[BILIK CURHAT] ~ Jarak Adalah …

“Kalau gini mending putus aja, Kak Mo!”

“Hei! Tunggu! Apa-apaan, deh. Pagi-pagi udah ngomongin putus aja.”

“Ya abisnya capek, Kak.”

“Kalau capek ya istirahat. Terpenting adalah istirahat mikirin yang enggak-enggak.”

“Maunya, sih. Tapi … Berat!”

“Halah! Kamunya aja yang ngerasa kayak gitu.”

“Kakak sih enggak pernah ngerasain.”

“Gayamu! Lima tahun tauk!”

“Serius, Kak?!”

“Iyalah. Tapi ya gitu…”

“Ya gitu gimana, Kak? Putus?”

Saya hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaanya. Bagaimanapun juga, sepandai-pandainya saya ngasih masukan pada beberapa teman yang membutuhkan, saya tetaplah seseorang yang sama kayak mereka. Namun, saya yang sudah terbiasa memberi masukan, lebih mudah dalam menerapkannya untuk diri sendiri. Meskipun enggak dipungkiri tetap butuh orang lain juga, sih.

Namu pagi ini bukan saya yang akan melacur lho, ya. Kebetulan ada seorang temen saya yang bernasib sama kayak saya. Mungkin hal itu yang bikin dia enggak canggung untuk bercerita. Emang nasib apa, sih? Biasalah, Gaes. Nasib anak muda zaman sekarang. Apa, deh? Itu tu yang ada kaitannya sama jarak. Udah tahu, dong! Enggak perlu diperjelas lagi juga, dong! Ya iyalah. Siapa sih yang enggak kenal sama LDR. Anak-anak kecil yang belum bisa ganti pampers sendiri juga udah tahu kali, ya.

LDR bagi sebagian orang itu enggak kalah horornya sama ketemu mantan bareng gebetan barunya di jalan. Lhoh?! Iya. Sama-sama nyeremin. Bagi sebagian orang lho, ya. Ujiannya berat, Gaes! Hanya orang kuat hatinya aja yang bisa bertahan hingga akhirnya bisa bersama. Namun saya yakin, di antara pembaca yang budiman banyak yang sanggup ngejalanin LDR, kok.

Keyakinan saya bisa aja salah, dong! Pastinya. Namun menurut saya ya mending positive thinking to daripada nuduh pembaca yang budiman gagal dalam LDR. Hayoo?!

Kebetulan temen saya yang baru masuk ke ruangan ini juga bawa permasalahan yang sama. Apalagi kalau bukan LDR yang sedang dijalaninya sejak setahun lalu hingga pagi ini. Bayangin aja, Gaes! Baru setahun LDR lha ya masak dia mau nyerah. Enggak banget, kan?

Ya udah sih. Itu kan pilihannya dia. Saya hanya bisa ngasih masukan aja. Seenggaknya saya berpikir, cukup saya aja yang punya pengalaman pahit dalam urusan LDR. Temen-temen yang lain sih kalau bisa ya jangan.

“Waduh! Sayang banget, ya. Padahal udah lima tahun, lho!”

“Ya mau gimana lagi. Namanya belum jodoh, kan? Sekuat apa pun berusaha ya beginilah akhirnya. Berpisah baik-baik demi kebaikan bersama di masa depan. Oya, kamu sendiri gimana?”

“Ya gitu deh, Kak. Kayaknya saya udah nyerah, deh. Kakak aja kuat lima tahun akhirnya putus juga.”

“Eits! Tunggu dulu! Kalau belum-belum kamu ngomongin putus, ngapain dulu jadian?”

Cowok berambut cepak itu diam di kursinya. Enggak ada komentar atas pertanyaan saya. Cukup lama dia mematung kayak gitu. Saya sih kayak biasanya, nunggu pelacur cerita lebih lanjut.

Tuh, kan! Bener! Setelah sekian diam, dia pun membuka suara, merespon pertanyaan saya.

“Iya juga sih, Kak.”

“Nah, kan! Sebab kamu udah mutusin untuk jadian, tugasmu selanjutnya ya jagain agar jangan sampai putus.”

“Terus gimana coba, Kak. Setahun lho jauh-jauhan.”

“Masih ada komunikasi, kan?”

“Masih, Kak.”

“Itu! Itu kuncinya. Selama komunikasi masih berjalan baik, artinya masih bisa dipertahanin.”

“Tapi, Kak. Saya kan juga khawatir kalau dia selingkuh di sana.”

“Khawatir atau enggak percaya dia setia?”

