setelah dipilah dan dipilih.

thumbs_dsc_1225Pandangan matanya terus menyapu ke hampir setiap penjuru. Di sudut lain, matanya tertuju pada sebuah grup musik yang sedang memainkan lagu. Lima orang lelaki berpakaian batik memainkan alat musik yang dipegangnya masing-masing. Sebuah lagu dangdut yang digubah menjadi keroncong mengalun dari bibir lelaki pemetik gitar kecil. Dia mengenali lagu itu. Liriknya begitu dalam tentang cintanya, Biru, dan Surya. Segitiga.

Merasa tertampar, dengan mata sipitnya, dia mengalihkan pandangan pada buku menu. Setelah yakin dengan pilihannya, dia menyerahkan pesanan pada lelaki berbaju hitam yang masih sibuk dengan masakannya.

“Saya pesan soto daging, ya, Pak.”

“Silakan dipilih sendiri bahannya, Mbak. Kalau mau, mbaknya boleh ikut masak.”

thumbs_dsc_1033Lelaki murah senyum dengan dialek khas Bali itu menghentikan aktivitasnya dan mulai membantu Ayu memilih dan memilah bahan. Hingga akhirnya, semuanya telah siap untuk dinikmati.

“Gimana, Mbak? Enak, kan, kalau semua bahan bisa dipilih sendiri? Cinta juga seperti itu, Mbak. Hehe…”

Ayu hanya tertawa kecil mendengar perumpamaan yang dikatakan oleh pelayan itu. Dalam hati dia membenarkannya.

Ada benarnya juga. Nikmat bahagia salah satunya adalah saat bisa memilih cinta terbaik untuk diri-sendiri.

thumbs_bn-food0113Ayu pun pamit meninggalkan pelayan itu lalu menikmati soto bertabur emping melinjo dengan lahap. Pelan tapi pasti, sesendok demi sesendok, kuah kental soto di atas meja kayu itu semakin berkurang dan habis. Kenikmatan di ujung syaraf indera pengecapnya membuatnya lupa, bahwa dia sedang menunggu waktu untuk menetapkan hati pada satu pilihan.

“Yu… Kamu adalah pemilik hatimu. Kamu sendiri yang tahu, tepat atau tidaknya pilihanmu. Tentang pilihan seharusnya melahirkan kebahagiaan. Paham?”

Deg!

Ayu menghentikan suapannya demi mengingat kata-kata Mama Biru. Dia tidak tahu apa yang harus dipahami dari pilihannya sendiri. Tidak ada gunanya juga dia paham, jika harus kehilangan salah satu alasan kebahagiaannya selama ini.

Bagaimana aku bisa bahagia sementara ada hati lain yang terluka?

Suapan terakhir kuah soto itu tidak diselesaikannya. Ingatan tentang Biru dan Surya telah lebih dulu menghilangkan selera makannya. Seandainya bisa memilih, dia akan memilih untuk bisa membelah diri. Satu bagian akan dia serahkan pada Biru, sementara bagian lainnya akan dia berikan seutuhnya pada Surya. Begitu keinginannya untuk menciptakan bahagia di antara ketiganya. Hanya saja, hal itu tidak mungkin dia lakukan.

Mungkin satu-satunya cara melahirkan kebahagiaan bertiga adalah dengan melepas ikhlas kedua-duanya. Mungkin.

4| Merayakan Kebahagiaan Hati

“Pokoknya aku!”

“Tidak bisa! Harus aku!”

Selanjutnya terdengar umpatan dan sumpah serapah. Mama Biru masih ingat betul tentang hal itu. Tidak ingin memperburuk keadaan, dia mengambil keputusan. Hari ini. Di sini, The Bay Bali. Bersamanya, ketiga hati akan diajarkan tentang arti bahagia. Dan, saat ini adalah momen paling tepat. Pagi ini, dia telah bergabung dengan lainnya di depan papan nama The Pirates Bay.

