[Berani Cerita #12] ~ Sepatu Butut

Aku merasa tidak nyaman. Tidak seharusnya aku memaksakan diri untuk bisa terlihat ‘wah’ di depan tamu-tamu Ayah. Tapi, demi Ayah, orang tuaku satu-satunya, aku rela melakukannya.

Sepatu high heels merah yang kupakai membuatku tertatih-tatih. Ini benar-benar tidak biasa. Sebab aku lebih suka memakai sepatu bututku. Tidak ada alasan apa-apa, selain demi Ayah yang tak pernah bisa melupakan almarhumah Ibu.

Di pesta ini, aku benar-benar menjelma menjadi seorang putri. Ayah terlihat bangga mengenalkan aku pada calon pelanggan barunya. Sementara aku, tetap saja menebar senyum palsu. Kurasakan ada yang kurang saat itu. Kehadiran Ibu.

Pesta pun usai. Aku kembali ke kamar. Kulepas sepatu baruku. Tiba-tiba aku kembali menjadi diriku sendiri. Kulihat di cermin, wajahku kembali biasa saja dengan make up seadanya.

“Bagus, Anakku!”

Ayah yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar mengejutkanku. Dengan tubuh sedikit gemetar aku menoleh ke arahnya. Kutatap Ayah lekat-lekat.

“Dengan begini, sepatu baru Ayah akan laku keras. Dan, kita akan kembali kaya raya.”

Aku terdiam. Bukan ini yang kumau, karena aku bukanlah boneka ayahku. Pun saat aku harus menggunakan sepatu bututku. Sama saja. Aku juga menjadi boneka Ayah.

“Dasar tukang sihir!”

Aku merutuk dalam hati. Sejak menjadi pemuja iblis Ayah memang berubah. Banyak yang datang untuk meminta kekayaan padanya. Terlebih sekarang dengan produk sepatu barunya yang bisa membuat seseorang tampak cantik dari sebelumnya.

“Sekarang pakai sepatu bututmu, Ranti!”

Aku menurutinya. Pasrah. Kuambil sepasang sepatu butut berwarna merah yang mulai memudar. Seketika aku berubah menjadi seperti almarhumah Ibu yang meninggal saat melahirkanku. Sama persis. Dari dalam cermin, kulihat Ayah tersenyum buas ke arahku.

Mendadak airmataku kembali meleleh. “Ini waktunya untuk kembali melayani Ayah,” batinku.

***

[Berani Cerita #11] ~ Kembalinya Cincin Ibu

Tags

Aku menangis mengetahui ada cincin melingkar di jari manis. Cincin Ibu yang telah hilang hampir seminggu. Tapi, kenapa bisa di jari manisku? Apa selama ini aku memakainya? Lalu, siapa laki-laki yang tidur di sampingku ini? Tunggu dulu! Aku sepertinya mengenal laki-laki ini.

***

Rumahku siang ini ramai sekali. Tamu undangan mulai berdatangan memberikan doa. Kedua mempelai tampak bahagia di tengah acara diiringi gending Jawa. Aku mempelai itu. Atas desakan Ibu, akhirnya aku memutuskan mau menikah dengan lelaki ini. Lelaki yang sebenarnya tidak aku cintai. Tapi, demi Ibu, aku berusaha mengubur rasa itu. Aku yakin akan bisa mencintainya seiring berjalannya waktu.

“Kamu tidak usah khawatir. Hanya dengan begini, Ibu bisa melunasi hutang. Dan, dengan begini, Ibu bisa tetap jualan untuk membiayai sekolah adik-adikmu dan itu berarti dia akan berhenti mengejar Ibu. Maafkan Ibu, Ranti.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Ibu menangis. Tanpa perlu meminta maaf, aku sudah memaafkannya. Sebab dengan begini aku bisa membalas pengorbanan Ibu.

“Tapi, Bu. Dia pernah bilang ke aku, dia tidak jadi menikahiku karena dia tidak punya cincin kawin. Dia tidak mampu membeli setelah usahanya bangkrut.”

“Kamu tenang saja. Biar Ibu yang mengurusnya.”

Kali ini Ibu tersenyum, aku pun ikut bahagia melihatnya. Aku yakin pilihan Ibu tidak salah. Semua demi kebaikan keluarga, aku rela.

Sampai suatu hari, seminggu yang lalu, aku bertanya,”Cincin kawin Ibu mana?”

“Sudahlah, Ranti. Kamu enggak usah mikirin itu. Nanti tiba saatnya kamu akan tahu.”

Aku terdiam. Perlahan kuusap airmataku. Make up di wajahku sedikit luntur. Di sampingku, suamiku menatapku berusaha menegarkan hatiku. Aku kembali tersenyum palsu pada undangan yang hadir.

***

Malam ini aku ingat. Laki-laki ini adalah suamiku. Dia mau menikahiku setelah bisa memberikan cincin kawin untukku. Cincin milik Ibu, pemberiannya lima belas tahun lalu saat dia menikahi Ibu yang seorang janda. Dia memang mantan suami Ibu.

***

.:. Izinkan Aku Pergi dari Pelukanmu Malam Ini .:.

Tags

“Byuurrr…!”

Air mendadak muncrat. Membasahi sebagian ban mobilku. Aku terus melaju, tak ingin terlambat menuju tempat yang telah dijanjikan. Ini bukan pertama kalinya memang. Tapi, aku tidak ingin ini menjadi pertama kalinya aku terlambat. Setidaknya, selama ini aku telah berhasil memberikan citra baik pada diriku di hadapannya. Bukan pura-pura yang pada akhirnya akan berujung luka.

Ban mobil berdecit tepat di depan sebuah kedai kopi dengan ornamen unik. Aku bergegas masuk dan memilih duduk di tempat biasa, sudut ruangan. Kunyalakan laptop dan mulai menulis.

“Naskah novel baru, ya?” Seorang pelayan mengejutkanku.

“Bukan, kok,” jawabku singkat dalam senyuman.

“Pesen kayak biasanya?” tanyanya ramah, seperti biasa saat aku ke sini.

“Iya. Makasih, ya.”

Jemariku kembali berkutat dengan tombol keyboard saat pelayan itu telah berlalu. Kali ini, ada yang berbeda dalam setiap ketukan tombol. Seolah ada beban berat yang enggan lepas.

Pesanan telah datang di mejaku. Tak segera kusentuh. Pandanganku tajam ke arah pintu masuk. Gerimis sisa hujan masih menciptakan elegi sebuah kerinduan. Juga tentang harapan yang beterbangan membaur dengan asap kopi hitam kental. Dia belum datang.

Aku menghela napas. Berharap-harap cemas menunggu kedatangannya. Seharusnya aku tadi menjemputnya. Tapi tidak kulakukan. Sebab hal itu tidak mungkin. Aku tak pernah punya kewajiban untuk menjemputnya. Seperti biasa, malam Minggu seperti ini dia akan muncul tiba-tiba. Dan, kali ini aku kembali tidak terlambat. Dengan begitu dia akan tahu, bahwa aku bersungguh-sungguh menunggu.

