CERPEN – Imaji

Ramalan Pisces

Dua tahun berlalu. Adikku sudah cukup besar untuk menentukan hidupnya sendiri dengan memilih berpisah dari keluargaku. Sementara kehidupan rumah tangga Papa dan Mama bukan lagi surga kecil bagiku. Semua telah berubah. Pun denganku. Banyak hal dalam diriku kurasakan berbeda. Tingkah laku, cara berpikir, dan bahkan tentang perasaan cinta. Cinta yang datang tiba-tiba sedikit demi sedikit menurunkan kemampuan akal sehatku untuk berpikir. Jangankan berpikir, sekadar mengingat orang-orang sekelilingku pun, aku mengalami kesulitan. Satu-satunya orang yang kuingat saat ini adalah Papa.

Aku sendiri sebenarnya juga bingung dengan keadaan ini. Papa. Iya. Papa. Entah mengapa tentang Papa tak ada satu hal pun yang bisa aku lupakan. Aneh, kan? Iya. Seperti itulah diriku saat ini. Aneh menurut orang yang tidak aneh. Padahal, sejatinya bagiku justru mereka yang aneh. Bersikap palsu dalam kenyataan untuk mengakui perasaan terdalamnya. Dalam kondisiku yang sekarang setidaknya aku bisa lebih jujur dengan diriku. Tentang cinta yang bagi sebagian orang menganggapnya tabu.

Dan, cinta itu kini telah berhasil membunuh sebagian jiwaku. Bukan cinta yang salah, tapi aku yang terus-menerus membiarkan perasaan itu berkembang tanpa kendali. Bahkan, sampai menerobos batas kewajaran. Salah? Aku rasa tidak. Bagiku cinta harus diperjuangkan semampunya. Meskipun, pada akhirnya rasa ini justru menyakitiku, tapi aku sudah tidak peduli. Ketidakseimbangan koordinasi syaraf adalah penyebabnya. Penolakan oleh orang sekitar, terutama Mama, membuatku semakin jauh tenggelam dalam kesedihan. Tunggu! Mama? Apakah aku punya Mama? Sebentar. Aku butuh waktu lama untuk mengingat tentang sosok Mama.

Semakin berusaha mengingatnya, sekujur tubuhku terasa semakin dingin. Seperti saat ini. Dingin yang begitu menusuk tulang membuat tubuhku terasa kaku. Sekuat apa pun aku berusaha, yang kutemukan hanya bayangan Mama sedang tertidur di sebuah ruangan. Itu saja. Mengingatnya membuat syaraf-syaraf sudut bibirku tertarik membentuk sebuah lengkungan dan membuat bola mata bergerak-gerak dalam kegelapan kelopak yang menutup.

***

“Krak!”

Lamat-lamat aku mendengar suara pintu dibuka. Jari-jari tanganku bergerak-gerak. Dingin perlahan menjalar merangsang syaraf mataku untuk sedikit terbuka. Samar. Dengan sedikit mengerjap, bayangan benda perlahan mulai fokus. Benda-benda terlihat begitu samar. Semakin aku berusaha keras untuk melihat, kepalaku terasa semakin cepat berputar. Beruntung ikatan di kedua pergelangan tangan cukup membantuku untuk tetap berdiri, tanpa tenaga sama sekali. Satu-satunya kekuatan adalah harapan, bahwa aku masih hidup. Telapak kakiku tidak bisa menapak sempurna di lantai yang licin. Bahkan kepalaku terkulai seperti membawa beban berat dengan rambut menutupi sebagian wajah.

Kesadaranku tidak serta merta pulih. Butuh waktu agak lama, hingga aku benar-benar sadar kalau ini bukanlah mimpi. Setelah berhasil menyatukan kerja seluruh sistem organ tubuhku, aku bisa mendongakkan kepala. Retina mataku menangkap bayangan benda-benda yang tampak abu-abu. Semuanya nyaris sama. Kesadaranku agak pulih, saat lensa mataku melihat sesosok perempuan menggunakan pakaian terusan berwarna hijau muda. Otakku menerjemahkan bayangan itu sebagai aku. Iya. Aku. Tunggu! Kenapa aku bisa melihat bayanganku sendiri? Perlahan susunan sistem syaraf otak mulai melakukan tugasnya, menganalisa dan meneruskan pada organ mata, bahwa ini adalah dinding kaca. Dinding kaca? Di mana aku?

“Kamu sudah bangun, Cess?”

Sanggurdi telingaku menangkap impuls suara yang belum terdengar sempurna. Butuh waktu agak lama untuk menemukan dan mengenali sumber suara. Syaraf sensorikku sepertinya belum sinkron dengan sumber rangsang yang ada. Semua masih samar. Indera pendengaran, penglihatan, dan lainnya belum mampu mengantarkan pesan ke otak secara benar. Sampai akhirnya, waktu itu tiba. Susunan syaraf pusat dan tepiku mulai bekerja.

Di balik dinding kaca, seorang perempuan berkaca mata tebal dengan rambut hitam disanggul, tampak mondar-mandir di luar dinding kaca. Dia membelakangiku dengan terusan serupa yang kupakai. Siapa dia?

“Syukur kalau kamu sudah bangun.”

Rangsang suara kembali menuju otakku.

“Mama?”

Suara langkah dari seorang perempuan paruh baya yang kupanggil sebagai Mama perlahan mendekat. Langkahnya terhenti pada sebuah mesin tepat di depan tempatku berdiri. Tangannya menyentuh sebuah tombol berwarna merah. Pintu dinding kaca pun terbuka.

Kurasakan kedua pergelangan tanganku sudah bebas. Tak ada lagi ikatan. Perlahan Mama memapahku ke sebuah tempat tidur.

“Berbaringlah.”

“Iya, Ma.”

Mama meninggalkanku menuju panel di sebelah kanan tempat tidur. Tak sekalipun mataku terlepas darinya. Dengan cekatan Mama menekan tombol. Seketika dari bagian bawahnya keluar rak yang mengeluarkan asap dingin. Mama mengambil salah satunya yang berwarna biru. Cairan dalam tabung reaksi itu berpindah ke jarum suntik yang dipegangnya.

“Kamu siap, Cess?”

“Siap, Ma,” jawabku yakin.