“Ngg… Keduanya sih, Kak.”

“Itu sebenernya yang bikin kamu enggak tenang. Berkurangnya kepercayaan.”

“Ya terus gimana dong biar bisa nambah?”

“Dimulai dari dalam hatimu sendiri sih semuanya. Positivie thinking. Sebab bisa jadi justru ketidakpercayaanmu itu adalah keinginan terdalam hatimu untuk melakukan hal yang sama.”

“Ya enggaklah! Masak saya selingkuh.”

“Siapa tahu, kan? Bukannya kamu juga bisa melakukan hal yang sama dengan dia di sini? Apa kamu enggak mikir kalau bisa aja cewekmu punya pemikiran yang sama?”

“Waduh! Iya, ya.”

“Begitu. Enggak usah kamu hanya mikir dari sudut pandang dirimu sendiri. Harus fair, dong! Bukankah saling mencintai itu menguatkan dari dua sisi?”

“Bener itu, Kak. Tapi masalahnya dia itu cewek. Sedikit aja dia membuka hati untuk cowok lain, terjadilah.”

“Enak aja kamu! Terus mentang-mentang kamu cowok kemungkinan selingkuhnya lebih kecil. Gitu?”

“Iya sih, Kak. Kalau misalnya saya ingin selingkuh, tapi enggak ada cewek yang mau membuka hatinya. Enggak jadi kan saya selingkuh.”

“Emang, sih. Tapi bukan perselingkuhan terjadi bukan karena faktor ceweknya doang, dong! Cowok pun punya peran yang sama dalam kejadian ini. Coba kalau cowok enggak ada niat selingkuh, adakah cewek yang membuka hatinya untuk selingkuh? Enggak, kan?”

Dia terdiam. Saya tahu kalau saat ini dia sedang memikirkan tentang kata-kata saya. Itu artinya saya telah berhasil membuatnya berpikir ulang untuk bisa mempertahankan keutuhan cintanya.

Enggak salah! Dia akhirnya menutup curhat pagi ini dengan sebuah kalimat yang men(y)enangkan.

“Enggak sih, Kak. Oke, deh! Enggak lagi-lagi deh saya mikir putus. Saya akan menjalani semampunya. Yang penting udah berusaha sebaik-baiknya dalam menjaga, kan? Perkara akhirnya kayak apa, ya tergantung sama yang di atas. Berdoa untuk yang terbaik aja, semoga jarak bukanlah sebuah penghalang.”

“Nah! Gitu lebih baik.”

- mo -

 

 

[BILIK CURHAT] ~ Korban Perasaan Oleh Si Anak Mama

IMG_0344.JPG

“Korban, sih. Tapi korban perasaan, Mas.”

Klasik, ya? Cenderung basi malah kalau menurut saya, sih. Hari gini lho masih ada yang jadi korban perasaan. Awalnya saya menanggapi dingin. Paling cuma becanda doang, batin saya. Tapi cerita demi cerita darinya membuat saya akhirnya serius menanggapi.

Awalnya sih ngobrolnya sambil jalan pas pulang dari salat Iduladha di masjid. Obrolan pun enggak neko-neko. Sekadar basa-basi biasa gitu, deh. Menjadi serius ketika saya silaturahmi ke rumahnya. Selesai salam-salaman sama keluarganya, saya pun duduk berdua dengannya di berugaq, gazebo khas Lombok, di sudut halaman rumahnya.

Dengan nyender pada salah satu tiangnya, saya to the point pada pokok masalah yang dihadapinya. Sebuah pertanyaan singkat, tapi jadi bahan obrolan yang panjang.

“Gimana korban perasaannya? Masih?”

“Masih lah, Mas. Sebenernya udah lama, sih. Tapi baru akhir-akhir ini kerasa nyeseknya. Saya juga sih yang salah.”

“Maksudnya?”

“Gini, Mas. Mas udah tau kan si Budi?”

Saya mengangguk. Setelahnya, ia melanjutkan ceritanya.

“Jadi selama hampir setahun ini, sebenernya ada yang saya pendem, Mas. Enggak tahu mau cerita sama siapa. Baru sekarang ini dah saya cerita. Asal Mas tau aja, ya. Budi ini anak mama banget, deh.”

“Bagus, dong!”

“Kok bagus, sih?”

“Seenggaknya dia sayang banget sama ibunya. Biasanya, cowok yang sayang banget ibunya itu sayang banget juga sama pasangannya. Gitu.”