Sepuluh menit berlalu. Lima belas terlampaui sudah. Dan, tiga puluh menit menjelang. Tak ada tanda-tanda dia akan datang. Dalam hati kecilku sebenarnya aku merasa nyaman dalam siatuasi seperti ini. Sangat nyaman malah. Setahun mencintai diam-diam sejak mengenalnya di kedai kopi ini. Bagiku dengan begitu, aku tidak akan pernah merasakan patah hati. Bagaimanapun dia, aku mencintainya. Memang terdengar gila, tapi begitulah adanya.

Menatap wajahnya yang sayu adalah kebahagiaanku. Memperhatikan matanya yang sendu adalah caraku mengagumi ciptaan Tuhan. Bahkan, senyumnya adalah surga kecil bagiku. Iya. Aku bahagia mencintainya diam-diam. Kuakui aku memang pengecut, tapi beginilah cara merawat hatiku.

Hampir satu jam berlalu, terhitung dari saat aku mulai mengetikkan sederet kalimat di laptopku. Kalimat yang takkan pernah selesai. Kalimat yang akan selesai hanya dengan keberanian. Iya. Keberanian. Sesuatu yang tak pernah kumiliki sejak mantan kekasihku memilih menikah dengan orang lain.

Gerimis masih belum tuntas saat seorang gadis berpayung merah memasuki area kedai kopi. Aku bisa melihatnya sebab kedai kopi ini berdinding rendah. Dia melangkah masuk. Dari kejauhan aku tersenyum ke arahnya. Dia sama sekali tak menghiraukanku. Dia terus melangkah masuk.

Kuperhatikan setiap gerak-geriknya. Sampai akhirnya terdengar lantunan sebuah lagu dari sudut kedai kopi. Bait terakhir lagu ‘Foolish Game’ dari Jewel tuntas diperdengarkan. Terdengar tepuk tangan riuh pengunjung kedai kopi. Lagu berikutnya, dia mengajak seorang pengunjung untuk berduet lagu romantis.

Cemburukah aku? Tentu tidak. Dulu. Tapi, saat ini sepertinya ada yang berbeda dalam petak debaran hatiku.

Setelah beberapa lagu, seperti biasa, dia selalu menghampiriku. Hanya untuk sekadar meminta pendapat tentang penampilannya. Selalu seperti itu.

“Hei…,” sapanya saat menggeser kursi di depanku.

Aku membalasnya dengan senyuman. Obrolan tentang penampilannya mengalir lancar.

“Sebenarnya hanya ada sedikit masukan, sih, Rat,” kataku kemudian.

Ratri mengernyitkan dahi. Ditatapnya lekat-lekat mataku. Tatapan yang bisa serta merta menarikku dari zona nyaman. Jujur, aku tidak bisa lepas dari pesonanya, tapi mengungkapkan perasaanku padanya, rasanya juga bukan pilihan yang bijak.

“Apa itu? Boleh dong aku tahu?” tanyanya dengan tertawa kecil.

“Emm… Apa, ya?” tanyaku balik pura-pura tidak tahu apa-apa tentang lagu.

“Ayolah! Enggak biasanya kamu kayak gini. Biasanya juga ceplas-ceplos ngasih komen. Hahaha… .”

Aku akhirnya menyerah. Aku sampaikan panjang lebar tentang penampilannya barusan. Ratri yang tampil menyenangkan agak terkejut ketika aku mengomentari tentang keromantisannya saat menyanyi duet dengan salah seorang pengunjung.

“Kenapa emangnya? Kamu enggak suka? Atau jangan-jangan kamu cemburu, ya? Hahaha… .”

Aku membalas kata-katanya dengan ikut tertawa. Padahal sejatinya, hatiku menangis. Setelah sekian lama bersama, aku tahu, Ratri memang suka meledekku dengan hal-hal terkait perasaan. Ledekan yang kadang mengusik keberadaanku di zona nyaman.

“Udah. Nyantai aja kali. Entar sesi kedua aku duet sama kamu dengan lebih romantis lagi deh. Gimana? Hehehe… ,” kata Ratri terkekeh pelan.

Zona nyamanku sedikit terusik dengan kata-katanya. Ini sebenarnya bukan keinginanku. Sebab bagaimanapun juga dia adalah sahabatku. Aku tak ingin merusaknya dengan pernyataan kata cinta.

“Kok bengong? Gimana? Kamu mau, kan, duet sama aku?”

“Pastilah. Aku enggak bisa menolak permintaanmu, Rat.”

Lima belas menit pun berlalu. Ratri kembali ke sudut kafe untuk kembali melanjutkan tugasnya. Satu-dua lagu telah didendangkannya. Kini tiba giliranku untuk menemaninya berduet.

Tak butuh waktu lama untuk membangun chemistry antara aku dan Ratri. Hampir setiap malam Minggu, aku mendapat jatah untuk menyanyi duet bersamanya. Bahkan, penampilanku dengan Ratri termasuk yang ditunggu-tunggu, karena aku dan dia bisa memberikan tampilan yang berbeda.

Duet pun usai. Aku kembali ke sudut kedai kopi, sementara Ratri masih terus mendendangkan lagu-lagu yang populer. Kuakui, Ratri gadis yang cantik bersuara emas. Hampir setiap lagu yang dinyanyikannya adalah sebuah keindahan. Itu alasanku mencintainya. Entah pesona apa yang dimiliki Ratri, sehingga aku begitu nyaman mendengar tiap kata yang keluar dari mulutnya.

Aku mendengarkan lantunan suara Ratri sambil meneruskan tulisan yang entah akan berakhir seperti apa. Sampai akhirnya, di depanku mendadak muncul seorang laki-laki paruh baya yang tampan. Dari penampilannya, aku menebak dia seorang eksekutif. Sorot matanya tajam menatap ke arahku. Hal itu membuatku merasa punya kesalahan padanya. Padahal, ini adalah pertemuan pertamaku dengannya.

Aku yang memang seorang pemberani, membalas tatapan matanya. Kali ini, dia membalasnya dengan senyuman. Senyuman yang akan mengubah kemarahan menjadi keramahan. Aku tak kuasa untuk tidak tersenyum padanya.

“Hei… .” Sapanya singkat.

Aku membalasnya dengan jabatan tangan yang erat. Dia memperkenalkan diri sebagai Rommy. Perlahan, Rommy menggeser kursi kemudian duduk dengan elegan tepat di depanku.

“Aku tahu kamu, dari Ratri. Ratri banyak cerita tentang kamu.”

Aku sedikit tersipu. Kututup sedikit layar laptopku agar lebih leluasa berbincang dengannya.

“Aduh! Om Rommy bisa aja. Emang Ratri cerita apa aja?”

Dia tidak segera menjawabku. Tangannya sibuk mengaduk kopi hitam yang baru saja diantarkan seorang waiter. Tak urung, indera penciumanku mencium kesamaan aroma, persis seperti kopiku.

Setelah seluruh gula tercampur sempurna, dia kembali angkat bicara.

“Ratri cerita banyak tentang kamu. Keluargamu, kuliahmu, hobimu menulis, dan tentang sesuatu hal yang… Hmm… Kayaknya kamu tahu apa yang kumaksud. Bukan begitu?”

Aku mengangguk pelan memahami maksud perkataannya. Di lingkungan high class setidaknya aku cukup terkenal. Terlebih posisi Ibu yang seorang anggota dewan. Hal ini membuat aku cukup familiar bagi beberapa kalangan.