Mama telah memberitahukan persentase keberhasilan penelitiannya kali ini. Aku pun tahu risiko yang mungkin bisa saja terjadi padaku. Tapi, demi Mama, aku rela melakukannya. Sebenarnya bukan demi Mama saja, tapi juga diriku. Ada banyak kebenaran yang disembunyikan orang-orang di sekitarku, terutama Papa.

Formula yang disuntikkan Mama sepertinya mulai bekerja. Sel-sel darahku mulai kehilangan kendali. Termasuk sistem peredaran darah menuju otak. Aku terpejam menahan denyut kepala yang tak tertahankan dengan tubuh kadang berguncang.

“Ahh! Sakit, Ma! Sakit!”

Semenit, dua menit, dan lima menit pun berlalu. Aku tak lagi meracau. Kulihat Mama berdiri di sampingku, tersenyum memegang tanganku.

“Nah! Beres!”

“Apanya yang beres, Ma?”

Mama tampak terkejut dengan pertanyaanku. Sejenak kemudian, rasa terkejutnya menjadi sebuah senyuman.

“Berhasil. Bahkan, Mama tak perlu mengeluarkan kata-kata dalam pikiran, kamu udah bisa ngebacanya,” kata Mama yang membuatku semakin bingung dengan banyak kode yang bertebaran dalam pikiran Mama.

***

Di ruang tengah, Mama mengeluarkan instruksi-instruksi, hanya lewat pikiran. Aku pun mampu menerjemahkannya sebagai perintah yang harus diikuti.

“Iya, Ma.”

“Sekarang berangkatlah. Sebelum Papamu pulang dari Singapura.”

Aku mengangguk dan berpamitan untuk berangkat kuliah. Di kampus, aku langsung menuju ruang mading. Aku tahu, seseorang yang kucari ada di sana.

“Hei!”

Dugaanku tepat. Dia memang ada di sana. Seorang gadis seusiaku dengan menggunakan baju flanel, celana jeans dan sepatu sport menuju ke arahku. Cara berpakaian yang sama sekali berbeda dengan gadis seusianya. Tapi, justru itu menunjukkan jiwa petualangnya.

“Hallo!”

Aku membalas sapanya dan langsung memeluknya. Seminggu tak ada komunikasi benar-benar membuatku rindu pada sahabatku yang satu ini, Ariana. Meskipun, beda jurusan, tapi kedekatanku dengannya benar-benar terjalin sempurna. Perlahan kulepaskan pelukan saat menyadari banyak sekali pertanyaan dalam pikiran Ariana tentangku perihal aku yang menghilang.

“Oke. Cukup, Ariana.”

“Maksud elo apa, Cess?”

“Oh… Eh… Enggak papa, kok. Eh… Kantin yuk! Gue traktir, deh.”

“Eh… tumben. Emang hari ini elo ulang tahun? Tapi, sekarang, kan, tanggal 27 Maret? Ulang tahun elo bukannya tanggal 2 Maret, Cess?”

“Bawel, ah!”

Aku gandeng tangannya menuju kantin kampus. Banyak hal yang ingin aku korek dari Ariana. Tentang segala hal yang diketahuinya terkait hubungan kakaknya, Ratri, dengan papaku.

Di kantin, aku mengajak Ariana duduk di pojok yang sepi. Aku yakin di sini adalah tempat yang aman.

“Eh… Elo kenapa tumben kusut gitu, Ar? Ada masalah apa?”

“Jadi gini, Cess.”

Ariana tampak menghela napas. Sepertinya ada beban dalam hatinya yang ingin dikeluarkan. Dan, gilanya, aku justru menghilang saat dia membutuhkan.

“Gimana? Gimana?”

“Gini, Cess. Saat libur dua minggu kemarin, gue ada rencana jalan-jalan.”

“Terus?”

“Tapi, ya gitu. Elo tau, kan, gimana kakak gue?”

“Kakak elo yang hobi jalan sama om-om itu?”

“Heh! Kurang ajar elo! Gitu-gitu dia kakak gue tahu!”

Suara Ariana tiba-tiba meninggi. Hal ini membuatku sedikit terkejut.

“Maaf, deh,” kataku merajuk.

Ariana mendadak terdiam. Aku tahu dia tersinggung dengan kata-kataku. Diletakkannya sendok bakso di mangkoknya dengan agak kasar. Bunyi yang tercipta membuatku tersentak.

“Ar… Elo mau, kan, maafin gue?”

“Sebenernya gue enggak susah maafin orang. Untung aja elo sahabat gue. Oke, Cess. Lupain. Omongan elo sebenernya ada benernya juga, si. Dan, elo tahu, gara-gara itu rencana jalan-jalan gue gagal total. Damn!”

Sekarang waktunya. Kugeser dudukku lebih dekat lagi dengan Ariana. Dengan sekali tepukan pelan di punggungnya, Ariana menceritakan segala hal tentang Ratri, sekretaris pribadi Papa. Dari ceritanya, aku tahu, Ratri sama sekali tidak ada keinginan untuk menggoda Papa. Hanya saja, kebetulan dia diajak Papa pergi ke Singapura dalam rangka tugas. Karenanya Ariana dan saudara kembarnya tidak bisa ke mana-mana karena harus menjaga ayahnya yang sakit keras.

“Maafin gue, ya, Ar. Semoga bokap elo cepet sembuh.”

“Thanks, Cess.”

Sekali tepuk di punggungnya, Ariana kembali ke keadaan semula.

***

Sepulang kuliah, aku menemui Mama di laboratoriumnya. Mama menyuruhku berbaring untuk mengecek kondisiku. Aku pun melaporkan tentang segala informasi yang kuperoleh. Tak ada sedikit pun yang terlewat. Aku bangun dengan Mama duduk di sampingku. Iseng kutepukkan tanganku ke punggung Mama.

“Apa rencana Mama selanjutnya?”

“Entahlah, Cess. Mama hanya ingin pergi jauh dari Papa. Mama enggak sanggup kalau terus-menerus kayak gini. Banyak hal yang berubah pada Papa sejak beberapa bulan yang lalu.”

“Mama mau ninggalin Papa?”

“Kayaknya, iya.”

“Sendirian?”