“Iya sih, Mas. Tapi rasa-rasanya udah kelewatan, deh. Lha ya masak pas dinner ulang tahun saya, dia ngajakin pulang tiba-tiba setelah ditelpon ibunya.”

“Ya terus? Kamu enggak nanya ada apa gitu?”

“Enggak, Mas. Kayak biasanya gitu. Saya hanya nurutin aja biasanya. Gimana, ya? Rasanya enggak enak juga kalau dia nganggep saya kepo atau apalah. Mending saya diem, Mas. Bukan kali itu aja sebenernya. Seringkali saat kita pergi hangout, ada aja gangguan dari ibunya Budi. Minta dianter ke salon lah. Ke pasar lah. Enggak tau ke mana lagi. Dan kayak biasanya, saya diem aja. Enggak pernah komplain. Tapi lama-lama dipendem akhirnya nyesek juga. Mau ngomong ke dia enggak enak. Takut dia salah tanggep terus jadi masalah besar. Gimanapun juga, saya sayang banget sama Budi, Mas.”

“Saya tau kok, Nin. Terlalu lama mendem perasaan bisa bikin nyesek. Tapi bukan berarti enggak ada solusi, kan?”

Ia, sebut saja Nina, mengangguk. Sementara saya menunggu tanggepannya, ia justru milih untuk mengetuk-ngetuk papan kayu pada berugaq dengan ujung jarinya. Saya lihat ia menekuk kedua kakinya. Mendekatkannya ke dada, dan menenggelamkan kepala di sela-selanya. Rambut hitam panjangnya tampak terjurai hingga di papan kayu alas berugaq. Saya memahami perasaannya.

Hingga sesaat berikutnya, ia mengangkat kepala.

“Terus saya harus gimana, Mas?”

Kali ini giliran saya yang diem. Saya hanya ngelurusin kaki sambil mikirin solusi yang tepat untuk cewek berusia 20-an tahun yang duduk bersandar di depan saya, Nina. Butuh waktu cukup lama hingga saya menemukan solusi untuk membantunya.

“Nin… Pertama, bagus kamu udah mau cerita masalah ini. Seenggaknya kamu bisa lebih lega. Kedua, bagus juga kamu udah nyadari kalau dalam hal ini kamu juga salah. Ketiga, yang perlu kamu lakuin sekarang adalah ngomong jujur sama Budi… .”

“… Saya tahu, Mas. Tapi gimana memulainya. Itu yang saya pusing.”

Saya enggak langsung menanggapi Nina yang memotong pembicaraan saya. Saya menyadari, butuh waktu untuk membuat Nina benar-benar nyaman bercerita sama saya.

Hingga akhirnya…

“Nin… Untuk memulai sesuatu emang enggak mudah. Tapi bukan berarti enggak bisa dilakuin. Pertama, kamu harus bisa menerima kenyataan bahwa Budi itu anak mama. Ini penting. Sebab dengan gitu kamu bisa memahami Budi. Kedua, kalau selama ini kamu memahami Budi, saya yakin dia pun akan memahamimu. Ketiga, mulailah ngomongin hal ini pada saat kalian berdua bener-bener berada pada kondisi sebaik-baiknya. Maksudnya, carilah suasana yang tenang dan nyaman. Ngobrol di pantai, misalnya. Nah! Masalah pembukaannya kayak gimana, kamu tanya dulu ke dia tentang sosok seorang ibu. Biarkan dia cerita banyak tentang ibunya. Pelan-pelan, baru deh kamu singgung tentang yang kamu pendem selama ini. Inget! Jangan sekali-kali kamu suruh Budi milih antara kamu sama ibunya. Cowok enggak akan pernah bisa digituin. Pacar sama ibu itu bagi beberapa cowok sama penting. Bahkan enggak jarang, ada cowok yang nganggep ibu itu jauh lebih penting dari ceweknya. Makanya harus hati-hati bener kamu ngomongnya. Kurang lebih kayak gitu, Nin.”

“Kalau misalnya saya udah ngomong baik-baik, tapi dia tetep kekeuh gimana, Mas?”

“Itu kemungkinan terburuknya, kan? Kamu harus siep. Caranya, bikin dia sadar kalau kamu juga penting baginya. Kasih tahu kalau apa yang kamu omongin itu bukan berarti dia enggak boleh nurut lagi sama ibunya. Bukan kayak gitu. Kasih tahu baik-baik kalau keinginanmu itu hanya sekali dari beberapa kali yang kamu inginkan. Maksudnya gini. Saat sedang berdua, dalam lima kali keharusan Budi menuhin permintaan ibunya, kamu minta satu kali aja dia menuhin permintaanmu. Istilahnya kamu ngalah dulu. Selama ini aja sanggup ngalah terus, ya masak udah dipenuhin satu kali kamu malah nyerah. Nah! Ke depannya, baru deh dinaikin level pemenuhan permintaanmu. Pelan-pelan aja sambil jalan. Gimana?”