“Oya, menurut Ratri, saat ini kamu sebenarnya enggak setuju kalau ibumu mencalonkan lagi sebagai caleg.”

Aku terdiam mencoba menerka-nerka ke mana arah perbincangan dengannya ini. Keraguan mendadak muncul dalam dadaku.

“Enggak papa kalau kamu enggak mau cerita. Padahal, aku hanya ingin menawarkan jalan untuk menjegal ibumu.”

Dahiku mengernyit. Tidak mungkin seseorang yang baru kukenal, tiba-tiba menawarkan jasa begitu saja. Pasti ada imbalannya. Demi mendengar penjelasannya, aku merasa siap untuk segala kemungkinan.

“Iya, Om. Selama ini Ibu udah memberikan citra yang baik di depan umum. Tapi, kenyataannya, berlimpahan materi membuat Ibu lupa diri. Ayah yang hanya pegawai rendahan terpaksa mengalah. Bahkan, sampai akhirnya Ibu memutuskan untuk memilih brondong seusiaku.”

Aku menerawang. Kudengar Ratri masih menyanyikan lagu untuk kesekian kalinya. Mendadak mataku perih. Luka yang terpendam, kini sepertinya hendak banjir bandang. Om Rommy masih menungguku melanjutkan kata-kata.

“Karenanya aku mutusin untuk lari dari rumah. Aku memilih jalan hidupku sendiri. Seperti ini, Om. Kuliah, menulis, dan jalan-jalan malam. Setidaknya aku bisa menemukan kenyamananku sendiri.”

“Nikmati saja. Setelah ini berhasil, kamu akan menemukan kehidupanmu yang dulu lagi. Kalaupun tidak, Om yang akan membantumu keluar dari zona nyaman kamu. Meskipun baru ketemu, Om yakin kamu sebenarnya anak yang baik.”

“Makasih, Om. Jadi, apa yang harus kulakukan?”

Om Rommy mencondongkan tubuhnya ke arahku. Kudekatkan telingaku untuk mendengarkan dia berbisik. Aku mengangguk tanda paham.

“Gimana? Kamu mau, kan?”

“Iya, Om. Aku mau melakukan apa aja, asal Ibu bisa kembali pada Ayah.” Aku mengangguk mantap tanda telah siap menerima risiko apa pun. Aku sudah tidak memedulikan diriku sendiri. Yang kupedulikan hanya Ayah. Bagiku persyaratan yang diberikan Om Rommy tidaklah berat. Toh ini bukan pertama kalinya bagiku. Entah keseratus kali atau keseribu kali. Yang aku tahu, aku nyaman dengan apa yang kulakukan.

“Ratri tahu tentang hal ini, Om?” tanyaku saat Om Rommy mencecap kopi di cangkirnya.

“Iya. Kenapa emangnya?” jawabnya meletakkan cangkir kopi yang tinggal setengahnya di dekat laptopku.

“Enggak papa, Om. Toh, selama ini Ratri juga udah tahu semua tentang aku.”

“Aku mengerti. Mungkin ini berat bagimu dan Ratri, karena kalian sangat dekat.”

Aku terdiam. Pun Om Rommy. Tak lama, Ratri sudah bergabung dengan aku dan Om Rommy. Setelah berjabat tangan dan sedikit berbasa-basi, Ratri pergi. Kali ini aku menatapnya lagi dalam-dalam, dalam cinta diam-diam. Aku tahu, meskipun kuutarakan, Ratri tak mungkin menerimaku, sebab dia tahu seperti apa diriku.

Kulirik jam tangan menunjukkan angka sebelas. Ini saatnya, pikirku. Aku harus segera menemui lawan politik Ibu malam ini juga. Ada keyakinan dia bisa mengalahkan Ibu. Dengan begitu Ibu bisa kembali pada Ayah. Sementara aku, akan meneruskan hidupku sendiri bersama Om Rommy.

Aku mengikuti langkah Om Rommy keluar kedai kopi. Kali ini Om Rommy yang menyetir. Aku mengajaknya karena dia tadi ke kedai kopi naik taksi. Entah apa yang ada dalam pikiranku saat ini yang begitu saja mudah percaya pada Om Rommy. Semata-mata karena Om Rommy adalah paman Ratri, orang yang kucintai selama ini, diam-diam.

Perlahan namun pasti, aku berusaha keluar dari zona nyaman dengan mencintai Ratri diam-diam. Ratri tidak mungkin membalas cintaku, pun aku yang takkan pernah mengutarakannya.

Di perjalanan menuju rumah lawan politik Ibu, Om Rommy banyak cerita tentang kehidupan pribadinya. Tentang perceraiannya dan juga pekerjaannya sebagai agen perantara. Entah mengapa aku merasa nyaman di dekatnya. Bahkan lebih nyaman saat aku bersama Ratri semalaman. Tak bisa kupungkiri, Om Rommy punya magnet tersendiri.

“Nah! Kita udah sampai. Aku akan menunggumu di ujung jalan. Kabari kalau udah selesai.”

“Iya, Om.”

“Dan, kayak yang Om bilang tadi, ini untuk yang terakhir kali. Setelahnya, kamu bisa ikut denganku.”

Aku mengangguk. Ini memang janjiku dari awal. Akan menghentikan perburuan, jika Ayah dan Ibu sudah baikan seperti dulu. Dan, aku yakin malam ini adalah untuk terakhir kalinya. Aku akan memenuhi janjiku pada diri sendiri dan Om Rommy, meskipun harus keluar zona nyaman, menghapus cinta diam-diam pada Ratri. Biarlah Ratri terkubur menjadi kenangan.

Aku keluar mobil, lalu melangkah menuju gerbang rumah Ibu Matilda, lawan politik Ibu. Aku tahu dia orang yang sangat berpengaruh. Aku yakin dia bisa menggagalkan Ibu dalam pemilihan caleg. Aku mantap menekan bel pintu gerbang. Ibu Matilda menyambutku lalu mengajakku masuk ke rumah besar yang sepi itu.

Kesepakatan tercapai. Satu jam pun berlalu. Di atas tempat tidur, Ibu Matilda masih memelukku erat.

“Bu… Izinkan aku pergi dari pelukanmu malam ini.”

“Iya. Pergilah. Enggak usah khawatir. Nanti biar Ibu yang urus semuanya, ya. Kamu boleh kembali lagi ke sini menuntut hakmu jika Ibu gagal memenuhi permintaanmu. Rumah ini jaminannya. Kamu percaya sama Ibu, kan?”

“Iya, Bu.”

Aku merapikan pakaian, lalu berpamitan. Aku melangkah keluar dengan keyakinan akan bisa keluar dari zona nyaman, meskipun harus mengorbankan perasaan, bahwa aku mencintai sesama perempuan.

***

Perempuan dalam Mimpi [Episode 2]

Tags

Sambungan dari flash fiction Bang @benzbara_ berjudul “Perempuan dalam Mimpi” [Episode 1], tulisan ada di sini.

Aku kembali ke tempat dudukku semula di no smoking area. Pandanganku tertuju pada layar laptop yang masih menyala menampilkan screen saver. Perempuan dalam mimpiku kali ini lenyap.

“Mas Rio! Maaf… Kami sudah mau tutup.”