“Enggak. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut Mama, asal kamu bisa menerima kehadiran asisten baru Mama.”

“Asisten? Kok Mama enggak pernah cerita, si? Siapa dia?”

“Dia masih baru. Selain sebagai asisten, dia juga sangat pinter bikin Mama bahagia. Di mana pun dan kapan pun. Enggak kayak Papa kamu.”

Aku semakin penasaran dengan cerita Mama. Aku sama sekali tidak menyangka, ternyata selain aku, Mama juga menyimpan rahasia. Secara saksama, aku mendengarkan cerita Mama. Sampai akhirnya, sebuah nama meluncur begitu saja dari bibir Mama, Ronald.

Ronald? Iya. Ronald adalah alasan utamaku mendukung penuh Mama untuk mengungkap perselingkuhan yang dilakukan Papa. Aku tidak ingin Mama mengalami hal yang sama denganku, menjadi korban perselingkuhan. Tapi, kenyataannya, ternyata justru Mama sendiri juga berselingkuh — dengan kekasihku.

Amarah pun akhirnya memuncak. Aku merasa selama ini Mama telah memanfaatkan aku demi tujuan pribadinya. Sebuah keinginan untuk mencari pembenaran atas apa yang dilakukannya. Bersamaan dengan itu, ada pesan masuk dari Papa yang mengabarkan kepulangannya hari ini, sekaligus memberikan sebuah instruksi.

Aku turun dari tempat tidur membiarkan Mama bercerita tanpa kontrol tentang kedekatannya dengan Ronald. Kedekatan yang sudah seperti suami istri. Secepat kilat kutekan tombol pada panel di samping tempat tidur. Rak berisi cairan terbuka. Kucari botol bertuliskan ‘racun’. Setelah menemukannya, cairan itu pun berpindah ke jarum suntik di tangan kananku. Sekali tusuk, tubuh Mama terkulai lemas di tempat tidur dengan kaki menggantung. Sejenak kemudian, tubuhnya mengejang dengan mulut mengeluarkan banyak busa. Mama terkapar.

Prok! Prok! Prok!

Suara tepuk tangan terdengar di pintu laboratorium. Seorang lelaki gagah muncul. Aku menyambutnya dengan pelukan.

“Gimana, Pa? Aku berhasil, kan?”

“Iya, Sayang. Dengan begitu enggak akan ada lagi yang mengganggu hubungan kita berdua. Kita akan bisa hidup bahagia selamanya, Sayang. Kamu mau, kan?”

Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan Papa. Jawaban yang menjadi rahasia selamanya, termasuk menyembunyikannya dari Mama dengan caraku sendiri. Ketakutan-ketakutan yang akhirnya terus-menerus merajam setiap syaraf sadarku.

***

Dingin di sekujur tubuhku. Bola mata bergerak-gerak dalam kegelapan kelopak yang sedikit demi sedikit terbuka.

“Kamu udah bangun, Cess?”

“Kamu si… siapa?”

“Aku mamamu, Cessa. Kamu enggak inget?”

“Ma… Ma?”

“Iya. Ini Mama.”

Aku terdiam. Tak percaya. Bagaimana mungkin Mama tiba-tiba berada di sini. Bukankah aku telah membunuhnya di laboratorium?

“Enggaakkk! Enggak mungkin!”

Kulihat matanya sembap menatap ke arahku. Tangannya halus membelai rambutku yang kusut. Sesekali dia meraba pergelangan tanganku yang terikat ke ranjang. Aku tahu, aku berada di tempat yang berbeda. Ini bukan di laboratorium. Aku sedikit melotot menatap seorang pria yang berdiri terdiam di sampingnya. Terlebih saat ada seorang pria lagi memakai jubah putih memasuki ruangan.

“Gimana kondisi anak saya, Dok?”

“Setelah hampir seminggu dia seperti ini, saya butuh waktu untuk menganalisa kondisinya lagi.”

“Ada kemungkinan dia bisa sembuh, kan, Dok?”

“Kemungkinan sembuh pasti ada, Pak. Saya akan berusaha. Sementara Bapak dan Ibu, jangan lupa berdoa.”

“Iya, Dok.”

“Oya, maaf, Pak, Bu. Jam besuk sudah habis. Saya harus memeriksa kondisi kejiwaan anak Bapak dan Ibu lagi. Tolong tinggalkan ruang perawatan ini.”

“Iya, Dok.  Terima kasih.”

Aku mendengar percakapan yang sebenarnya tak kumengerti. Ruang perawatan? Kenapa aku bisa di sini? Kondisi kejiwaan? Apakah aku sakit jiwa?

Aku berteriak saat kulihat seorang perempuan yang mengaku sebagai mamaku tertunduk meninggalkan ruangan.

“Tungguuu! Kamu bukan mamaku. Mamaku sudah mati!”

Dia tidak memedulikan teriakan histerisku. Aku terus meronta berusaha melepaskan diri dari ikatan di  tanganku. Sementara perempuan itu meninggalkan ruangan, sang pria justru berusaha mendekatiku.

“Kamu yang tabah. Mamamu ada tawaran penelitian ke Singapura bersama Ronald sebagai asistennya. Mereka akan menetap di sana. Mungkin selamanya. Papa yang akan menjagamu.”

Dia pun lalu menghilang mengikuti si perempuan. Perlahan seorang lelaki berjubah putih menusukku. Setelahnya, syaraf sadarku perlahan kembali tidak berfungsi, lenyap bersama semua imajinasi yang berada tipis di samping kenyataan hidup yang kujalani selama ini. Senyap.

 - mo -

Bukan (Lubang) Perawan

Kau tak perlu buru-buru menyebutku sebagai anak nakal. Suka keluyuran malam sendirian ke taman, lalu berkenalan dengan preman-preman. Aku hanya tidak tahan. Hampir setiap hari aku melihat sebuah pertengkaran. Adu mulut yang akhirnya berujung pada pemukulan. Semua terekam jelas dalam ingatan. Bahkan saat kau perlahan jauh meninggalkan. Mencari kehidupan. Seperti itu yang pernah kaukatakan.

Kau lantas menghilang di ujung jalan. Sementara ibu, harus membesarkan empat orang anaknya, sendirian. Salah satunya adalah aku, Tuan. Seorang anak lelaki kelas lima SD berusia belasan.

