#30HariMenulisSuratCinta – Surat Terbuka untuk Pak @aniesbaswedan

Selamat pagi, Pak.

Sebelumnya perkenankan saya memperkenalkan diri dulu. Nama saya Sudomo, S.Pt.. Sudah mengabdi menjadi guru PNS sejak 1 April 2006 di SMP Negeri 3 Lingsar Lombok Barat NTB dan mengampu mata pelajaran IPA. Saat ini saya sedang pemberkasan untuk sertifikasi melalui jalur PPGJ 2015. Hal ini karena tahun-tahun sebelumnya selalu gagal. Permasalahannya saya yakin Bapak sudah paham, yaitu pengangkatan saya yang setelah diundangkannya UU Guru dan Dosen tahun 2005.

Dan, baru tahun inilah saya bisa kembali pemberkasan setelah mengikuti UKA tahun 2013/2014. Hanya saja pemberkasan tidaklah berjalan sesuai yang saya harapkan. Pasalnya adalah sampai sekarang, meskipun berkas sudah lengkap, tetapi nama saya masih dinyatakan Belum Verifikasi di situs Informasi Sertifikasi Guru. Mengetahui hal tersebut saya tidak tinggal diam. Saya berusaha menanyakan ke pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat. Hasilnya adalah bahwa saya kemungkinan besar tidak bisa ikut PPGJ 2015. Hal ini disebabkan karena latar belakang pendidikan S1 saya dianggap tidak linier, S1 Peternakan mengajar IPA.

Sebagai informasi, saya diterima sebagai PNS guru di kabupaten Lombok Barat lewat jalur umum dengan menggunakan ijazah S1 Peternakan dan Akta IV Kependidikan. Hal ini karena waktu itu memang formasi yang dibutuhkan adalah guru IPA dari S1 Non Kependidikan. Itu artinya ijazah Akta IV Kependidikan saya diakui. Terlebih saya telah memiliki NUPTK 9659753654200012. Saya rasa itu cukup kuat untuk mengakui saya sebagai seorang pendidik. Terlepas dari latar belakang S1 saya yang Non Kependidikan. Hanya saja dalam perjalanannya sampai hari ini, tetap saja dianggap tidak linier sehingga terancam tidak bisa ikut PPGJ 2015. Maaf, Pak. Menurut saya ini kurang adil. Padahal sama-sama telah berpengalaman mengajar. Bedanya hanya di ijazah S1 saja, kependidikan dan non kependidikan. Padahal dalam kenyataannya beban jam mengajar keduanya sama. Pun tuntutan untuk profesional maupun kewajiban mendidik siswa. Apakah memang yang S1 Kependidikan lebih profesional dalam mengajar bidang studi dibandingkan yang S1 Non Kependidikan? Saya rasa kenyataan di lapangan tidak demikian adanya, Pak.

Melalui surat terbuka ini, saya hanya ingin menyampaikan uneg-uneg. Kiranya Bapak ada keluangan waktu untuk memberikan penjelasan tentang sertifikasi melalui PPGJ 2015 bagi guru yang berasal dari S1 Non Kependidikan. Semata-mata demi pemerataan kesempatan mendapatkan penghargaan atas jerih payahnya dalam mengajar selama ini. Hal ini disebabkan karena saya tidak sendirian. Banyak teman saya yang bernasib sama dan membutuhkan penjelasan yang sama pula.

Demikian saya sampaikan. Besar harapan saya kiranya Bapak berkenan memberikan tanggapan. Atas perhatian dan kesediannya saya ucapkan terima kasih.

Salam hormat,

Sudomo, S.Pt.

#30HariMenulisSuratCinta – Maukah Kau Menjelajah Waktu Bersamaku?

Dear,

Tukang Pos Ika

Ini surat cinta pertamaku untukmu. Maaf jika akhirnya melahirkan keterkejutan pada debar dadamu. Oh… Tidak? Tidak pun juga tak mengapa sebenarnya. Toh sejatinya kau tak mengenalku. Pun aku. Aku hanya tahu dirimu dari linimasa yang hiruk-pikuk dalam sepi hari-hariku. Kau tak perlu tahu itu, sebab tak ada gunanya juga, bukan?