Suara pelayan mengagetkanku. Aku berusaha mengembalikan kesadaranku dari pengaruh pertemuan yang tak terduga dengan perempuan dalam mimpiku. Kulihat sekeliling kafe. Sepi.

“Sial!”

Aku tidak segera beranjak dari tempat dudukku. Sepertinya ada magnet yang menarikku kuat-kuat untuk tidak segera beranjak. Tinggal sedikit lagi. Tanggung, pikirku.

“Ram… ,” kataku tiba-tiba.

“Iya, Mas? Ada yang bisa dibantu?”

“Kamu kemana aja? Kok baru muncul? Sekalinya muncul, eh… main usir orang aja,” kataku bercanda.

“Tadi saya izin ke rumah sakit sebentar, Mas. Ada keluarga yang sakit.”

“Oohhh… ,” aku mendengus pelan tanpa berusaha mengorek informasi lebih dalam lagi. Begitu caraku menghormatinya.

“Oya, Ram. Boleh aku di sini sebentar lagi? Tanggung, nih,” tanyaku menatap ke arahnya.

Lelaki berpenampilan rapi yang sudah mengenalku itu bergeming. Dia memang satu-satunya pelayan yang akrab denganku. Bisa dibilang sangat dekat. Kesamaan terhadap hal-hal yang berbau misteri, membuatku akrab dengannya.

Aku dan dia bahkan sering berbagi cerita setelah dia pulang kerja, meskipun ada beberapa hal yang tak bisa kuceritakan. Termasuk perempuan dalam mimpiku. Pun dengan Rama yang enggan menceritakan lebih jauh tentang keluarganya. Meskipun sudah akrab, aku dan Rama tetap berusaha menjaga privacy masing-masing.

Kulihat Rama menghentikan aktivitasnya dan balas menatapku lekat.

“Emang lagi apa sih, Mas?”

“Entar aku kasih liat kalau udah selesai, ya. Enggak sampai lima menit, kok,” kataku tersenyum.

Rama pun akhirnya tersenyum. Aku menganggapnya sebagai persetujuan. Kubiarkan Rama melanjutkan aktivitasnya membereskan kafe, sementara aku kembali mengutak-atik laptopku. Melanjutkan yang ingin kuselesaikan. Percakapan dengan Rama setidaknya mampu membuatku sedikit lupa akan rasa kecewa.

Done!

Aku berteriak mengagetkan Rama yang sedang membersihkan meja di depanku. Dengan spontan dia menoleh ke arahku.

“Ada apa, Mas Rio? Kayaknya seneng bener.”

Aku menyeringai ke arahnya, “Enggak ada apa-apa, Ram.”

“Udah selesai, Mas?” tanya Rama yang tahu kesukaanku saat aku menghabiskan waktu di ruangan ini.

“Udah dong! Mau liat enggak?”

“Mau dong, Mas!”

Dengan cepat, Rama telah berdiri di sampingku. Aku tersenyum puas melihat hasil kerjaku. Dia memperhatikan detail sketsaku, sesekali mengernyitkan dahi. Ruangan mendadak hening.

“Rasa-rasanya saya mengenal perempuan ini, Mas.”

“Serius, Ram?” tanyaku penasaran.

Kedua tangan Rama bertumpu di meja, tepat di samping laptopku. Matanya tajam menatap layar laptopku. Rama kembali mengernyitkan dahi. Kuperhatikan raut tak percaya di wajahnya.

“Kamu kenapa, Ram?”

“Mas… Saya mengenal sketsa perempuan ini. Namanya Aryanti.”

“Aryanti? Siapa itu Aryanti?” tanyaku semakin penasaran. Sepertinya Rama akan bisa membantu menjawab pertanyaanku selama ini.

“Maaf, Mas. Tapi, saya harus segera menutup kafe ini.”

Rama berlalu meninggalkanku dalam tanya. Bagaimana mungkin? Aku pun berpikir, bahwa segala kemungkinan bisa saja terjadi dalam kehidupan ini.

“Tunggu, Ram! Tunggu!” teriakku setengah berlari mengejarnya, “bisa kamu jelasin siapa itu Aryanti, Ram?” kataku setengah memohon.

Rama berhenti, membelakangiku di dekat meja kasir. Dia menjawab pertanyaanku dengan sedikit bergetar, “Dia… Dia… Dia kakak saya, Mas.”

Aku menggeleng tak percaya mendengarnya.

***

#PuisiHore2 ~ Sendiri Lagi

Tags

,

Di depan pintu, langkah kakimu terdengar menjauh,
Seketika ada debar yang mendadak luruh,
Langit dadaku perlahan runtuh,
Seketika kilat menyambar dalam gemuruh.

Gemuruh memekakkan pendengaran menjadi tangis,
Pilu menyeruak perlahan membuat rindu terkikis,
Sendiri, aku meratapi rindu yang enggan habis,
Lalu, satu tanya keluar dari bibir tipis.

Tipis hanya segaris mengeja aksara,
Tentang tanya, “Oh mengapa?”
Tak ada jawaban kunjung kuterima,
Sebab bayangmu tak lagi nyata di pelupuk mata.

Mata tak lagi kuasa menatap lekat,
Pada senyummu yang telah menjelma pekat,
Kini kau dan aku terpisah oleh sekat,
Rindu dengan temu yang tak lagi rekat.

Rekat awalnya berakhir kehilangan arti hidup,
Sebab tanpamu akulah nyala lentera yang mulai redup,
Tertiup angin malam memantik luka paling dalam,
Sebab perpisahan adalah pilu paling kelam.

Kelam membuatku meraba-raba tentang salah,
Rasa yang sebenarnya tak kumiliki meski akhirnya aku kalah,
Aku adalah bisu dalam teriakan paling pilu,
Karenanya, aku tak inginkan pengganti dirimu sebab hati memilih kelu.

Kelu menunggu kau kembali hingga ajal,
Meski memujamu adalah jalan terjal,
Sementara aku, pengelana sunyi tak lagi mendengar suara hati,
Hanya dengan bayangmu, aku tak lagi sendiri, menunggu mati.

***

[Berani Cerita #10] ~ Ayah, Izinkan Aku Pergi

Tags

Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat.

“Liza,” katanya, “aku sedang mencarimu; masuklah ke ruang kerjaku.”

Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya.

Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat.

“Maafin Liza, Yah.”

“Tapi enggak begini juga caranya, Liz. Kita bisa omongin baik-baik.”

Liza terdiam. Sesekali dia melihat ayahnya menatap kosong langit-langit ruang kerjanya. Liza tahu ini tidak mudah bagi ayahnya dan juga dirinya. Tapi, keputusannya sudah bulat.

“Coba pikirin lagi keputusanmu. Kamu yakin mau resign dari kantor Ayah?”

Liza tidak segera menjawab pertanyaan Ayahnya. Dia sibuk memainkan ujung blazer kerjanya.

“Iya, Yah.”

Ruang kerja bercat biru muda itu mendadak hening. Sesekali terdengar suara pulpen yang diketuk-ketukkan pelan di atas meja.

“Kamu sebenarnya ada masalah apa, sampai tiba-tiba berniat mengundurkan diri?”

“Enggak ada masalah apa-apa, Yah,” jawab Liza berbohong.