Dengan sayap yang memikat, aku pun akhirnya hidup di taman. Hinggap dan berpindah dalam setiap pelukan ke pelukan. Bukan kenikmatan. Aku hanya rindu dua tanganmu yang menghangatkan, Tuan.

Malam ini, aku kembali menyusuri ingar-bingar taman. Redupnya lampu adalah sebuah pemandangan. Menggodaku untuk meneruskan berjalan. Hingga sebuah sudut kutemukan. Di sana, seorang laki-laki seusiaku duduk sendirian. Lalu, kau pasti tak tahu apa yang terjadi, bukan?

Aku dan laki-laki mungil itu, sebut saja Alfian, berbagi kenikmatan. Berdua menggulung diri dalam asap putih yang menenangkan. Memang terlalu dini bagi usiaku yang belasan. Namun, aku sama sekali tak memahami itu sebagai perbuatan. Toh, ibu juga tak sempat mengingatkan.

Hingga larut, aku dan Alfian masih melagukan masing-masing kesedihan. Tanpa aku sadari, bahkan aku sudah tidak sedang berduaan. Di samping Alfian telah duduk dua orang lelaki dewasa yang berbincang penuh keakraban. Tanganku pun terjulur untuk bersalaman. Mereka adalah Anton dan Adrian. Malam pun akhirnya penuh tawa yang menyenangkan. Seharusnya tawa itu juga bisa kurasakan saat bersamamu, Tuan.

Perbincangan pun menemui titik kesepakatan. Dua lembar uang kertas seratus ribuan pun mereka ulurkan. Ke dalam saku celana, aku bergegas memasukkan. Tidak berhenti di situ saja, Tuan. Kau pasti akan terkejut saat mengetahui kalau aku menerima sebuah ajakan. Iya. Sekadar ajakan untuk jalan-jalan. Hati mana takkan riang saat terbayang perjalanan yang menyenangkan. Seharusnya itu bersamamu, Tuan. Tentu akan lebih membahagiakan.

Sepanjang perjalanan menuju kota tujuan, mataku disuguhi bayangan warna-warni dari kotak persegi berbagai adegan. Dua orang laki-laki sedang berbagi kenikmatan. Tak terkecuali telingaku yang mendengar erangan bercampur lenguhan. Ini adalah pertama kalinya aku mengenalnya sebagai pengalaman.

Sebuah perjalanan hampir satu jam yang akhirnya membawaku tiba di sebuah salon kecantikan. Lelaki bernama Anton yang biasa dipanggil Ses Anti adalah pemilik tempat di pinggir jalan. Dan, kau pasti tahu apa yang selanjutnya terjadi, Tuan. Iya, Tuan. Aku menjadi budak nafsu setan dalam panjangnya sebuah tangis kesakitan. Maaf, Tuan. Setelahnya aku bukanlah perawan.

Usiaku yang masih belasan membuatku takut terhadap ancaman. Hingga dalam perjalanan pulang, pelecehan kembali aku dapatkan. Di tempat berbeda dengan jarak tempuh hampir satu jam dari salon kecantikan. Kedua kalinya, aku kembali tak perawan. Bukan oleh Anton, Tuan. Namun kali ini giliran Adrian. Untuk kedua kalinya, aku hanya bisa menahan air mata kesakitan.

Setelah tersalurkan, aku pun kembali menuju rumah yang penuh kehangatan. Tentu saja tanpa dirimu di dalamnya, Tuan. Kau telah pergi meninggalkan untuk menemukan kebahagiaan hidup baru sendirian.

Di depan rumah, ibu menyambutku dengan pertanyaan-pertanyaan. Penuh kemarahan. Aku sama sekali tak memiliki keberanian melakukan pembelaan. Dengan kejujuran, aku pun menceritakan. Seharusnya ada kau juga di sana menenangkan, Tuan. Beruntung ibu cukup sabar dalam mengambil tindakan. Ia bergegas menghubungi polisi untuk melakukan penyelidikan.

Saat ini, aku telah mendapat keadilan dari berbagai bantuan. Hanya saja, luka ingatan tetap saja tak mau pergi begitu saja meninggalkan. Lalu, kapan kau akan datang untuk menyembuhkanku, Tuan?

- mo -

*terinspirasi dari kisah nyata anak laki-laki korban korban kekerasan seksual*

#AyoKeJakBook2014 – Apa Asyiknya @JakartaBookFair 2014?!

APA ASYIKNYA?!

Tidak asyik sama sekali, kalau kamu bukan pencinta buku! Beda kasusnya, jika kamu adalah pencinta buku, termasuk di dalamnya adalah book hoarder. Suka membeli buku, tapi entah kapan dibacanya. Hehe… Namun, bukan itu saja. Asyik juga untuk yang bukan pencinta buku, tapi menyukai pencinta buku. Kesempatan besar untuk bertemu dengan orang-orang keren di tempat ini sangat besar. Hehe…

Tak terkecuali saya. Sebagai seorang pencinta buku yang tinggal di sebuah kota kecil, saya sangat mendambakan hiruk-pikuk pesta buku. Dari balik keindahan pulau Lombok, saya bercita-cita kalau suatu saat saya harus bisa ikut berpesta! Dan, benar saja. Kesempatan itu pun tiba pada bulan November 2012.

Selesai mengikuti sebuah pelatihan di Puncak, saya pun berniat menghabiskan sisa waktu perjalanan. Awalnya saya berencana hendak ke Bandung. Berhubung ada info kemacetan parah di Pasteur mengingat long weekend, saya memutuskan untuk ke Bogor. Kebetulan di Bogor ada seorang penulis @gagasmedia yang kece badai, @adit_adit. Berkat kegigihannya, akhirnya saya bisa berkumpul (lagi) dengan teman-teman lain yang saya kenal dari jalur self-publishing. Dari hasil obrolan waktu itu, diputuskan untuk bertemu lagi di Jakarta dalam event Indonesia Book Fair 2012 (IBF 2012).