“Iya, Mas. Insya Allah saya bisa. Thanks, ya,” kata Nina dalam sebuah senyuman manis.

Dan, pagi itu sesi curhat pun kelar saat ibunya Nina datang bawain opor daging lengkap sama lontongnya. Sikaattt! :)

- mo -

[BILIK CURHAT] ~ Cinta, Usia, dan Status

IMG_0343.JPG

“Saya malu mau ngomongnya, Kak Mo.”

Pembaca yang budiman bisa menebak enggak kira-kira apa pokok curhat kali ini? Yup! Bener banget. Tentang cinta sama seseorang yang jauh lebih tua usianya. Ada yang pernah ngalamin? Mungkin ada yang pernah diam-diam mencintai gurunya waktu di SMA seperti saya? #ehh

Kembali ke pokok curhat kali ini, merupakan kisah nyata dari seorang cowok yang baru lulus SMK tahun kemarin. Bisa ngira-ngira berapa umurnya dong, ya? Ya kurang lebih 18 atau 19 tahun lah ya. Nah! Berhubung enggak kuliah, dia pun memutuskan untuk langsung bekerja. Pekerjaan yang sesuai sama jurusannya, kelistrikan. Wah! Cocok banget nih buat diminta untuk menerangi hati pembaca yang sedang dalam kegelapan sebuah kesendirian. Gimana? Minat?

Udah, ah! Fokus! Gini curhat dia kemarin malam.

Seperti biasa, sepulang kerja dia main ke rumah. Sekadar numpang ngopi beserta lampirannya gitu. Ditambah bonus bisa curhat gratis ke saya. Beruntung banget, kan? Curhatnya sih biasanya seputar pekerjaan dan masa depan. Tapi entah mengapa tiba-tiba untuk pertama kalinya dia curhat tentang cinta.

Dia, saya memanggilnya Boy, mengawali curhatannya dengan sebuah pernyataan sederhana.

“Kak… Kayaknya enak ya pacaran sama cewek yang dewasa.”

Saya tak bergegas menjawabnya. Saya emang sengaja nunggu dia ngelanjutin ceritanya untuk mengetahui arah curhatannya. Tapi kayaknya sia-sia. Boy justru sibuk mainin gelas berisi kopi yang tinggal setengah. Sementara saya memilih untuk menyesap kopi.

Setelah sekian lama, akhirnya saya mutusin untuk memancingnya.

“Iya, Boy. Eh… Btw, kenapa tiba-tiba kamu ngomong kayak gitu?”

Berhasil! Terbukti tanpa sungkan-sungkan lagi dia cerita tentang kedekatannya dengan cewek yang udah dewasa. Cewek itu supervisor di tempatnya bekerja. Kedekatannya sih berawal ketika cewek itu, sebut saja Selly, minta diantar pulang. Kebetulan waktu itu Selly enggak bawa motor. Dari situ, kedekatan berkembang. Selly seringkali meminta tolong Boy untuk hal-hal remeh di rumahnya. Benerin listrik lah. Masang tabung gas lah. Pokoknya hal-hal simpel kayak gitu. Boy pun mengiyakan aja setiap permintaan tolongnya. Enggak enak dong kalau bilang enggak mau ke atasannya. Akhirnya, kebersamaan itu mau enggak mau menumbuhkan bunga-bunga cinta gitu.

“Emang apa sih yang bikin kamu suka sama dia?”

“Gimana ya, Kak. Dia itu baik, dewasa, perhatian, dan ngemong gitu.”

“Btw, umur Selly berapa, sih?”

“Seumuran Kakak deh kayaknya. Belum 30-an lah pokoknya.”

((((( BELUM 30-AN )))))

Dalam hati saya ngakak enak karena fitnahnya. Bayangin aja, udah uzur gini dibilang belum 30-an. Tapi seneng juga sih dengernya. Siapa sih yang enggak demen difitnah kayak gitu? Pembaca yang budiman pasti suka juga, kan?

Selesai ngakak dalam hati, saya pun berasumsi kalau jarak usia mereka cukup jauh. Dua belas tahunan, Gaes! Enggak jauh dari batas ideal jarak umur yang sekitar sepuluh tahun dong, ya. Masih ideal lah ya.