Ah! Ika…

Telah lama aku tahu tentang dirimu. Hingga akhirnya ada api keinginan tersulut menjelma kobar keberanian mengajakmu, berdua menjelajah waktu. Inginku mengajakmu meretas setiap jengkal jarak beriringan langkah. Hanya saja, hati kecilku menolak. Aku tahu kau takkan cukup mampu mengiringi langkahku. Selain itu, tubuhku terlalu rapuh untuk menopang lelahmu. Bukannya aku tidak mau atau tak mampu. Aku hanya terlalu sayang jika telapak kakimu luka dan membuatmu tertatih saat mendaki puncak waktu sebelum mencapai titik yang kita tuju.

Tersebab itu, aku ingin mengajakmu mengendarai kereta ternyaman yang tak akan melukai kaki indahmu. Kau pasti sudah tahu kereta apa itu. Maaf. Itu bukan kereta kencana seperti yang kauimpikan. Aku takkan mampu melakukan itu, sebab aku bukan pangeran istana yang kaurindu. Aku hanya orang biasa. Hanya mampu mengajakmu naik Agya. Itu pun kalau kau bersedia.

Bersamamu, kita akan menjelajah gunung harapan, lalu sejenak turun ke lembah ketabahan, dan tak lupa mengurai padang ilalang kesetiaan. Di dalamnya kau akan merasa nyaman. Takkan ada lagi ketakutan pada luka masa lalu dan jerit kesakitan. Hanya ada bahagia dan tawa sepanjang perjalanan. Ah! Iya. Aku lupa. Dengan kereta tanpa kuda itu, kau bisa setiap waktu menghambakan telinga pada suara-suara yang terdengar di seluruh rongga. Ah! Bodohnya diriku. Bukan. Bukan itu maksudku. Maksudku adalah, di dalamnya aku dan kau bisa puas mendengarkan lagu-lagu. Bait-bait melodi merdu yang lahir dari bibir ranummu dalam sebuah kepingan. Aku akan mendengarkan itu sebagai penuntun arahku menujumu.

Jadi, maukah kau menjelajah waktu bersamaku, Ika?

Dariku,

Sang pengeja rindu diam-diam padamu,

@momo_DM

#30HariMenulisSuratCinta – Dua Belahan Satu Pulau

20140204-065250 PM.jpg

Kepada

Dua Belahan Satu Pulau,

Maaf jika pembuka surat ini agak kurang sopan. Asal kalian tahu, aku tidak pernah ada maksud berbuat tidak sopan pada kalian. Aku rasa kalian berdua bisa memahami yang kumaksudkan, bukan?

Pasti. Kenapa aku bisa seyakin itu? Tak lain dan tak bukan, karena aku sudah cukup lama mengenal sebagian dari luar kalian. Aku kira hal itu wajar, karena hanya lewat dunia maya kita saling mengenal. Tetapi, kenal hanya di media sosial bukan berarti kita tidak bisa akrab, bukan?

Ah! Kalian! Berkat kalian aku sedikit banyak bisa mengenal dunia yang sesungguhnya. Hitam dan putih saja. Tidak ada abu-abu di dalamnya. Betapa hidup sesungguhnya seperti itu. Tinggal kita memilih yang mana. Mungkin akan sulit. Bagaimanapun juga, tetap harus kita lakukan. Setiap orang, pasti pernah menikmati sisi hitam. Tetapi, sedikit yang mau menampakkan. Bahkan ada yang sebenarnya hitam, tetapi memilih untuk sok hidup di dunia yang putih.

Kalian berdua tidak berada di dalamnya. Aku mengaguminya. Kalian tidak perlu membungkus diri dengan baju kepura-puraan, apa adanya. Dan, tidak semua orang bisa melakukan itu. Kalian luar biasa. Tetap bertahan menjadi diri-sendiri meskipun ucapan bernada miring selalu berdatangan. Salut.