Kesepakatan tentang waktu dan tempat berkumpul pun akhirnya disepakati. Sebelum ke lokasi, dengan naik kereta dari Bogor, saya turun di stasiun Depok Lama dengan bekal insting. Tujuan saya, yaitu singgah sejenak di rumah keponakan. Setelahnya, saya hanya minta diantar ke stasiun kereta terdekat saja. Tetapi, akhirnya keponakan memutuskan untuk mengantarkan langsung ke lokasi IBF 2012 di Senayan.

Panas kota Jakarta menyambut kedatangan saya di depan pintu masuk. Meskipun demikian, saya tak henti-hentinya tersenyum. Kalian pasti tahu kenapa, bukan? Iya. Ini adalah pesta buku terbesar pertama yang saya hadiri. Ini artinya saya berhasil mewujudkan salah satu cita-cita saya. Bayangkan saja! Berangkat dari kota kecil yang sangat minim dengan acara sebesar ini, tentulah pengalaman tersendiri. Luar biasa!

Dan, sejak memasuki pintu masuk IBF 2012 pada hari Sabtu tanggal 17 November itu, penjelajahan pertama saya di sebuah surga para pencinta buku resmi dimulai. Ada debar yang tak terkatakan saat langkah kaki menyusuri jalan masuk. Aroma kertas menguar memenuhi rongga hidung dari setiap deretan buku yang tercetak jelas di indra penglihatan saya. Panas kota Jakarta pun mendadak berubah menjadi kesejukan luar biasa. Sejuk di tubuh, sejuk juga di hati. Duh!

Menyusuri setiap lorong, seakan pikiran saya tersedot ke sebuah pusaran ilmu yang tak terhingga. Ingin rasanya menenggelamkan diri selamanya di sana. Tidak salah. Deretan penerbit-penerbit terkenal berebut mencuri perhatian saya lewat potongan harga yang sungguh menggoda isi dompet. Dan, selain kamu, rayuan buku adalah hal yang paling bisa membuatku luluh. Gila!

Tidak berhenti di situ saja. Setiap lembaran kertas mendadak menjelma bidadari-bidadari cantik yang siap untuk dijamah. Ah! Begini rasanya. Terlebih saat akhirnya saya bertemu dengan seorang teman dari Lombok juga yang sedang merintis karir di Jakarta. Debar-debar bahagia tak henti-hentinya mengantarkan kabar tentang Lombok dan segala keindahannya setelah berpisah hampir setahun lamanya.

Kebahagiaan tidak berhenti di situ saja. Setelah melalui perjalanan panjang, saya akhirnya bertemu teman-teman. Bersama mereka kebahagiaan ada di setiap jejak kaki menyusuri setiap stan penerbit. Hingga akhirnya, waktu juga yang berkuasa. Pertemuan harus diakhiri dengan perpisahan. Setelah makan di Senayan City, saya dan teman-teman membubarkan diri. Petualangan tidak berhenti begitu saja. Sepulang mereka, langkah kaki saya kembali tergelitik untuk kembali ke area IBF 2012 dengan menenteng tas hasil perburuan sebelumnya.

Kali ini saya memilih jalan masuk yang berbeda. Dan, kalian tahu apa yang aku temukan di dekat pintu masuk itu? Surga kecil! Sebuah stan buku bekas menggoda tanganku untuk menjamah satu per satu koleksinya. Tidak ada potongan harga di sini, kecuali punya cukup urat malu untuk menawar serendah-rendahnya. Beruntung selama di Lombok saya sering mengantarkan kakak belanja di pasar. Darinya, saya belajar teknik menawar. Berhasil. Buku-buku bekas karya Dan Brown pun berpindah dari rak ke tangan saya dengan harga murah. Nikmat, kan?

Setelah berhasil membebaskan diri, stan-stan penerbit besar giliran menawarkan kebahagiaan. Saya berhenti cukup lama saat melewati stan Gramedia. Tahu kenapa? Di sana sedang ada book signing oleh Om @Gol_A_Gong. Hanya saja, saya tidak berhasil mendapatkan tanda tangan untuk Catatan Si Roy 1 – 5. Meskipun begitu, saya bisa bersalaman dengan beliau. Bahagia!

Keberuntungan tidak berhenti begitu saja. Kali ini adalah panggung utama yang menawarkan sebuah acara talkshow dan premiere film 9 Summers 10 Autumns. Dan, salah satu hal asyik yang saya dapatkan adalah berkesempatan untuk ‘mencuri’ ilmu kepenulisan dari Mas Iwan Setiawan, penulis bukunya. Sayang, saya tidak membawa serta buku 9 Summers 10 Autumns dan Ibuk untuk ditandatangani beliau. Sedih, ya? Namun, saya tidak terlalu sedih, karena saat itu juga mendapat bonus tambahan ilmu tentang dunia akting dari aktor kawakan Alex Komang dan aktris yang juga mantan Puteri Indonesia, Agni Pratistha. Seru, kan?!

Jadi, jika kamu juga ingin mendapatkan keseruan yang pernah saya dapatkan, #AyoKeJakBook2014 tanggal 23 Mei – 1 Juni 2014 di Istora Senayan!

Kenapa harus ke Jakarta Book Fair 2014 (JBF 2014)?

Sama halnya dengan IBF, JBF juga menawarkan banyak keseruan. Pastinya ada promo dan diskon buku. Juga ada beberapa acara seru lainnya di Panggung Utama yang dimulai pukul 13.00 WIB, di antaranya, yaitu launching buku dan talkshow dengan penulis keren. Kece, kan?

Apa saja hal seru dalam JBF 2014?

Banyak! Beberapa di antaranya, yaitu:
1. Diskon 40% Semua Buku @penerbitchange hanya di @JakartaBookFair! Download katalognya di sini

2. Launching #FestivalSeries + Talkshow “Publish Your Novel Today!” Oleh Penerbit @teennoura pada hari Sabtu tanggal 24 Mei 2014 pukul 15.00-16.30 WIB;

3. Demo Comic & Sketch Signing HijaboComic di booth @qultummedia Jakarta Book Fair pada 29 Mei 2014. Info: @hijabographic;

4. Diskon hingga 70% dan hadiah dari berbagai acara menarik lainnya (fashion show dan mewarnai) dari Penerbit Erlangga di stand nomor 119, 120, 124 & 125 (Depan Panggung Utama). Info selengkapnya di sini.

