Inilah Kosakata Wajib Bekal Travelling Ke Lombok!

Bekal Traveling ke Lomboj

sasakbesahabat

Hey traveller! Lagi ngapain? Cie bulan segini lagi cek cek tiket dan hotel buat ke Lombok ya? Selain prepare budget, gak ada salahnya nih prepare juga bekal kosakata buat nikmatin indahnya Lombok.
Setiap daerah, termasuk Lombok, tentunya memiliki bahasa daerah tersendiri. Di Lombok, mayoritas dihuni oleh Suku Sasak, dan bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Sasak. Ada juga sih yang pake bahasa Indonesia, beberapa ada yang bahasa Indonesia blasteran alias campur dengan aksen bahasa Sasak. Cuman kalo di kampung2, seperti di kampung penulis, kalo kebanyakan pake bahasa Indonesia, warga nyebutnya ‘bahasa tipi’ atau ‘bahasa bapak polisi’. Huihihihi
Nah, buat traveller, coba deh hafalin kosakata berikut. Kali aja ada manfaatnya kalo mau naik angkot, nawar barang, atau buat mendekatkan diri dengan warga Lombok. Eh jangan-jangan minat juga sama ‘dedare’ (sebutan gadis di Lombok) Lombok? Boleh nih jadi bahan sepik sepik. hehehhe.
1. Berembe kabar?
Nah, ini artinya “Apa Kabar?” atau “Gimana…

View original post 261 more words

Advertisements

Tentang Sasak Besahabat

sasakbesahabat

“tetep ramah timaq ndeq wah saliq kenal, becat betulung lamun araq bingung leq langan, ceritaan jok dunie, sasak besahabat” – The Datu

Yap, penggalan reff lagu The Datu ini belakangan kerap ingin saya suntikkan ke temen-temen di Lombok, NTB. Makna liriknya kurang lebih mensuggest temen-temen di Lombok untuk welcome dan nunjukin hospitality kepada ‘mereka’ yang datang ke Lombok. Mereka ini siapa sih? Nah, mereka ini adalah konsekuensi dari ‘penjualan’ besar-besaran keindahan Lombok di media, oleh kita, kita yang menduduki Lombok sekarang ini.
Keindahan Lombok ini ibarat makan Pelecing (makanan khas Lombok). Pedes (agak panas), tapi enaknya ga ada abisnya. Malahan nih ya, kalo terasi kualitas top, bekasnya bakal lama ilangnya di tangan.
Saking indahnya, malah di setiap sudut jadi indah, didukung oleh fasilitas yang kita miliki (salah satunya gadget dgn kamera canggih plus kuota yang mumpuni untuk uploading), sangat mudah meng-explore keindahan alam Lombok. Setiap menit, paling gak ada satu…

View original post 195 more words

Apa Tujuanmu Menulis?

Sebuah pertanyaan sederhana. Namun bukan berarti setiap orang bisa dengan mudah menjawabnya. Pun saya yang termasuk golongan orang yang ‘enggan disebut penulis hanya karena belum menerbitkan buku solo lewat jalur major publisher’. Mungkin bukan saya saja yang merasa demikian. Kamu, Anda, dan kalian bisa saja memiliki keengganan yang sama. Entah karena malu, tak enak hati atau bahkan merasa keberatan dengan julukan sebagai penulis. Yang pasti setiap orang punya alasannya masing-masing.

Kembali pada pertanyaan tersebut di atas, bagi beberapa orang bahkan sama sekali tidak memiliki pilihan jawaban. Masalahnya, golongan ini sangat suka menulis. Bahkan sampai tidak pernah memikirkan tujuannya. Sebagian lagi, mereka punya tujuan menulis yang pasti. Namun dalam perjalanan menekuni dunia tulis-menulis, mereka cenderung berhenti saat tujuan tercapai. Kecuali bisa menentukan sebuah tujuan yang cakupannya sangat luas. Hal ini tentu akan melahirkan energi yang besar untuk terus menulis.

Kamu, Anda, dan kalian sendiri, apa tujuanmu menulis?

#TintaCinta [1] ~ Hujan Pagi Hari

Matahari Juni meretas pagi. Sepi mengendap-endap mengetuk pintu hati. Tak kuizinkan dia untuk memasuki. Sebab gemuruh badai rindu telah lebih dulu memenuhi. Ada bisikan yang tak terkatakan. Aku menyebutnya bisik-bisik bisu. Bukan teriakan nyaring pemburu, atau tawa riang anak-anak cemburu.

Matahari Juni memelintir harapan menjadi kesedihan. Sembunyi di balik awan, menetaskan butiran-butiran hujan. Bukan! Ternyata ini tangis diam-diam. Menggenang di sudut kenang, membanjir hingga asa tiba di titik nadir. Aku menyerah pada hujan pagi ini.

Bualan-bualan kembali menguar lewat aroma basah. Pun cemooh tak mau ketinggalan. Keduanya saling mendahului, mencoba meruntuhkan hasrat tertinggi. Berhasil! Panah cibiran tepat menghunjam hati. Tombak cemoohan tepat di urat nadi.

Darah kesedihan mengucur. Mengalir ke semua sisi. Sisi baik tak lagi bisa berpikir sehat. Beradu dendam menuntaskan lewat celah-celah bibir. Melahirkan argumen dan sumpah serapah.

Tak pelak, kebaikan mendadak sirna. Tak ada lagi titik-titik tersisa. Hanya lingkaran gulita memenuhi rongga dada. Dada yang seluruh isinya telah terjatuh dalam kubangan kecewa. Berenang sendiri menggapai-gapai asa yang tersisa. Gagal. Asa enggan mengulurkan jemarinya. Sengaja membiarkan asa tenggelam meregang nyawa.

Sampai detik tak lagi ciptakan detak, hati telah retak. Meratapi diri yang terombang-ambing dalam mimpi. Kemustahilan mimpi menjelma hujan di pagi bulan Juni. Merajam takdirku sendiri.

~ mo ~