“Menurutmu dia ada rasa enggak sama kamu?”

“Kayaknya sih ada, Kak. Dia sering SMS sama nelpon sekedar nanya udah makan belum, lagi apa. Pokoknya hal-hal simpel gitu, deh.”

“Ya udah. Kalau emang kayak gitu dan kamu suka dia, kenapa enggak kamu tembak dia?”

“Ngg… Gimana ya, Kak?”

“Gimana apanya? Malu sama temen-temenmu karena punya pacar lebih tua? Atau…?”

“Banyak hal sebenernya, Kak. Bukan itu doang.”

“Boleh saya tahu?”

“Selain itu, saya malu untuk ngungkapin cinta ke dia, Kak. Takut ditolak. Jangan-jangan selama ini dia cuma nganggep saya adik.”

“Gini deh, Boy. Satu hal yang harus kamu tahu, cinta itu harus diungkapkan. Orang lain enggak akan pernah tahu kalau cuma kita pendam. Perhatian sama sikap aja enggak cukup. Sama kayak cowok. Cewek juga butuh kepastian lewat kata-kata. Sikap sama perhatian emang penting. Tapi jangan lupa ungkapan lewat kata juga perlu biar dia enggak bertanya-tanya lagi tentang sikap sama perhatianmu selama ini. Perkara ditolak, itu sih urusan belakangan. Ditolak pun seenggaknya kamu jadi tahu gimana perasaan dia. Dengan begitu kamu bisa mengambil langkah ke depannya.”

“Iya juga sih, Kak. Ada hal lain juga, sih.”

“Enggak bisa memulainya?”

“Bukan itu, Kak. Sekedar memulai sih gampang. Udah pengalaman saya. Ini soal status dia.”

“Statusnya dia? Istri orang? Atau … .”

Sepertinya dia bisa menebak arah perkataan saya.

“Iya, Kak. Dia janda. Enggak punya anak, sih.”

BLARRR! (Backsound kilat menyambar-nyambar)

Saya terhenyak mendengar pengakuannya. Berarti Selly ini bener-bener cewek istimewa, batin saya. Gimana enggak cobak?! Seorang janda berusia hampir tiga puluhan bisa membuat seorang pemuda kemarin sore jatuh cinta. Keren!

“Emang kenapa kalau dia janda? Apa seorang janda enggak boleh dicintai?”

“Bukan itu masalahnya, Kak. Bukan statusnya dia. Tapi…?”

“Kenapa? Malu denger bisik-bisik tetangga?”

Dia hanya mengangguk lemah.

“Boy… Boy… Kalau kamu masih malu gitu. Itu artinya kamu enggak bener-bener tulus cinta sama dia. Kamu harusnya tahu kalau cinta itu sebuah penerimaan utuh beserta segala konsekuensinya. Kalau kamu enggak siap dengan hal itu, ngapain kamu jatuh cinta?”

Sekali lagi dia menganggukkan kepala.

“Gini deh, Boy. Sebelum kamu nembak dia, pastiin dulu kamu siap dengan konsekuensinya. Kasihan dia juga kalau akhirnya kamu malu mengakuinya sebagai pacar.”

“Tapi gimana caranya, Kak? Gimana?!”

“Gampang, Boy! Jangan pikiran apa kata orang tentang cintamu. Bukankah ini hanya kamu dan dia? Yang penting kalian berdua. Plus keluarga msing-masing juga. Kalau keluargamu oke-oke aja, kenapa kamu enggak melakukan yang terbaik untuk hatimu? Kamu yang menjalani lho ini. Bukan temen-temenmu atau tetangga.”

Dia lagi-lagi mengangguk. Dan,selepas sesap kopi terakhir, dia pamit pulang dalam sebuah senyuman.

- mo -

[BILIK CURHAT] ~ Mantan Jadi Teman

DP BBM
DP BBM

“Apa coba maunya dia itu, Pak?!”

“Hei! Sabar! Duduk dululah!”

Ia pun akhirnya duduk di kursi kayu tanpa sandaran yang ada di sebelah kanan meja kerja saya. Demi menyadari keberadaannya, saya pun merapikan beberapa lembar daftar nilai yang akan disalin ke ijazah. Setelah menyimpan kembali berkas-berkas pekerjaan, saya pun menatapnya.

“Kamu kenapa, Ri?”

“Gitu dah pokoknya.”

“Gitu gimana? Ya mana saya bisa bantu masalahmu kalau kamu enggak mau cerita.”