Ruangan kembali sepi. Hanya terdengar suara deru AC yang mengeluarkan hawa dingin.

“Kamu enggak mikirin perasaan Ayah. Setelah Ibu kamu pergi ninggalin Ayah, lalu kamu akan ninggalin Ayah juga?”

Liza tertunduk.

“Siapa lelaki itu, Liz? Siapa?!”

Kali ini Ayah Liza berbicara dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya. Liza sedikit tersentak.

“Apa kompetitor Ayah yang setiap malam Minggu datang ke rumah itu? Hah?! Hah?!”

Liza kembali terdiam. Dia tidak berani menatap sorot mata ayahnya. Dia tahu, saat ini kondisinya tidak semudah yang dia bayangkan sebelumnya.

“Begini caramu membalas kebaikan Ayah selama ini? Atau emang kamu sengaja membalaskan sakit hati ibumu? Jawab, Liz! Jawab!”

“Liza enggak mungkin kayak gitu, Yah. Bagaimanapun juga, Ayah adalah ayahku. Liza enggak mungkin ngelupain semua kebaikan dan kasih sayang Ayah.”

“Bukan itu, Liz. Tapi … Tapi … . Arghh!”

Liza memahami maksud perkataan ayahnya. Ayah Liza sedang memikirkan titipan yang telah diberikannya pada Liza.

“Aku akan menjaga titipan itu, Yah. Enggak usah khawatir.”

Kesepakatan pun akhirnya tercapai. Ayah Liza menandatangani surat pengunduran dirinya.

“Maafin Ayah, Liz,” kata Ayah Liza parau.

“Maafin Liza juga, Yah. Mungkin ini emang yang terbaik untuk kita.”

Setelah mencium tangan, Liza pamit pada ayahnya. Liza melangkah perlahan meninggalkan ruang kerja penuh kenangan indah itu.

Liza kini bisa merasakan sakit hati yang sama dengan ibunya yang memilih pergi karena mengetahui ayahnya selingkuh dengan perempuan lain. Sekarang dia kena batunya saat mengetahui ayahnya telah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.

Dengan bekal uang tabungan dan pesangon dari ayahnya, Liza bertekad untuk berjuang sendiri menjaga titipan ayahnya. Liza melangkah mantap keluar sambil mengusap perutnya.

***

.:. Cinta (Baru) bagi Jiwa yang Hampir Mati .:.

Tags

Aku masih sendirian di sini. Semerbak bunga kamboja menguar ke segala penjuru. Indera penciumanku mengenali harum itu sejak sepuluh tahun yang lalu aku memutuskan tinggal di sini, sendiri.

Tempat tinggalku memang tidaklah luas. Hanya petak kecil, tapi cukup nyaman. Setidaknya bagiku yang memang penyendiri. Jauh dari keramaian membuatku lebih lega. Terlebih sejak kematian istriku saat melahirkan anak pertamaku, Arion, yang saat ini kutitipkan di rumah kedua orang tuaku. Tekadku semakin bulat untuk menyepi dari riuh kehidupan dunia.

Sendiri membuatku merasa begitu menghargai riuhnya kehidupan. Hal-hal kesenangan duniawi perlahan kutinggalkan, kecuali pekerjaanku sebagai pemilik toko buku pastinya. Bagaimanapun juga aku harus terus hidup. Sendiri bukan berarti aku harus terus-terusan meratapi jalan hidup. Aku harus tetap bangkit.

Suasana di tempat tinggalku sepi, seperti biasanya. Setidaknya saat malam aku bisa menikmati sensasi desau angin dan wangi kamboja. Tidak seperti saat aku masih tinggal di apartemen mewah, dulu. Seperti halnya malam ini. Tak ada suara apa pun selain nyanyian kesedihan burung malam yang begitu menyayat. Tapi, tidak seperih hatiku saat ini.

Sepuluh tahun sendirian, memunculkan rasa kesepian yang mendalam. Hal ini membuatku menjadi lebih peka terhadap hal-hal di sekitar. Aku bisa membaca musim hanya dari dendang burung malam, bahkan aku bisa mendengar kematian hanya dari wangi bunga.

Kusandarkan tubuhku yang lelah di atas kursi kerjaku. Aku menyebutnya begitu. Sebab di kursi itu aku banyak menghabiskan waktu menikmati dunia kesendirianku lewat tulisan. Dan, menulis adalah caraku menghilangkan kepenatan rutinitas seharian di toko buku. Kuhirup aroma harum yang keluar dari secangkir kopi yang kuseduh sendiri.

“Ah! Masa lalu… .”

Mendadak aku teringat saat pertama bertemu almarhumah istriku di sebuah kedai kopi langgananku. Dia seorang pegawai bank swasta yang lebih memilih menghabiskan weekend di kedai kopi ini. Sama seperti aku.

“Sering nongkrong di sini, ya?” tanyaku berbasa-basi setelah memperkenalkan diri.

“Iya. Kamu sendiri?” Dia tersenyum ke arahku.

“Aku baru-baru aja sih. Belum lama ini, kok,” jawabku sambil mencecap kopi pesananku.

“Kalau aku, tempat ini adalah kenangan,” jawabnya yang kemudian menceritakan kenangannya bersama mantan kekasihnya yang menikah lebih dulu.

Kenangan. Iya. Kenangan. Sama seperti dirinya saat ini bagiku. Tak lebih dari kenangan yang sulit untuk ditinggalkan. Ingatan yang hampir tak bisa kutanggalkan. Sepuluh tahun sebenarnya waktu yang cukup lama bagiku untuk mengubur kenangan itu bersama jasadnya. Tapi, kadang kenyataan untuk melupakan tak semudah yang diinginkan.

Kusesap lagi kopi dari cangkir. Kali ini tidak sendiri. Ada ingatan tentang istriku menemani. Aku tersenyum saat bayangannya perlahan pergi. Diganti dengan aktivitas menyelesaikan sebuah tulisan tentang kematian.

“Ayah belum tidur?”

Suara dari dalam kamar itu mengagetkanku, suara anakku, Arion. Aku terkejut sebab kenyataannya saat ini aku sedang tidak sendiri. Astaga! Aku lupa. Saat ini adalah malam Minggu, saat bagi Arion untuk tinggal bersamaku. Kenapa aku jadi pikun seperti ini? Ah! Sepertinya kenangan dengan istriku telah menenggelamkan aku kembali ke masa lalu. Sampai aku tak sadar ada masa sekarang yang membutuhkan perhatianku, anakku.

Aku bergegas masuk ke dalam kamar. Kupeluk bocah berusia lima belas tahun berkulit bersih itu. Kuceritakan padanya tentang banyak hal indah. Dalam pelukanku, Arion tersenyum dan akhirnya tertidur pulas. Kukecup keningnya sekilas, lalu beranjak meninggalkannya sendirian.

Aku kembali berkutat dengan tulisan yang belum juga selesai. Suasana masih hening, seperti biasanya, karena memang aku tidak memiliki tetangga. Tetangga terdekat berjarak hampir seratus meter. Tanah tempat kubangun rumah ini dulunya tanah sawah yang dijual murah. Tak heran, masih banyak lahan kosong di sekitar rumahku. Beruntung di bagian samping rumah, ditumbuhi pohon jati yang lebat, sehingga saat siang rumahku tetap nyaman dan teduh.