Hai… Dua Belahan Satu Pulau,

Aku tak lupa bagaimana awalnya kita bisa dekat. Ah! Mungkin hanya aku saja yang merasakan. Bukan kalian. Tapi, aku tidak peduli tentang hal itu. Satu yang pasti, aku bahagia bisa berada di antara kalian berdua. Ya… Meskipun hanya di dunia maya.

Hai… Dua Belahan Satu Pulau,

Kalian berdua tahu apa yang membuatku jatuh cinta pada kalian? Kemarilah! Dekatkan telinga kalian. Akan kubisikkan alasannya.

“Aku mencintai kalian berdua, karena kalian sudah berhasil mengajarkan aku sebuah cinta yang tulus. Cinta dalam persahabatan yang semoga tidak pernah pupus.”

Hai… Dua Belahan Satu Pulau,

Sekarang aku bisikkan lagi alasan kenapa aku menyebut kalian seperti itu. Begini… Bagiku kalian adalah dua belahan mayaku yang terpisah kota dalam satu pulau. Hanya seperti itu alasanku. Tetaplah menjadi dua belahan mayaku dalam persahabatan yang dipenuhi cinta dan selalu menebarkan cinta.

Sedangkan cintaku pada kalian, biar aku titipkan pada asa untuk menemui kalian pada suatu waktu.

Hai… Dua Belahan Satu Pulau,

Aku titip pesan pada kalian berdua. Satu-satu. Untuk Je, tetaplah menjadi dirimu sendiri seperti saat pertama aku mengenalmu di dunia maya. Untuk Mami Iit, tetaplah ingat! Sesaat lagi kita akan menjadi ‘satu’. Ada doaku agar kau dimudahkan jalan menuju itu. Bagaimanapun juga, yang telah kita awali berdua, sebaiknya diselesaikan secepatnya.

Mungkin hanya itu. Tetaplah menjaga dan menebar cinta untuk semesta.

Dariku yang mencintai kalian berdua meskipun belum pernah berada dalam satu titik temu.

@momo_DM

#30TintaCintaUntukIbunda [4] ~ Merayakan Kasih Sayang Bersamamu

Mataram, 14 Februari 2013

Untukmu, Tinta Cintaku,

Simbok,

Selamat pagi kuucapkan dari hati yang entah mengapa mendadak terasa hampa. Bukan sebab kesendirian yang mendera, tapi mungkin karena rindu yang enggan terkata. Rindu diam-diam yang sengaja kusimpan untuk diledakkan saat waktunya tiba. Saat aku memeluk tubuh rapuhmu, saat aku mencium telapak tangan dan kedua pipimu yang renta. Waktu itu akan selalu tiba di saat yang seharusnya. Sebab pertemuan telah ada yang mengaturnya.

Simbok,

Hari ini kata orang adalah hari kasih sayang. Tapi, bagiku bukan hanya hari ini, tetapi setiap hari. Seperti kasih sayangmu padaku yang tak pernah mengenal kata memilih waktu. Pun, dengan kasih sayangku padamu yang selalu hadir dalam setiap desah napasku. Desah napas yang bersamanya tertiup doa, agar kau sehat senantiasa. Mungkin bukan doa yang luar biasa, hanya doa sederhana seperti biasa. Tentang seorang anak yang jauh di perantauan yang ingin melihat ibunya bahagia. Tentang seorang lelaki yang ingin setegar dirimu. Itu saja.

Simbok,

Hari Kamis. Hari seharusnya aku memakai seragam merah putih, dulu waktu masih duduk di Sekolah Dasar. Tapi, perkecualian di hari itu. Aku menjadi seseorang yang berbeda di antara kerumunan massa, teman-teman sekolahku. Kau masih ingat, Mbok? Waktu itu aku tidak memakai seragam merah putih, tetapi menggantinya dengan coklat putih. Kenapa? Karena benang-benang merah celana pendekku sudah sedemikian aus. Aku malu untuk memakainya. Lalu, aku bisa apa? Aku hanya bisa diam, tidak menuntut untuk dibelikan yang baru. Sebab aku kecil sudah tahu, kau belum bisa membelikan untukku. Pagi itu rautmu tampak sedih, melihatku berbeda. Kau hanya berkata, “Ora popo nganggo kathok sing coklat. Iki tak dondomane sik.”

