Catatan Embun di Atas Daun (2)

07:00 Wita

Aku masih enggan membuka mata. Ingatan tentang kehangatan rahim Mamah masih begitu lekat. Bukan saja kehangatan, tetapi juga perihal posisi favorit. Aku masih suka meringkuk seolah-olah masih berada di dalam rahim Mamah. Tempat ternyaman selama sembilan bulan sepuluh hari. Tempat terindah bagiku untuk mulai belajar tentang kehidupan. Tentang terang dan gelap dunia. Pun ingar bingar suara-suara yang menyertainya. Salah satu suara yang kusuka adalah dendang selawat ‘Ya Ashiqol Mustofa’. Sebuah kidung hangat yang seringkali kudengar saat Mamah dan Papah pulang kerja. Sebuah dendang menenangkan yang selalu sempat dinyanyikan Papah sambil memijat Mamah. Aku tidak tahu apa alasan Papah suka sekali mendendangkan lagu itu untukku. Atau jangan-jangan hanya selawat itu saja yang dihafal Papah? Ah! Entahlah. Yang pasti aku bahagia saat mendengar Papah mendendangkannya.

Continue reading “Catatan Embun di Atas Daun (2)”

Catatan Embun di Atas Daun (1)

15:15 Wita

Ini pertama kalinya tangisanku terdengar memecah batu kecemasan di hati Papah dan Mamah. Sebuah tangisan keras dan panjang yang tak hanya terdengar di ruang operasi RSI Siti Hajar saja. Namun juga hingga menembus telinga Papah yang sedang berjaga di selasarnya. Aku yakin, waktu itu pasti Papah dan Mamah langsung mengucapkan syukur kepada-Nya. Aku yang telah mereka tunggu sepeninggal Kakak Inshira dalam kandungan Mamah, enam belas bulan yang lalu.

Continue reading “Catatan Embun di Atas Daun (1)”