Kuputuskan menghentikan tarian jemariku di atas keyboard. Kubaca lagi dengan teliti dan saksama.

“Sedikit lagi,” batinku sambil meraih ponsel yang tiba-tiba berbunyi di samping laptopku.

Sebuah pesan singkat masuk dari Arini, bagian administrasi di toko bukuku, kekasihku waktu SMA dulu.

“Istirahat, Mas. Jangan diforsir.”

Dengan malas aku membalas pesan singkat itu hanya dengan satu kata, “Iya.”

Kuletakkan kembali ponselku. Seketika terbayang wajah Arini. Sosok yang pernah kucintai, namun kesalahannya dulu masih membekas hingga aku memilih istriku untuk menemani kesendirianku waktu itu. Arini seorang yang tak pernah kenal lelah terus mencintaiku dari dulu sampai sekarang. Bahkan, dia sampai rela tidak menikah hanya untuk membuktikan bahwa dia sungguh-sungguh mencintaiku. Sementara bagiku, kesendirian bukanlah alasan untuk menerima kembali cinta yang pernah menyakitiku. Bagiku, Arini hanyalah masa lalu dan seorang teman, sahabat terbaik bagi Arion. Aku tahu, sebab Arion lebih banyak menghabiskan waktu dengan Arini dibanding aku saat berkunjung ke toko buku.

Aku menghela napas panjang. Kutarik tubuhku untuk menghilangkan penat, lalu beranjak menuju kamar Arion untuk memastikan tidurnya tidak terganggu oleh nyamuk atau hal lain. Kulihat Arion masih dalam posisinya semula. Tertidur memeluk guling yang baru kubelikan.

“Meskipun tanpa seorang Ibu. Aku yakin anakku akan tumbuh menjadi laki-laki yang kuat, seperti aku,” batinku sambil menutup pintu, perlahan.

Aku kembali ke kursi kerjaku. Dua jam berlalu. Kulirik jam dinding telah menunjukkan angka dua belas tepat. Aku tersentak saat tiba-tiba angin kencang menderu masuk ke dalam rumah melalui lubang pintu. Aku tahu ada yang datang. Meskipun begitu, aku tidak memedulikannya. Aku kembali larut dalam kenangan tentang kematian istriku untuk mendapatkan ruh tulisan.

Belum selesai aku menulis satu kalimat, angin mendadak berhenti. Aku terpaku saat samar-samar kudengar suara anak kecil. Tak butuh waktu lama untuk mengenali dan menemukan sumber suara itu.

” … “

“Arion baik-baik aja.”

Tak salah lagi itu adalah suara Arion, anakku. Terdorong rasa penasaran, aku menempelkan telinga ke pintu. Tak terdengar apa-apa.

” … “

“Arion bahagia, kok.”

Suara Arion kembali terdengar. Aku terpaku, tanpa berani membuka pintu.

” … “

“Enggak ah. Arion pilih tinggal sama Ayah aja.”

Apa maksud Arion dengan ucapannya itu? Pertanyaan berkecamuk dalam dadaku.

” … “

“Pengin, sih. Arion juga kadang bingung mau jawab apa saat ada temen yang nanya.”

Aku menahan napas demi mendengar kata-kata Arion. Aku tidak tahu apa yang terjadi dalam kamarnya.

” … “

“Tapi, Arion akan dibawa ke mana?”

Deg! Aku tersentak untuk kesekian kalinya.

” … “

“Emang ada tempat yang lebih indah dari rumah Ayah?”

Aku terkulai lemas di depan pintu. Kata-kata Arion begitu nyata hinggap di sanggurdi telingaku. Menusuk tepat ke jantungku.

” … “

“Arion enggak percaya. Meskipun biasa saja, tapi bersama Ayah adalah keindahan.”

Aku setengah tidak percaya. Bagaimana mungkin anak berusia sepuluh tahun seperti Arion bisa berkata seperti itu. Aku masih lemas. Kali ini keningku menempel di pintu kamarnya.

” … “

“Emang sih, Ayah jarang memberikan apa-apa. Tapi, Arion yakin, kok, kalau Ayah sayang banget sama Arion.”

Kali ini giliran indera penglihatanku yang tertusuk-tusuk. Pedih dan mendadak tergenang cairan bening.

Airmata menderas di pelupuk mataku. Aku bersimpuh di depan pintu dengan rasa tak percaya. Kedua tanganku hampir tak punya tenaga menyentuh permukaan kayu pintu itu.

” … “

“Arion enggak papa. Arion yakin, suatu saat Ayah bisa membuat Arion bahagia dengan hadirnya seorang Ibu.”

Aku sepertinya tidak sanggup lagi menghadapi situasi absurd seperti ini. Kenyataannya aku sama sekali belum bisa membahagiakan Arion.

” … “

“Iya. Tenang aja. Ayah itu seseorang yang hebat, kok.”

Deg! Lembing kembali menusuk jantungku. Aku merasa bersalah.

” … “

“Pasti. Arion akan berdoa. Terutama untuk Ayah, sumber kebahagiaan Arion selama ini.”

Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Situasi ini sungguh sulit bagiku. Aku tak tahu dengan siapa Arion berkomunikasi. Bisa jadi dia hanya mengigau.

” … “

“Arion hanya ingin melihat Ayah bahagia. Meskipun itu berarti harus melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya.”

Aku semakin kelu. Bahkan teriakan pun tak cukup terdengar olehku sendiri.

” … “

“Tante Arini. Aku menyukainya. Arion yakin dia akan menjadi Ibu yang baik bagi Arion.”

Takkan kubiarkan percakapan absurd itu berkelanjutan. Aku mencoba berdiri untuk meraih gagang pintu. Usahaku gagal, aku terlalu lemah.

” … “

“Besok Arion sampein ke Ayah. Semoga Ayah berubah pikiran dengan mau menikahi Tante Arini.”

“Arion, anakku.” Aku berbisik lemah di depan pintu.

Wusss…!

Angin kencang berhembus dari sela-sela daun pintu kamar Arion, menghilang di luar pintu ruang tamu. Bersamaan dengan itu, tak kudengar lagi suara Arion. Hening. Hanya desah napas halus dari hidung mancungnya.

Aku berusaha bangkit dari posisiku. Gagang pintu berhasil kuraih, perlahan kubuka. Tatapanku tertuju pada Arion di tempat tidur. Posisi tidurnya masih seperti semula. Kali ini ada yang berbeda di raut polosnya, senyum bahagia.

Kupeluk tubuhnya, “Maafkan Ayah, Arion.”

Arion bergeming. Masih dalam senyum bahagianya.

Kubuka mata, saat menyadari pagi telah tiba. Minggu pagi yang cerah. Pun hatiku yang membuncah. Pengalaman pertama memeluk tubuh anakku semalaman adalah penyebabnya. Damai kurasakan di hati.

Kutinggalkan Arion yang belum juga bangun. Dengan sedikit bergegas, aku melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri. Secangkir kopi dan segelas teh manis bersisian di meja depan. Untukku dan Arion. Seperti itu seharusnya setiap pagi.

Kulihat pintu kamar Arion yang terbuka perlahan saat aku menyiapkan roti bakar selai stroberi, kesukaannya. Arion tersenyum ke arahku. Aku pun membalasnya.