5. Acara book signing & sketch komik Mamomics dari Penerbit Anak Kita (@_anakkita) di @JakartaBookFair pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2014 pukul 14.00-17.00 WIB di Istora Senayan, stan nomor 131.

6. Info beasiswa Sampoerna Foundation (@psfoundation) di Panggung Utama tanggal 23 Mei 2014 pukul 16.30-18.00 WIB;

7. Talk Show, Workshop, Jumpa Editor, Jumpa Penulis di stan penerbit @GagasMedia di Panggung Utama dari tanggal 23 Mei sampai 1 Juni 2014.

Bukan itu saja pastinya! Banyak promo dan diskon buku serta masih banyak acara seru lainnya sepanjang perhelatan JBF 2014 yang akan dibuka tanggal 23 Mei 2014 pukul 13.30 – 16.30 WIB ini. Jaga terus linimasa @JakartaBookFair untuk info acara selengkapnya! Daftar acara untuk Panggung Utama, silakan baca selengkapnya di sini.

Jangan ketinggalan! #AyoKeJakBook2014 dan temukan surga para pencinta buku yang sesungguhnya!

Salam pencinta buku,

- mo -

Lomba Menulis Cerpen Travel ‘n Love oleh @pad_magz dan @PadmaTour

Setiap perjalanan pasti menyisakan cerita yang tidak habis-habis. Ada suka, duka, ada kisah-kisah lucu dan menggelikan bahkan cerita cinta yang bersemi di antara derak-derak roda. Untuk itulah, PADMagz Travel Magazine bersama Padma Tour Organizer ingin menantang kamu menulis cerpen dengan tema: TRAVEL ‘N LOVE

Syarat dan Ketentuan

PESERTA

  • Peserta harus WNI, bersifat umum dan terbuka bagi siapa saja, berusia minimal 15 tahun dibuktikan dengan scan kartu identitas;
  • Peserta wajib mem-follow akun Twitter PADMagz dan Padma Tour di @pad_magz dan @PadmaTour, dan/atau like Fanpage facebook: Padmagz;
  • Pengumpulan naskah mulai 1 Mei 2014 hingga 31 Agustus 2014;
  • Naskah yang lolos seleksi akan diumumkan pada tanggal 1 Oktober 2014 melalui Twitter dan Facebook;
  • Seluruh kru dan keluarga besar PADMagz dan Padma Tour tidak diperkenankan mengikuti lomba ini.

NASKAH

  • Tema harus berkaitan dengan perjalanan  wisata dan hal-hal menarik yang terjadi di dalamnya;
  • Tulisan harus berupa fiksi/cerita pendek (cerpen). Boleh berdasarkan kisah nyata tapi HARUS dikemas dalam cerita fiksi (bukan curhat);
  • Genre bebas;
  • Format tulisan diketik rapi dalam MS Word, font Times New Roman 12 pt spasi 1,5. Format file dalam .doc atau .docx;
  • Panjang naskah sekitar 5-7 halaman A4;
  • Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) naskah;
  • Naskah HARUS asli dan BUKAN jiplakan/saduran/terjemahan baik sebagian maupun keseluruhan;
  • Naskah tidak sedang diikutkan dalam lomba sejenis dan TIDAK pernah dimuat di media apa pun (cetak dan online) dan di mana pun (Nasional/lokal).
  • Wajib mencantumkan biodata singkat, foto diri terbaru beserta nomor telepon yang bisa dihubungi di akhir naskah;
  • Naskah dikirim dalam bentuk lampiran (bukan badan email) ke alamat nulistravel@gmail.com dengan subjek: NULIS YUK – [Judul Naskah]
  • Naskah yang tidak memenuhi persyaratan di atas dianggap GUGUR dan TIDAK akan diseleksi oleh dewan juri;
  • Jika di kemudian hari ditemukan pelanggaran baik Hak Cipta maupun pidana pada naskah-naskah yang lolos, penyelenggara berhak menganulir naskah tersebut dan mengajukan tuntutan sesuai dengan Undang-Undang dan hukum yang berlaku.

Di akhir periode, diumumkan 15 naskah yang lolos seleksi oleh dewan juri yang terdiri dari para penulis dan sastrawan Nasional (nama-nama juri dirahasiakan demi independensi). Naskah-naskah terpilih akan dibukukan dalam satu antologi cerpen bersama.

Dan, hadiah yang menanti bagi para penulis yang beruntung tersebut adalah:

  1. LIBURAN KE LOMBOK GRATIS SELAMA 3 HARI 2 MALAM untuk 5 naskah pemenang utama, termasuk tiket pesawat Surabaya-Mataram PP dan akomodasi berupa hotel dan fasilitas setara bintang 4 + piagam penghargaan;
  2. 10 naskah favorit pilihan dewan juri mendapat hadiah uang sejumlah Rp 500.000,- + piagam penghargaan.

Jadi, tunggu apa lagi?

Mulailah menulis ceritamu sekarang!

Bmi0ryHCIAIJ7p0Sumber: Padmagz

 

[Diary Sang Zombigaret] – Perjamuan Terakhir

Napasku tersengal-sengal. Ini bukan pertama kalinya. Setidaknya sudah dua bulan terakhir ini. Udara bukan lagi sebuah kesegaran bagi rongga paru-paruku. Semua karena kebiasaan burukku sejak aku berusia belasan tahun. Kebiasaan yang aku pelajari dari ayahku. Meskipun tidak pernah diajarkan olehnya, tetapi aku juga banyak belajar dari teman-teman sepermainan saat aku SMP hingga sekarang berusia 30 tahun. Sebuah rentang waktu yang panjang untuk bersenang-senang. Semu.

Tak terkecuali malam ini. Di pinggir jalan sepi menuju rumah, aku rebah. Mendadak tubuhku terguncang oleh batuk yang tiba-tiba datang. Dengan tempo cepat dan suara keras, batuk itu membuatku mengeluarkan dahak. Aku berusaha membuka tangan yang kupakai untuk menutup mulut. Setelahnya, aku melihat telapak tanganku. Ada yang berbeda di permukaannya. Bukan dahak seperti hari-hari biasanya. Kali ini ada gumpalan berwarna merah. Aku berusaha bangun. Pengaruh alkohol dan berjuta-juta partikel asap rokok seusai berpesta dengan teman-temanku mengalahkan kesadaranku. Tubuhku yang semakin hari semakin kurus dari sebelumnya tak mampu meneruskan langkah. Sekelilingku mendadak gelap.