Ia menunduk. Saya masih menatapnya. Kedua tangannya tampak sibuk memainkan ujung jas almamater birunya. Sesekali ia membetulkan posisi duduknya. Setelah mengembuskan napas pendek, ia pun melanjutkan perkataannya.

“Iya deh, Pak. Jadi gini… cewek saya itu akhir-akhir ini beda.”

“Cewekmu yang mana, nih? Anak Hukum itu, ya?”

“Bukan, Pak. Yang itu sih udah almarhumah. Beda lagi, nih. Baru dua minggu jadian.”

Saya hanya mengangguk-anggukkan kepala.

“Cewek saya itu baru semester satu. Ketemunya sih pas OPSPEK gitu. Terus beberapa kali ketemuan akhirnya jadian. Nah! Selama dua minggu kemarin itu adem ayem aja. Sampai akhirnya ada seorang temen yang ngasih tahu kalau cewek saya jalan sama cowok lain. Ya gimana ya, Pak. Saya pasti panaslah, ya. Akhirnya saya selesein saat tu juga. Saya temui cewek saya lalu saya tanya baik-baik. Dan, Pak tahu siapa cowok yang jalan bareng dia itu?”

“Emang siapa cowok itu, Ri?”

“Ngg… “

Ia tak melanjutkan kata-katanya. Mahasiswa semester lima itu memandang kosong ke permukaan meja di hadapannya. Saya pun memilih untuk mencerna setiap kata-katanya. Dalam hati saya membenarkan apa yang telah dilakukannya. Namun, saya juga tidak menyalahkan ceweknya.

“Cowok itu mantan pacar cewek saya di SMA, Pak. Gimana cobak?!”

Hanya seperti itu saja ia mengakhiri ceritanya. Melihat kegundahan di bola matanya, saya berusaha merangkai kata demi kata.

“Ri… Apa yang kamu lakukan menurut saya enggak salah. Udah bener itu. Kamu ajak cewek kamu ngomong baik-baik. Tapi ya itu… Satu hal yang harus kamu tahu, saya juga enggak nyalahin cewek kamu.”

“Kok gitu, Pak?”

“Gini lho, Ri. Saya yakin kamu tahu kalau setiap orang berhak untuk berteman dengan siapa saja…”

“Tapi, Pak! Enggak harus sama mantan juga. Gimana, sih?!”

“Sabar dulu, dong! Gini lho, Ri. Sekarang kamu udah tahu kalau cewekmu masih berhubungan sama mantannya. Dia pun juga udah minta maaf sama kamu dan mengakui kesalahannya. Apa itu enggak cukup bagi kamu?”

Cowok berusia dua puluhan itu tak segera menjawab. Ia memilih untuk membuang muka atas sikap saya yang tidak mendukungnya untuk menyalahkan ceweknya. Saya memahami dari bahasa tubuhnya.

“Ri… Kita enggak bisa dong maksain kehendak sama cewek kita. Kamu tahu enggak kalau mencintai itu bukan berarti harus maksain semua keinginan hati?”

Ia masih bergeming. Tatapannya masih jatuh ke sudut ruangan. Entah apa yang ada dalam pikirannya, saya sama  sekali tidak mengetahuinya.

“Pak… Saya paham tentang hal itu. Tapi… Kalau mendadak mereka balikan lagi, gimana?”

“Ri… Itu adalah sebuah kemungkinan terburuk. Ingat, ya. Di samping kemungkinan terburuk, ada juga kemungkinan terbaik. Kamu pernah memikirkan tentang itu?”

“Enggak pernah sih, Pak. Emang ada kemungkinan terbaiknya?”

“Oh… Jelas ada. Kemungkinan terbaiknya adalah cewekmu udah menyadari, kalau mantannya lebih cocok dijadiin temen daripada pacar. Itu menurut saya lho, ya.”

Cowok berambut cepak itu diam. Saya yakin kalau dia sedang memikirkan kata-kata saya.

Dan, benar adanya.

“Jadi, saya harus gimana sekarang, Pak?”

“Gampang, Ri. Gampang banget. Menurut saya, kamu hanya harus percaya sama cewek kamu. Itu aja.”

“Tapi, Pak. Apa itu menjamin kemungkinan terburuk enggak akan terjadi?”

“Tergantung gimana kamu ngomong baik-baik sama cewekmu tentang masalah ini. Apa perlu saya yang harus ngomong sama dia?”

“Kayaknya enggak usah deh, Pak. Saya bisa sendiri, kok.”