Di meja depan, Arion menghabiskan roti bakar dan teh manis buatanku. Sementara aku, masih belum menyentuh roti jatahku.

“Makasih, Yah.”

“Ayah yang harus berterima kasih sama kamu, Arion.”

“Kenapa gitu, Yah?”

“Enggak papa, Arion.”

Aku menatap dalam-dalam ke bola mata bundar Arion, bola mata milik istriku. Berbinar-binar dan selalu penuh semangat.

“Ada yang ingin Arion sampein, Yah.”

“Enggak usah, Arion. Ayah udah tahu semuanya.”

“Jadi… Semalam Ayah… ?”

“Iya. Maafin Ayah, ya? Mau, kan?” tanyaku mengusap kepalanya.

“Iya, Yah. Maafin Arion juga karena udah lancang. Arion udah enggak tahu lagi harus bercerita sama siapa.”

“Udah lupain aja. Kamu udah siap, kan?”

“Hari ini Ayah mau ngajak Arion ke mana? Tempat biasa? Bosen ah, Yah.”

“Iya. Kali ini sebentar aja, kok. Enggak kayak biasanya yang sampai berjam-jam. Hanya untuk kirim doa. Kamu mau nemenin Ayah, kan?”

“Pasti dong, Yah. Terus abis itu ke mana lagi, Yah?”

“Rahasia,” jawabku tersenyum penuh makna.

Kugandeng tangan Arion ke komplek pemakaman. Tak butuh waktu lama untuk tiba di sana, sekitar tiga menit saja. Di antara batu nisan, aku menggenggam erat tangannya. Di sebuah nisan bertuliskan nama “Aryanti”, aku berhenti. Doa telah dituntaskan. Kesepakatan hati telah diselesaikan. Kini saatnya mengajak Arion ke tujuan berikutnya, mungkin tujuan akhir hidupku.

Setiba di rumah, aku mengajak Arion naik mobil tua. Kali ini, aku akan membuatnya benar-benar bahagia. Dari jendela mobil, kulambaikan tangan ke arah rumahku yang temboknya menjadi satu dengan komplek makam istriku.

Sebelum berangkat, jari-jariku lincah mengirim sebuah pesan singkat.

“Jangan ke mana-mana. Sepuluh menit lagi aku sampai di rumahmu. Bersama Arion.”

Kulirik ponselku. Satu kalimat pendek tertera di layarnya.

“Iya, Mas.”

Balasan dari Arini.

Mobil menderu menjauh dari sepi menuju keramaian yang nyata. Aku beradu senyum dengan Arion di sampingku. Aku bahagia dan sama sekali tidak pernah menyesal telah mencuri dengar pembicaraan Arion dengan ‘ibunya’, istriku. Sebab begitu, aku kembali menemukan cinta baru bagi jiwaku yang hampir mati.

***

Perempuan dalam Mimpi [Episode 2]

Tags

Aku mematung. Pandanganku masih fokus pada punggungnya yang perlahan menghilang. Aku hendak keluar kafe. Tatapan mataku terpaku pada ponsel di meja. Setengah berlari, aku menyusulnya.

“Hei…!”

Perempuan itu telah lebih dulu masuk ke dalam lift. Aku gagal mengejarnya. Aku yakin dia menuju parkiran mobil.

Aku berpikir cepat, melesat mencari tangga darurat. Aku menemukannya. Akhirnya, dengan napas memburu aku tiba di depan lift.

Jantungku berdegup saat melihat mobil Jazz merah terparkir. Tak salah lagi. Itu mobil yang terakhir kali kulihat sesaat sebelum aku masuk rumah sakit.

Pintu lift terbuka. Kuperhatikan setiap orang yang keluar. Dia tidak ada di antara mereka. Jangan bilang aku salah lift, karena ini satu-satunya lift.

Aku mengumpat. Beribu pertanyaan berkecamuk. Kau tahu dia tidak akan menghilang begitu saja, kan?

Aku linglung. Menebak-nebak ke mana perginya perempuan itu. Tak lama, aku tiba di kafe itu lagi. Kata pelayan, perempuan itu tidak kembali.

Damn!

Kuputuskan turun ke area parkir. Mobil Jazz merah sudah tidak ada. Refleks, kuraih ponsel dalam saku. Kuaktifkan.

“Deg!”

Wallpaper ponselnya mengejutkanku. Fotoku dan foto perempuan itu. Iya. Perempuan dalam mimpiku. Aku membuka galeri foto dan semakin terkejut saat melihat foto-fotoku dan dia. Benar! Aku tidak saja pernah menemuinya dalam mimpi, tapi juga dalam kenyataan.

Aku pernah memeluknya di tepi pantai, bersamanya di sebuah kafe, dan menghabiskan candle light dinner romantis di halaman belakang rumahnya. Ah! Iya… Rumahnya.

Kutinggalkan area parkir. Mobilku menembus terik membelah jalanan kota. Lima belas menit berlalu, aku tiba di depan rumah bercat biru. Aku sekarang ingat semuanya setelah hampir setahun amnesia karena kecelakaan saat hendak menjenguk perempuan itu di rumah sakit.

Tapi, kalau perempuan itu mengenalku, kenapa tadi dia meninggalkanku? Ah entahlah! Aku turun dari mobil. Perasaanku agak tenang saat melihat mobil Jazz merah terparkir di garasi. Sepatuku menapak rerumputan. Kutekan bel rumah. Muncul seorang pria seusiaku yang tak asing. Dari penampilannya, sepertinya dia baru saja pulang dari bepergian.

“Chandra?”

“Rama?”

Aku dan Chandra saling bersitatap keheranan, lalu berpelukan.

“Kamu sudah sembuh, Rama?”

“Menurutmu? Apa aku terlihat sakit? Setelah sekian lama, ingatanku pulih. Meskipun belum pulih total.”

“Aku tahu, kok. Ayo masuk! Kamu pasti capek. Aku juga baru saja sampai, nih,” ajaknya sopan.

Aku mengikutinya, duduk di sofa ruang tamu. Chandra duduk di sampingku. Raut Chandra berubah. Tak seceria saat bertemu aku. Dengan mimik sedih, Chandra bicara.

“Rama… Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku ada di sini, kan?”

“Iya,” jawabku.

“Maafkan aku.”

Aku kelu. Apa mungkin Kirana yang telah berjanji setia mengkhianatiku dengan memilih Chandra, sahabatku?

“Ceritanya panjang. Setelah hampir setahun kamu amnesia, karena aku tidak sengaja menabrakmu waktu itu, orang tua Kirana memintaku menikahinya. Dan, Kirana bersedia.”

Aku menghela napas, “Lalu, di mana Kirana sekarang? Aku tadi ketemu dia di kafe, tapi malah meninggalkanku.”

Kini, giliran Chandra yang menarik napas. Menghilangkan sesak, sepertinya.

“Kirana telah meninggal sepuluh bulan yang lalu. Sebulan setelah pernikahan kami. Kanker darah merenggut nyawanya. Itu sebabnya aku menikahinya. Demi Kirana dan kedua orang tuanya.”

Aku terdiam. Tak percaya. Ponsel yang hendak kuberikan pada Chandra terjatuh. Pecah. Semua seketika gelap saat perlahan perempuan dalam mimpiku lenyap.