Tak ada nada protes dariku saat kasih sayangmu menancap bersama jarum dalam celana pendekku. Aku hanya melihat sekilas saat bibir merahmu karena ‘kinang’ mengulum benang untuk memudahkannya masuk ke lubang jarum. Setelahnya aku tak tahu dengan apa yang kau perbuat pada celanaku, yang kuingat waktu itu aku langsung berangkat.

Simbok,

Untuk kasih sayangmu yang seluas samudera, aku persembahkan kado terindah berupa tinta cinta. Tidak usah membacanya. Sebab, tanpa membaca pun kau selalu tahu isi hatiku. Iya kan, Mbok?

Oya, Mbok. Semoga kasih sayangmu untukku tak pernah lekang dimakan usia. Semoga juga aku bisa memberikan kasih sayang padamu, seperti yang pernah kauberikan padaku. Meskipun mustahil, tapi setidaknya aku selalu berusaha menjaga rasa yang ada.

Peluk jauh dariku,
Anak bungsumu yang belum bisa membahagiakanmu,

@momo_DM

#30HariMenulisSuratCinta ~ Wahai Pasukan Penunggang Sepeda @PosCinta

Wahai pasukan penunggang sepeda,

Izinkan aku merangkai kata untuk kesempatan yang berbahagia. Banyak aksara berkeliaran dalam kepala yang ingin aku muntahkan rasanya. Tapi, sepertinya tidak semua bisa kuungkapkan, sebab memang tidak semua isi kepala harus diutarakan begitu saja. Hanya beberapa kata yang ingin kurangkai untuk kalian semua. Sebab aku tak ingin deretannya akan membeku dan takkan pernah terbaca. Begini kira-kira … .

1. @korekapikayu

Aku memang belum mengenalmu dalam waktu yang lama, tapi meskipun begitu kita pernah dipertemukan di dunia maya tanpa sengaja. Waktu itu kita sama-sama memberanikan diri untuk melamar menjadi tukang pos siaga @PosCinta. Dulu, saat #30HariLagukuBercerita, dan ternyata rasi bintang membuatku tidak berjodoh dengan @PosCinta. Tapi, entahlah kenyataannya seperti apa. Lewat surat edisi kali ini, aku hanya ingin berkata salut padamu yang sudah setia menjadi penunggang sepeda mengantarkan setiap lembar surat cinta ke tujuannya. Semoga setelahnya, kita bisa berkomunikasi berbagi cerita di lini kala.

2. @lionychan

Untukmu perempuan muda penunggang sepeda, kusematkan kekagumanku padamu semata. Kau begitu gigih mengayuh sepeda tanpa peduli cuaca. Bahkan kesibukan pun kamu kesampingkan demi tugas yang mulia. Asal kamu tahu, hatiku sempat terluka saat kamu memutuskan mengundurkan diri dari proyek menulis kita. Bukan apa-apa, kehilangan satu orang anggota rasanya ada yang hilang dalam komitmen bersama. Tapi, aku kemudian memahaminya, bahwa tugas utama tetaplah harus menjadi prioritas pertama. Semoga setelahnya, kita bisa kembali menulis bersama.

3. @gembrit

Untukmu pahlawan penunggang sepeda. Aku mengenalmu saat #30HariLagukuBercerita. Waktu itu aku berhasil menuntaskan 10 cerita. Semua berkat dorongan semangat dan komentar-komentarmu yang membakar asa. Aku tak pernah lupa, betapa satu kata atas satu cerita begitu berharga. Meskipun, aku tahu, tulisanku bukanlah sebuah kebanggaan bagimu, tapi aku tetap bahagia sebab kamu dengan setia tetap membaca. Dari beberapa kata yang kautulis di linikala atas tulisanku dan teman-teman lainnya, sedikit banyak menyulut semangat untuk saling sapa lewat tulisan dengan gaya yang berbeda. Semoga setelahnya, kamu tidak pernah lupa, bahwa aku pernah menjadi salah seorang bocahmu yang tetap setia merangkai kata menjadi cerita. Terima kasih untuk semuanya.