thumbs_198970_656054361078243_1270276163_nthumbs_922954_656055471078132_396858794_nJarum jam tangannya perlahan mendetik waktu. Tatapan matanya berkeliling di sepanjang hamparan pasir putih. Harap-harap cemas dia menunggu Biru, Surya, dan Ayu. Hingga akhirnya, Biru tiba terlebih dahulu. Tak lama Surya pun menyusul. Sedangkan Ayu menjadi orang terakhir yang datang. Mereka berempat telah siap dengan perlengkapannya masing-masing, sebuah wadah plastik berisi tukik yang siap dilepaskan ke habitatnya setelah ditangkar selama beberapa waktu.

thumbs_375063_656055127744833_422838362_nDalam riuh tawa bahagia, satu per satu peserta dari berbagai daerah itu melepaskan tukik yang dibawanya, bersama-sama. Membaur bahagia dengan yang lainnya thumbs_943117_656054084411604_2131322834_nsaat tukik-tukik berwarna hitam itu berenang bahagia menuju lautan lepas. Setelahnya, mereka membubarkan diri. Mama Biru pun akhirnya mengajak mereka untuk berteduh di depan papan nama The Pirates Bay.

“Gimana rasanya setelah melepas tukik-tukik itu ke lautan lepas?”

Dia mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan sambil menatap ketiga wajah bergantian.

“Bahagia, Bu.” Surya menjawab sambil memainkan patahan ranting membentuk tulisan ‘bahagia’ di atas hamparan pasir putih dengan tekstur padat itu.

“Menurut kalian, gimana perasaan tukik-tukik yang kalian lepaskan?”

“Bahagia, Bu.” Kali ini giliran Ayu angkat bicara.

“Biru… Menurutmu , gimana perasaan orang tua tukik jika bertemu anaknya di laut sana?”

“Pasti bahagia, Ma,” jawab Biru

Untuk ketiga kalinya, senyuman tercetak jelas di wajah Mama Biru.

“Begitulah cinta seharusnya. Ikhlas melepas demi kebahagiaan yang lainnya. Tidak mudah memang, tetapi saya harap kalian bisa memahami arti bahagia itu untuk diri kalian sendiri dulu, bukan demi orang lain. Kalian bebas menentukan kebahagiaan seperti apa yang kalian inginkan. Tidak usah terburu-buru. Ingat. Selalu ada waktu bagi yang ingin menciptakan bahagianya sepanjang waktu,” kata Mama Biru sambil melihat ketiganya bergantian sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya, “nah! Tugas saya sudah selesai. Ayu… Dalam kasus ini, kamu memiliki kebebasan untuk memilih pelabuhan hatimu. Dan, kamu Biru sama Surya, kalian memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Ingat. Siapa pun pilihan Ayu, itu adalah kebahagiaan kalian juga. Paham?”

Mendengar kata-kata Mama Biru, ketiganya bersitatap lama. Kecanggungan akibat rasa yang ada telah mencair dengan sendirinya lewat senyuman, meninggalkan bahagia pada tiga hati yang sama-sama telah memahami, bahwa bahagia adalah perihal berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

– mo –

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

logonulisbuku.com-logo-e1295611705241 Presentation1

#LoveHopeStory – 5:11

“Kamu masih mencintaiku, kan, Len? Atau udah ada lelaki lain yang kamu cintai? Siapa, Len? Siapa?! Kak Tobikah? Jawab, Len?! Jawab!”

Mendengar pertanyaanku, Alena bangkit dari duduknya di bangku taman itu. Dia berlalu begitu saja setelah sebelumnya menoleh ke kiri dan ke kanan. Sementara aku, sendirian termangu menatap rinai yang semakin lama menjelma hujan.

Aku bergeming ketika tetes demi tetes air hujan bergulir dari permukaan daun mahoni yang selalu menaungiku selama ini. Aku memang menyukai bangku ini. Gurat ingatan jelas tergambar di setiap papannya. Di sini, aku mengenal Alena. Seorang kutu buku yang setiap senja melakukan aktivitas yang sama berulang-ulang. Repetisi yang akhirnya membuatku jatuh hati dan akhirnya memberanikan diri untuk mendekati. Lima tahun yang lalu.

“Sendirian aja, Neng?”