***

Sambungan dari flash fiction Bang @benzbara_ berjudul “Perempuan dalam Mimpi” [Episode 1], tulisan ada di sini.

.:. BERBEDA .:.

“Jangan lupa nanti malem, ya.”

Aku membalas singkat pesan masuk dari teman SMA-ku itu.

“Beres!”

Aku bergegas merapikan diri. Aku kenakan gaun terbaikku untuk pesta malam ini. Tak lupa, rambut kukuncir dua, kiri-kanan. Kupasang kacamata saat aku melangkah keluar dari rumah.

Sekeliling sudah sepi, padahal baru pukul tujuh malam. Sepertinya ada yang aneh. Aku tak ambil pusing. Kulangkahkan kaki di jalan setapak keluar kompleks yang remang-remang. Aku tak butuh kendaraan karena jarak yang kutempuh sangat dekat. Tak lebih dari seratus meter.

Di jalan yang kulewati, masih ramai orang lalu lalang. Suara sirine polisi terdengar membahana memecah malam. Aku terus melangkah sambil menatap heran orang-orang yang berkerumun. Sebagian tampak terkejut, sedangkan kebanyakan tampak bersedih, bahkan ada yang menangis tersedu-sedu.

“Ada apa ini?”

Aku memercepat langkahku. Tanpa memedulikan keriuhan. Aku tak ingin terlambat menghadiri acara reuni dengan teman-teman SMA-ku. Dari kejauhan aku melihat sebuah rumah mewah. Di depannya kulihat sudah ramai orang-orang. Aku kenal beberapa di antara mereka. Aku tak berani menyapa. Aku malu dengan keadaanku yang cupu. Selalu seperti itu.

Pintu terbuka lebar saat tuan rumah mempersilakan aku masuk. Pesta siap digelar. Aku duduk sendiri di sofa menikmati minuman. Ruangan sepi.

“Ke mana yang lain?”

Aku bertanya-tanya. Sampai akhirnya, Renny, tuan rumah muncul.

“Tunggu sebentar lagi. Mereka pasti datang, kok.”

Aku berbincang dengan Renny. Tentang cinta pertama dan tentang kenangan indah semasa SMA. Aku dan Renny larut dalam obrolan seru, sampai tanpa sadar, ruangan telah penuh dengan tamu.

“Selamat datang!” Renny menyambut mereka dengan ramah.

Ruangan mendadak riuh. Sosok-sosok berpakaian aneh datang dan berkumpul. Ternyata aku salah kostum. Aku semakin minder melihat dandanan mereka. Beberapa mengenakan pakaian ala vampir, sebagian memakai kostum pocong, dan kostum aneh lainnya. Penampilan yang berbeda membuatku semakin terlihat cupu.

“Enggak papa, Rin. Santai aja.”

“Iya, Ren.”

“Ayo aku gabung sama yang lain.”

Aku mengikuti Renny. Aku pun bergabung dengan mereka. Tidak seperti biasanya, mereka ramah sekali padaku.

“Kamu cantik sekali malam ini, Rin,” kata Arion, salah satu idola kelasku.

Aku tersipu malu. Belum berakhir kebahagiaanku, Rendy, gebetanku dulu, datang menemuiku.

“Kamu beda banget malam ini,” katanya meraih jemariku hendak mengajak berdansa.

Dingin.

“Terima kasih,” jawabku masih malu-malu.

Selesai berdansa dengan Rendy, ketua kelas, Irfan pun ikut menyapaku.

“Hei cantik.”

Pipiku merona merah. Lama-kelamaan aku terbiasa dengan sikap aneh mereka. Aku bahagia, sebab mereka sudah bisa menerimaku dan tak lagi mengolokku sebagai seorang kutu buku.

Malam kian larut, pesta hampir usai. Orang-orang berpakaian aneh masih asyik berpesta. Suara musik lembut masih mengiringi dansa mereka. Tepat pukul dua belas malam, pesta pun usai. Satu per satu pamit, hingga tinggal aku dan Renny.

“Makasih udah dateng ya, Rin. Aku senang orang secantik kamu mau datang ke pesta reuni ini.”

Aku melangkah keluar dengan senang sebab tak ada lagi yang memanggilku ‘si cupu’. Di depan pintu, aku kaget dengan garis kuning yang melintang di depan rumah mewah Renny, garis polisi. Banyak orang berkerumun. Aku menengok ke belakang. Hanya ada tumpukan abu dan puing-puing sisa kebakaran.

Jadi… .

***

GARIS POLISI – Melintang di area gedung reuni. Gadis itu puas, tak ada lagi yang memanggilnya ‘si cupu’. ~ @candraabuana

#PuisiHore2 ~ Sang Pengeja Rindu [4]

Tags

Aku masih di sini, Kekasih,
Sendiri mengeja rindu nan perih,
Tanpamu yang telah tanamkan luka pedih,
Sebab hati tak lagi bisa memilih.

Meja bundar adalah rinduku yang sendiri,
Bangku kayu bukanlah kamu yang menemani,
Sedang aku masih duduk merenungi sepi,
Berharap rindu tak terburu-buru pergi.

Di bola mataku jatuh bayang burung dalam sangkar,
Membisu seakan tak lagi sadar,
Mungkin ikut berduka atas rindu di atas makam yang kian mekar,
Tanpa senandung yang membiaskan geletar.

Jemariku masih sibuk mengeja sandi,
Menekan berkali-kali hanya demi sesuatu yang tak pasti,
Burung-burung bisu kembali bernyanyi,
Hingga sanggurdi telingaku bisa mendengar sapa rindumu lagi.

Aku masih belum menyerah,
Kutekan lagi sandi tanpa pasrah,
Berharap pesan rindu sampai padamu yang dilanda amarah,
Sebab pelupuk mataku kian basah.

Sekali lagi kutekan,
Hanya untuk memastikan,
Rindu akan mendapatkan balasan,
Lewat sebait nyanyian.

Tapi, burung biru tetap kelu,
Burung putih masih saja pilu,
Burung merah tak kunjung berdendang syahdu,
Ini adalah sebenar-benarnya rindu.

Dalam ketabahan sebuah penantian aku belajar mendengarkan,
Pada detak yang mungkin kaukirimkan,
Hanya kepekaan yang bisa mengartikan,
Perlahan jatuh merasuk ke indera pendengaran.

Debar kerinduan kudengar dengan saksama,
Berharap kita bisa merangkainya bersama-sama,
Tapi, bukan cinta kalau hanya rindu yang utama,
Sebab cinta ada kalanya sekadar sapa pada sesama,

Aku kembali mengeja waktu dalam sentuhan,
Mengirimkan sinyal mengharap balasan,
Dan, usaha bukanlah kesia-siaan,
Sebab akhirnya kudengar sebuah sapaan.

Aku melonjak, aku berteriak,
Rinduku sirna mendadak,
Lewat kicauan burung dalam sangkar perak,
Ah! Ternyata itu hanya suara burung tersedak.

Aku merintih mendengar kabar palsu,
Di lebam dada, rindu masih bertalu,
Di bangku kayu aku masih menunggu,
Balasan rindu dari kicau burung biru.

Mataram, 20 April 2013 (11:25 Wita)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,101 other followers