Saat membuka mata, kulihat sekelilingku tetap gelap. Tunggu! Ini bukan rumahku yang nyaman di tepi desa. Rumahku tidak segelap ini. Bukan itu saja. Rumahku juga tidak sepengap ini. Hanya saja, ada satu hal yang sama. Rumahku dan ruangan ini sama-sama bau asap rokok. Aku masih terbaring di lantai basah dan lembab. Mataku memandang kosong ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada apa-apa. Aku benar-benar sendirian. Aku bangun dan bersandar di dinding yang juga lembab ketika kurasakan seseorang datang menghampiriku. Dia memegang tanganku. Dingin.

Aku beringsut menjauh dan meringkuk di sudut. Dia terus mendekatiku. Sesaat setelahnya, dia menyalakan lampu kecil di atas sebuah nampan yang dibawanya. Bukan lampu kecil saja. Di sekitar lampu terdapat beberapa piring bertudung mengilat. Tepat di depanku, dia meletakkan nampan itu. Aku memperhatikan dan meneliti setiap bagiannya. Nyala redup lampu kecil,  sebuah gelas berisi cairan merah pekat, dan piring yang telah dibuka tudungnya berisi makanan berwarna kehitaman.

“Ini. Makanlah! Sudah lama kamu tidak makan enak, bukan?”

Kurasakan perutku bergejolak. Sudah beberapa bulan terakhir aku memang jarang makan. Bukan tidak ada yang dimakan, tetapi memang aku sama sekali tidak memiliki nafsu makan. Aku sudah merasa kenyang ketika partikel asap rokok lebih dulu masuk ke dalam aliran darah di tubuhku. Selalu seperti itu. Tak heran, tubuhku tinggal kulit yang membalut tulang. Kurus kering.

“Kok, diam? Kamu tidak mau?”

Pertanyaannya membuatku kembali berusaha fokus pada makanan yang dihidangkannya.

“Makanlah! Ini kesempatanmu menikmati makanan.”

Aku menatap ke arah sumber suara itu.  Samar kulihat wajahnya begitu dingin menatapku.

“Ayo! Segera habiskan. Waktumu tidak banyak.”

Sedikit menunduk, dia menyodorkan nampan ke arahku. Tanganku menyentuh makanan itu dan merasakan tekstur lembut. Aku mengambilnya sepotong. Kubatalkan niat ketika melihat rongga-rongga yang ada di dalamnya. Aku hendak meletakkan kembali makanan itu, ketika tangan berjari-jari panjang itu mendorong pelan tanganku untuk menyuapkan makanan ke mulut. Aku menggigitnya sedikit. Lidahku merasakan sensasi yang berbeda. Tidak seperti masakan yang pernah kucicip sebelumnya. Aku pun segera menghabiskannya.

“Bagaimana? Enak, kan? Habiskan. Itu milikmu sendiri. ”

Kudengar tawa penuh cemooh membahana sampai dia kembali melanjutkan kata-katanya,  “Iya. Itu adalah paru-parumu sendiri. Sengaja aku masak untukmu. Sayang kalau dibiarkan. Tadi aku lihat terjatuh saat kamu pingsan di pinggir jalan.”

Aku melongo. Dengan spontan, aku pun meraba bagian dadaku. Kosong. Aku lalu melihatnya. Lubang besar menganga. Tanpa paru-paru. Hanya tinggal pangkal tenggorokan yang meneteskan darah kental. Keluar begitu saja bersama udara pengap yang kuhirup.

“Cukup! Waktumu habis!”

Aku melihat seseorang  berjubah panjang yang menyambung menjadi sebuah tutup kepala itu mengayunkan schyte yang berkilat-kilat.

Selanjutnya gelap.

- mo -

1255171_596220503797621_947247904_n

Kompetisi Menulis @TulisNusantara 2014

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia bekerjasama dengan NulisBuku.com, Plot Point, dan Grasindo kembali menyelenggarakan “Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2014″ dengan tema: “Menjelajah Inspirasi Kearifan Budaya Indonesia” serta Workshop Menulis di 12 Kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Medan, Batam, Riau, Bengkulu, Palangkaraya, Gorontalo, Kendari, Bandung, Magelang, Yogyakarta, dan Pamekasan.

Kategori yang dilombakan dalam kompetisi ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu meliputi novel, cerpen fiksi, nonfiksi, dan puisi.

KETENTUAN:

A. Kompetisi tidak dipungut biaya. Gratis!
B. Menulis sesuai tema “Kearifan Budaya Indonesia yang Menginspirasi” dalam bentuk novel, cerpen fiksi, cerpen nonfiksi, dan puisi yang memotivasi pembacanya untuk mengenal budaya Indonesia;
C. Follow Twitter @TulisNusantara. Ketika kamu sudah mengirimkan naskah, jangan lupa untuk mention @TulisNusantara serta judul naskah yang sudah kamu kirimkan;
D. Naskah ditulisdalam Bahasa Indonesia. Diketik rapi melalui komputer dengan format file Microsoft Word (.doc);
E. Terdapat empat kategori karya.

  • Kategori Novel: Panjang antara 100 – 150 halaman, A4, spasi 1, font Times New Roman 12. Sertakan sinopsis lengkap maksimal 2 halaman A4, margin by default;
  • Kategori Cerpen (fiksi) dan cerpen (nonfiksi): Panjang tulisan 5 – 10 halaman, A4, spasi 1, font Times New Roman 12, margin by default;
  • Kategori Puisi: Panjang tulisan 1 – 5 halaman, A4, spasi 1, font Times New Roman, margin by default.