Tanpa menoleh ke arahku yang sudah berusaha semanis mungkin, gadis berambut panjang dengan kacamata tebal itu bergeming. Bahkan sampai aku kembali mengulang pertanyaan yang sama.

“Sendirian aja, Neng?”

Matanya tetap lekat pada buku yang sedang dibacanya. Sama sekali tidak terpengaruh olehku yang perlahan mendekatinya. Hanya sekadar menjawab pertanyaan buku apa yang sedang dia baca. Sesekali aku berusaha melihat sampul buku itu dengan saksama. Gagal. Aku tidak tahu buku apa yang sedang dibacanya.

Dan, lima tahun pun berlalu. Mengantarkanku pada suatu masa yang sebelumnya penuh cinta bersama Alena.

Seminggu pertama sejak dia membisu oleh sapaku, dia mulai membuka diri. Sedikit demi sedikit dia bercerita tentang buku yang tidak pernah bosan dibacanya. Aku terkejut sekaligus bahagia ketika dia menunjukkan padaku sebuah buku. Aku mengenalinya meskipun tanpa harus mengeja judul dan nama pengarangnya.

“Kamu mengenal penulisnya? Kenalin, dong! Aku suka sama tulisannya. Enggak bosen baca buku ini.”

Iya. Aku hanya sekadar tahu dan belum begitu mengenalnya karena aku kesulitan untuk melakukannya. Benar adanya. Mengenali diri sendiri adalah hal tersulit yang kualami. Sebab aku yang telah menyelesaikan buku itu dalam rentang waktu lama. Mungkin paling lama di sepanjang karirku sebagai penulis.

Sebulan pertama sejak aku mengenalkan diri sebagai orang di balik buku yang tidak pernah bosan dibacanya. Dia perlahan menunjukkan rasa suka.

“Nggg… Maaf kalau selama ini aku udah cuek sama kamu. Aku enggak tahu kalau selama ini kamu yang sering mengganggu aktivitas membacaku adalah penulis idolaku.”

Aku hanya tertawa tanpa membalas kata-kata dalam senyumnya. Aku terlalu bahagia, hingga kata-kata hanya menjelma tawa.

“Memang apa menariknya buku itu?”

“Selain isinya mengajarkan cara bertahan dari sebuah kehilangan, juga karena buku ini hadiah khusus dari seseorang plus tanda tangan kamu.”

Tanpa bertanya siapa seseorang itu, aku bisa langsung menebak kalau dia adalah Kak Tobi. Aku ingat betul dengan tanda cinta kecil yang kugambar di samping tanda tanganku. Itu satu-satunya persembahan untuk kakak lelakiku yang selama ini mendukungku. Termasuk menampungku di rumahnya sendiri saat aku menyelesaikan naskah buku. Hanya saja aku masih bertanya-tanya tentang bagaimana cara Kak Tobi memberikan buku itu pada Alena.

“Aku dapet dari seseorang itu lewat kuis di Facebook. Aku enggak nyangka aja, sih, akhirnya aku bisa memiliki buku karangan penulis idolaku, Lentera Biru. Dan, perlahan aku mulai jatuh cinta. Serius.”

Ah! Terima kasih, Kak Tobi. Kamu telah menjadi jalan bagi sebuah pertemuan dua hati.

Setahun sejak rasa suka berubah menjadi cinta. Menggebu dalam harum tumpukan buku. Selalu begitu caraku dan Alena menghabiskan waktu berdua dalam rasa saling menghormati perbedaan.

“Kamu enggak harus jadi kutu buku juga kayak aku. Yang penting kamu menghargai kebiasaanku.”

“Pun aku, Len. Aku juga enggak akan maksa kamu untuk bisa nulis kayak aku. Kamu mau membaca buku yang kutulis tanpa bosan adalah penghargaan terbesar bagiku.”

Hanya sesederhana itu cintaku dan Alena menjadi satu. Sebab aku tahu, mencintai bukan berarti harus menyamakan perbedaan, tetapi sama-sama menghargai perbedaan itu.