4. @chachathaib

Untukmu penunggang sepeda yang selalu tiba pada waktu tak disangka-sangka. Awalnya aku tahu tentangmu hanya selintas di linikala, tanpa pernah berkeinginan untuk mengikutinya. Tapi, akhirnya memutuskan untuk mengikuti setelah mengetahui nama-nama tukang pos dari @PosCinta. Dari sana, perlahan kekagumanku muncul seketika. Kata-kata terangkai dengan manis dan apa adanya. Beberapa di antaranya juga menyuarakan isi hatiku yang seorang pelaku LDR juga. Tidak dari awal memang aku mengikuti program #30HariMenulisSuratCinta, karena waktu itu aku juga sedang punya program lainnya. Baru hari ke-14 aku ikut serta sampai hari kemarin terakhirnya. Meskipun, kadang suka kesal karena share suratku yang terlambat waktunya, tetapi aku memahami bahwa kehidupan nyatamu butuh perhatianmu juga. Bahkan meskipun beberapa hari surat dari nama Twitter L – O tak satu pun diposting di blog @PosCinta, akhirnya aku bisa menerima dengan lapang dada. Kecewa? Pastinya. Tapi, itu hanya sementara. Setelahnya semua baik-baik saja. Mohon maaf atas kesalahan kata yang kadang cenderung memaksa. Terima kasih atas perhatiannya dan terutama kesetiaan mengantar surat cintaku pada tujuan yang seharusnya. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi kita untuk lebih saling mengenal satu sama lainnya, sebab bagaimanapun juga kita memiliki hobi yang sama, menulis cerita. Akhir kata, aku tak bisa memberikan apa-apa selain doa tulus semoga lancar acara pernikahannya, sehingga menjadi keluarga yang sakinah mawahdah warrahmah untuk selamanya. Aamiin.

Dariku, Bocahe @PosCinta,

@momo_DM

#30HariMenulisSuratCinta [30] ~ Untukmu yang Ingin Kutemui

Untukmu yang ingin kutemui,
Bocahe Pos Cinta,

Sebelumnya aku minta maaf kepada Bosse, Tukang Pos, dan Penjaga Pos Cinta sebab surat cinta ini bukan untuk kalian. Bukannya aku tidak sayang kalian, tapi bagiku bocahe Pos Cinta memang layak untuk diberi penghormatan dari sesama Bocahe. Aku tahu, kalian selaku pengelola Pos Cinta sudah kenyang dengan pujian dari kami Bocahe Pos Cinta. Karenanya, izinkan aku mendedikasikan surat cinta ini untuk pemuja yang kadang terlupakan keberadaannya.

Bocahe Pos Cinta,

Seandainya bisa, aku sangat ingin menemui kalian semua. Bukan tanpa tujuan, aku ingin mengucapkan terima kasih karena secara tidak langsung mengobarkan semangatku untuk kembali menulis seperti semula. Kok bisa? Pastinya. Karena kalian menulis, aku pun terpacu untuk ikut sama-sama menulis juga. Dan, pada akhirnya, secara tidak langsung kita sama-sama mengingatkan untuk konsisten menulis sebulan lamanya.

Bocahe Pos Cinta,

Seandainya bisa berjumpa, maka kalianlah yang akan pertama aku cari keberadaannya. Akan kujabat erat tangan kalian semua, lalu kita membaur berbagi cerita tanpa adanya pembatas berupa kesombongan dan rasa sok kuasa. Sebab aku tahu, kita sama-sama orang biasa yang bisa dipertemukan dalam acara yang luar biasa. Entah kapan aku akan bisa menghadirinya.