“Nah! Gitu, dong! Ajak dia ngomong lagi baik-baik tentang sejauh apa kedekatan mereka berdua. Kalau emang ternyata cuma temenan, ya kamu jangan segan-segan untuk minta maaf. Gimana?”

Ia pun akhirnya bisa menjawab pertanyaan saya dengan sebuah senyuman.

- mo -

 

 

[BILIK CURHAT] ~ Mantan Juga Berhak Bahagia

DP BBM
DP BBM

“Maasss! Mantan saya punya pacar baru! Syediihhh saya!”

“Ya terus?” batin saya pagi ini ketika seorang temen cewek tiba-tiba duduk manis di depan saya. Hanya gitu doang ia membuka cerita. Selanjutnya, ia diam. Kedua tangannya menyangga kepala. Sementara kedua bola matanya menatap ke arah saya. Semacam apa, ya? Kayak ada harapan darinya untuk mendapatkan sesuatu dari saya. Saya tahu persis tentang hal tersebut. Ini bukan kedatangan pertama kalinya. Seringkali, di sela-sela jam mengajar, ia tiba-tiba sudah duduk manis di kursi plastik warna biru di depan meja saya.

Pagi ini pun enggak jauh beda.

“Maasss… Masih inget kan sama mantan saya yang lulusan tehnik itu?”

Saya enggak segera jawab, dong. Cuma berusaha mengingat-ingat apa aja yang udah ia ceritain ke saya. Dan, mendadak ingatan saya rasanya penuh banget. Gimana enggak coba?! Hampir setiap hari ia curhat tentang mantannya yang masih belum bisa ia lupain. Saya tahu sih kalau mereka baru putus sebulan yang lalu.

“Ngg… Si Hendra maksudmu?”

“Iya, Mas. Jadi ceritanya kemarin saya lagi Car Free Day sama temen-temen ke Udayana. Eh… enggak sengaja ketemu sama tuh si Hendra lagi jalan sama cewek. Saya yakin cewek itu pacar barunya.”

“Kok kamu bisa seyakin itu?”

“Gitu deh pokoknya, Mas. Kebetulan cewek itu temennya temen saya. Dia tuh yang ngasih tahu.”

“Oh gitu. Terus gimana kelanjutannya?”

“Ape banget deh pokoknya. Saya langsung sih pergi menjauhi mereka. Gila aja. Entar saya dikira masih ngarepin dia lagi.”

“Lhah?! Emang iya, kan? Kalau emang enggak, ngapain coba kamu sedih gara-gara dia punya pacar lagi.”

“Yah! Mas ini. Enggak pernah punya mantan, sih. Makanya enggak tahu rasanya.”

“Err… Enak aja! Bukan kamu aja kali yang punya mantan. Jangankan mantan yang pacaran lagi, mantan yang ninggalin nikah aja banyak, kok.”

Lhah?! Kok malah jadi saya yang curhat, ya? Oke! Balik ke pokok curhatan seorang cewek yang sedang dirundung kesedihan atas sebuah kenyataan yang sama sekali belum bisa diterimanya.

“Sebenernya enggak gitu sedih sih, Mas. Cuma gimana, ya? Rasanya kok gimana gitu ngeliat kenyataan kalau dia cepet banget ngelupain saya. Hiks.”

“Emang kamu belum bisa ngelupain dia?”

“Susah, Mas! SUSAH!”

“Susahnya biasa aja kali, ah! Kamu pengin bisa ngelupain dia enggak?”

“Pengin sih, Mas. Capek hati tauk kalau inget dia sekarang udah bahagia sama yang lain. Seharusnya bahagianya kan sama saya. Bukan sama cewek gatel itu! Hih!”

Saya hanya menahan tawa mendengar pernyataannya tentang sebuah kebahagiaan. Bagaimana bisa, seseorang tidak merelakan kebahagiaan bagi seseorang yang pernah dicintainya.

“Katanya kamu masih cinta sama dia. Lalu kenapa kamu enggak rela dia bahagia?”

“Bukannya enggak rela sih, Mas. Saya juga sebenernya pengin ngeliat dia bahagia.”

“Nah, kan! Terus masalahnya di mana?”

“Masalahnya kenapa dia bisa berbahagia sama yang baru sementara saya belum bisa?”

“Berarti masalahnya di kamu sendiri, dong!”

“Iya juga sih, Mas. Terus gimana, dong? Pusing, nih!”