Dua tahun sejak ikrar saling setia diucapkan. Tidak ada lagi ketakutan untuk menjalani kehidupan. Alena adalah kekuatan bagiku. Pun aku baginya. Meskipun belum sempat menyentuh bibir pelabuhan bernama pelaminan, tetapi aku bahagia merajut cinta dalam kehidupan bersamanya.

Tiga tahun sejak Alena tahu kalau Kak Tobi adalah kakak kandungku. Dia semakin terkejut saat mengetahuinya. Sebuah buku telah jauh membawanya ke sebuah keluarga baru yang hangat baginya — keluargaku, aku dan Kak Tobi.

Sejak saat itu, hampir tidak ada gelombang besar selama bahtera cinta mengarungi samudera kehidupan dalam kurun waktu lima tahun. Tepatnya lima tahun sebelas bulan. Hari ini.

Di bangku taman kota yang dipenuhi pijar lampu malam selepas senja ini, aku masih duduk sendiri dalam sepi. Tangan kananku merentang hingga ujung bangku. Seolah-olah Alena ada di situ. Kenyataannya tidaklah seperti itu. Alena tidak lagi sama denganku. Alena sudah memiliki dunia baru setelah sebelas bulan berlalu sejak gelombang pasang tiba-tiba datang menerjang. Serta merta membalikkan biduk sesaat sebelum aku melemparkan sauh saat mendekati pelabuhan.

Aku dan Alena sama-sama terempas jauh. Bukan pertengkaran menuju tujuan bersama penyebabnya. Bukan pula perbedaan yang tidak lagi bisa disatukan. Ini semata-mata karena kecerobohan saat aku mengantarkannya ke sebuah butik untuk memilih dan membeli gaun pengantin. Seratus meter dari butik itu, sebuah motor gede menabrak sepeda motorku. Aku dan Alena terpelanting dan jatuh. Dan, sebelum akhirnya gelap menyergap, samar aku mengenali wajah pengendara motor gede yang tergeletak di dekatku itu sebagai Kak Tobi. Itu saja yang aku tahu. Selebihnya, aku sama sekali tidak tahu. Yang aku tahu aku masih duduk di bangku taman kota ini. Hari ini.

Aku melepaskan tangan kanan dari sandaran bangku taman. Di bangku taman bawah pohon mahoni rindang selepas hujan itu, aku mengeluarkan sebuah buku dari balik jaket tebal. Di sampulnya, tercetak judul 5:11 dan juga namaku dengan tinta biru.

“Sesaat lagi Alena pasti akan kembali mengambil buku ini.”

Dan, benar saja. Tepat saat aku meletakkan buku itu di tempat semula, Alena tiba. Kali ini tidak sendiri, tetapi bersama Kak Tobi. Raut bahagia jelas tercetak lewat tawa keduanya. Apa adanya, tanpa pura-pura. Tangan Kak Tobi tak pernah lepas dari pinggang Alena. Seolah-olah tidak ingin ada yang merenggut dia dari sisinya. Kak Tobi melepaskan pelukan saat Alena ingin mengambil buku itu sendirian. Kak Tobi menurut dan memilih menunggu Alena di dekat tiang lampu. Cukup jauh dari bangku tempat dudukku.

Alangkah bahagianya mereka.

Alena pun akhirnya mengambil buku itu. Memasukkannya ke dalam tas biru, lalu berbisik padaku, “Aku masih mencintaimu, Biru. Jangan lagi menungguku. Bagaimanapun juga, Kak Tobi adalah harapan hidupku. Aku harap kamu bisa ngerti itu. Aku pulang dulu, ya.”

Selesai kata terakhirnya, Alena langsung membalikkan tubuhnya. Perlahan menjauh tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Di kejauhan, dia disambut oleh sebuah kecupan.

“Iya, Len. Pulanglah dan wujudkan harapan hidupmu bersama Kak Tobi. Aku juga pamit pulang, Len. Tapi, maaf aku enggak bisa menuhin permintaanmu agar aku enggak nunggu kamu. Aku akan selalu nunggu kamu di rumah baruku bersama kedua orang tuaku — surga.”

~ mo ~