Bocahe Pos Cinta,

Kita pernah dikenalkan lewat media maya, kemudian akan dipertemukan secara nyata. Tapi, sayangnya aku tak bisa ikut berpesta. Sebab jarak yang memisahkan kita. Padahal hati kecil berkata “Iya. Kita harus berjumpa.” Semua tak bisa dipaksa, karena mungkin memang itu sudah seharusnya. Di waktu yang tepat kelak kita akan berjumpa, berbagi cerita dalam ceria dan membaurkan diri tanpa pandang strata. Itu saja.

Bocahe Pos Cinta,

Dari jauh kukirimkan doa, semoga kalian bisa menjadi satu keluarga saat dan setelah berjumpa. Keluarga hangat yang penuh cinta, keluarga dekat tanpa memandang sebelah mata yang lainnya. Dan, tak lupa semoga semangat menulis kita tetap terjaga setelah event ini istirahat untuk sementara.

Akhir kata, selamat berpesta kalian semua.

Salam hangat dari bocahe Pos Cinta juga,

@momo_DM

#30HariMenulisSuratCinta [29] ~ Tinta Cinta untuk Ibunda (3)

[Bagian 3]

Untukmu, Tinta Cintaku,

Simbok,

Ini suratku yang ketiga. Tulisan yang takkan pernah sebanding dengan kekuatan dalam kelembutanmu membuatku bisa menulis. Betapa berlembar-lembar tulisan tidak akan pernah cukup untuk menceritakan tentangmu. Tentang cintamu yang lebih teduh dari pohon rindang, tentang sayangmu yang lebih luas dari apa pun.

Simbok,

Tak pernah bosan semua tentangmu kutuliskan. Sebab tentangmu adalah keindahan. Keindahan hidup dalam doa-doa panjang sampai sekarang. Termasuk saat masih SD. Saat-saat kita tak bisa berdekatan. Aku di rumah Mbak, kau di pulau seberang, Madura. Aku bersekolah, kau menggendong jamu melintasi sawah-sawah.

Simbok,

Aku masih ingat saat kau berkata, “Sing sregep sinau yo, Le.”

Sesederhana itu. Bahkan, aku tahu Simbok tidak pernah belajar dari buku paket, hanya belajar dari kehidupan. Ternyata kalimat sederhana itu pada akhirnya menjadi luar biasa dengan sendirinya. Kata-kata itu menjadi penyemangat bagiku untuk terus mencari ilmu.

Waktu itu, aku hanya bisa menjawab, “Nggih, Mbok.”

Sesederhana itu. Jawaban sederhana yang menjadi awal dari kesungguhanku. Aku selalu ingat itu. Sekali berkata “nggih” itu artinya “harus”. Meskipun Simbok tak pernah memaksa, tapi bagiku adalah sebuah keharusan untuk memberikan yang terbaik bagimu.

Simbok,

Waktu terus berjalan. Sampai akhirnya, aku menginjak kelas 5. Keinginanku membahagiakanmu membuatku selalu dipercaya oleh pihak sekolah untuk mengikuti lomba. Lomba apa saja, baca puisi, dokter kecil, cerdas cermat, pramuka, dan siswa teladan. Tapi sayang, Mbok. Tak satu pun kebanggaan yang bisa kupersembahkan padamu. Kau hanya berkata, “Ora popo, Le. Kalah menang kuwi biasa. Sing penting ojo nyerah.”

Dan, itu adalah sumber kekuatanku untuk bisa lebih maju. Perjuangan belum berakhir dan takkan pernah berakhir. Saat kelas 6, akhirnya aku bisa membuatmu bangga dengan menjadi lulusan terbaik. Semua berkatmu. Berkat usaha menggendong jamu untuk membiayai sekolahku, dan berkat doamu aku bisa menjadi diriku.

Simbok,

Doamu belum usai. Besok akan kuceritakan lagi tentang doa-doa yang kaukirimkan saat kita berjauhan. Fragmen-fragmen kehidupan yang bahkan mungkin kau tak pernah mengingatnya lagi.

Aku yang ada dalam doamu,

@momo_DM