Dalam pengiriman naskah, pertimbangkan ketentuan berikut:

  • Email berisi 2 lampiran file (Khusus untuk kategori novel ada 3 lampiran, plus file sinopsis naskah), diantaranya: a. Formulir Pendaftaran dan surat pernyataan (Download di sini: http://goo.gl/OKxBWI    ; b. Naskah Lomba; c. Sinopsis Naskah (Khusus kategori Novel);
  • Pada judul email diisi dengan format [Kategori] + [Judul tulisan] + [Nama lengkap peserta]. Contohnya: Nonfiksi – Cerita dari Pematang Siantar – Oki Zulkifli;
  • Pada bagian isi email diisi dengan judul naskah.
  • Email dikirim melalui tulisnusantara@gmail.com

G. Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah, dilakukan di Jakarta pada acara “Awarding Night”;

H. Periode lomba ditutup hingga Sabtu, 7 Juli 2014. Batas waktu penerimaan naskah adalah pukul 23.59 WIB.

PERSYARATAN:

  1. Peserta minimal SMU/sederajat;
  2. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim 1 karya untuk setiap kategori. (Artinya setiap orang boleh mengirim 1 karya fiksi, 1 karya nonfiksi, dan 1 puisi);
  3. Untuk kategori fiksi dan nonfiksi jumlah kata antara 1000 – 10.000 kata;
  4. Font tulisan Times New Roman, 12 point;
  5. Naskah harus asli (sebagian atau seluruhnya), juga bukan terjemahan atau saduran;
  6. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik, dan online dan tidak  sedang diikutsertakan sayembara lain;
  7. Peserta diperbolehkan mengirim maksimal 1 naskah terbaiknya untuk setiap kategori;
  8.  Naskah yang dikirim menjadi milik panitia penyelenggara dengan hak cipta tetap pada penulis;
  9. Dewan juri akan memiliki naskah terbaik untuk masing-masing kategori yang akan dibukukan dalam buku antologi pemenang;
  10. Keputusan pemenang merupakan tanggung jawab Dewan Juri sepenuhnya;
  11. Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat-menyurat selama penentuan pemenang.

HADIAH

A. WRITING GETAWAY KE BEIJING, CHINA PLUS AKOMODASI

  • Juara 1 Novel
  • Juara 1 Cerpen Fiksi
  • Juara 1 Cerpen Nonfiksi

B. 12,5 JUTA RUPIAH

  • Juara 1 Puisi

C. 10 JUTA RUPIAH

  • Juara 2 Novel
  • Juara 2 Cerpen Fiksi
  • Juara 2 Cerpen Nonfiksi
  • Juara 2 Puisi

D. 7,5 JUTA RUPIAH

  • Juara 3 Novel
  • Juara 3 Cerpen Fiksi
  • Juara 3 Cerpen Nonfiksi
  • Juara 3 Puisi

Sumber: @TulisNusantara

BmfJ5ClCMAEVHzd
Sumber: @TulisNusantara

Di Balik Tembok Merah

Ada dengus napas. Tersengal-sengal. Kelelahan terlihat di wajahku yang pias. Kedua kakiku menapak goyah di lantai keramik warna kuning kusam. Sebagiannya sudah retak. Di depanku, duduk seorang perempuan berambut pirang. Terdiam. Sepertinya juga sama-sama menunggu.

“Hai!”

Aku memberanikan diri menyapa gadis bermata biru itu. Dia masih terdiam. Bahkan senyumku pun tidak dibalasnya. Aku tak menyerah. Sambil mengatur pernapasan, aku menatap lurus ke arah gadis bersyal biru. Ada keinginan untuk lebih tahu tentang siapa dirinya. Hanya saja, kata-kata tak lebih dari sekadar aksara yang berdiam di rongga dada. Aku membisu. Hanya bisa memandangi tubuh yang dibalut kaos panjang warna merah muda. Sungguh perpaduan sempurna.

“Hai!”

Aku kembali memberanikan diri. Debar pun menjelma samar-samar. Detak teratur begitu jelas di dadaku. Terlebih saat bibir mungilnya yang dipoles lipstick merah muda sedikit terbuka. Aku bergegas mengeluarkan sebuah tanya, “Namamu siapa?”

“Aku Sepi.”

Setengah tak percaya, aku berusaha mendekat. Semakin jelas olehku, sepasang kakinya yang jenjang dalam celana panjang putih berbahan jeans.

Betapa luar biasa selera fashionnya.

Aku menghentikan langkah tepat dua keramik ukuran 50 cm di depannya. Dia kembali terdiam. Memandang kosong ke arah depan. Tidak ke arahku.

“Akan tiba waktumu menjadi aku.”

Deg!

Detak seolah berhenti mendadak. Aku terpaku pada kedua kakiku yang kaku. Bahkan tak tersadarkan oleh suara peluit tukang parkir yang bersahutan. Juga oleh riuh kendaraan bermotor yang lalu-lalang. Aku benar-benar tertegun. Pada sebuah ucap yang seketika melahirkan banyak tanda tanya di kepala.

“Apa maksudnya?”

“Kenapa dia bicara seperti itu?”

“Kapan waktu itu tiba?”

“Siapa penyebabnya?”

“Di mana akan terjadi?”

“Bagaimana bisa menimpaku?”

Setelahnya, hening. Aku larut dalam kebisuan panjang dalam tatap mata kosong.

“Iya. Kamu akan menjadi seperti aku, ketika kamu masih juga merasakan sepi dalam keramaian.”

Sederet kalimat meluncur begitu saja dari bibir tipisnya. Aku memahaminya sebagai sebuah petuah. Tapi, siapa dia? Apa haknya memberikan petuah padaku?

“Tenanglah, Anak Muda! Bukan kamu saja. Setiap yang pernah menikmati keriuhan, akan tahu arti sebuah kesepian.”

“Tunggu!”

Aku berteriak ke arahnya. Dia masih dalam posisi yang sama.

“Kenapa kamu berkata seperti itu?”

Dia sejenak terdiam sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya, “Ada masanya, kamu akan merasa sepi saat tidak dianggap oleh orang-orang di sekitarmu. Kamu takkan lebih dari sebuah pajangan. Seperti aku. Karenanya, jangan biarkan hatimu sepi. Riuhkan dengan doa-doa, agar kamu tetap bisa berguna untuk sesama. Dengan begitu, pertanyaan dalam hatimu tidaklah akan berguna.”

Aku mengangguk, pelan, lalu meninggalkannya sendirian. Di balik tembok merah tempatku sembunyi dari keramaian, di dalam kaca sebuah pertokoan.

- mo -

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,145 other followers