“Gampang, kok. Gampang banget. Suer, deh. Gini aja intinya. Dia bisa bahagia sama yang lain. Kamu pasti juga bisa. Dia bisa cepet banget ngelupain kamu. Kamu pun pasti bisa. Tergantung pada kamu, mau atau enggak untuk menemukan kebahagiaan itu dengan melupakannya serta mengganti dengan yang baru. Gitu doang, sih. Gampang, kan?”

“Gampang sih, Mas. Tapi praktiknya itu, lho. Lebih susah dari bikin seribu candi dalam semalem.”

“Ya udah. Tergantung sama kamu aja maunya gimana. Mau terjebak masa lalu yang sama artinya melenyapkan kebahagiaan masa depanmu. Atau … Menjadikan masa lalu sebagai pijakan untuk kebahagiaanmu di masa depan. Ingat lho, ya. Siapa pun berhak bahagia. Tergantung gimana menemukan dan mewujudkan kebahagiaan itu. Paham?”

Cewek berkerudung putih yang biasa disapa Rina di hadapan saya itu hanya mengangguk. Dan, bunyi bel tanda masuk pun membubarkan sesi curhat untuk hari ini.

Semoga Rina bisa menemukan kebahagiaannya, ya! Kalian juga, pembaca yang budiman, yang mungkin memiliki permasalahan cinta yang sama.

Selamat berbahagia semua! :)

 

- mo -

 

 

[BILIK CURHAT] ~ Namanya Juga Hidup

DP BBM
DP BBM

“Yang dimauin dia enggak mau. Yang enggak dimauin eh dia yang ngejer-ngejer. Sebel!”

Duh! Seringkali emang kayak gitu sih, ya. Banyak kok contoh kejadiannya. Saya sendiri yang begituan udah sering bangetlah. Lhah kok jadi saya yang curhat? Ngg…

Lupain curhatan saya barusan. Oke?! Oke, dong! Mending kita kembali pada curhatan di awal tulisan. Suer. Itu sama sekali bukan curhatan saya. Saya hanya numpang curhat saja. Lhah?! Sama aja kali, ya. #ehh

Langsung aja deh, ya. Jadi yang curhat di atas sama sekali bukan saya, tapi temen saya. Sebut saja namanya Cinta. Mungkin pembaca yang budiman bertanya-tanya, “Kenapa harus namanya Cinta?” Gini ya, Gaes! Bukan tanpa alasan saya pakai nama Cinta. Masalahnya dia ini mirip banget sama tokoh Rangga di film AADC. Tasnya doang sih yang mirip sebenernya.

Oke! Balik ke inti permasalahan yang akan dibahas hari ini tentang kejar mengejar cinta. Terdengar basi enggak, sih? Emang, sih. Seenggaknya masih enak untuk dinikmatin lah, ya. Gimana enggak? Masalah cinta kan emang enggak ada basinya untuk dibahas. Pasti setuju, dong?

Perihal kejar-mengejar cinta bukan monopoli cowok saja. #FYIajasih. Buktinya, sepagi ini saya kedatangan tamu, seorang mahasiswi PPL dari salah satu universitas di Mataram. Namanya mahasiswi pasti cewek dong, ya. Awalnya sih si Cinta ini konsultasi RPP IPA Terpadu. Nah! Selesai konsultasi untuk persiapan ngajarnya, dia enggak langsung keluar ruangan. Entah gimana awalnya, tiba-tiba dia melacur.

Gini curhatannya.

“Pak… Mau nanya dikit, nih. Boleh?”

“Boleh, dong! Nanya apa emang? Materi pelajaran?”

“Bukan, Pak.”

“Ya terus?”

“Ngg… Anu, Pak. Saya mau nanya-nanya dikit tentang cinta.”

Modyar!

Tapi saya enggak bisa mengelak, dong! Saya sih cuma yakin kalau dia emang nyaman untuk cerita sama saya.

“Boleh. Boleh. Gimana? Gimana?”

Cinta membetulkan posisi duduknya lebih dulu sebelum akhirnya ngomong pelan ke saya, “Pak… Kenapa ya kok keseringan yang kita mau susah banget dikejer, sementara yang enggak kita mau, justru dia yang agresif banget ngejer kita?”

Deg!

“Kamu nanya apa ngolok, sih?”

Gitu kurang lebih kata saya. Dalam hati, sih. Enggak mungkin dong seorang konsultan cinta dengan akreditasi A ngomong kayak gitu langsung di depan kliennya. Bisa turun entar akreditasinya jadi A-.

Mendengar pertanyaan dari Cinta tentang cinta (enggan pusing baca kalimat ini, kan?), saya diam sejenak. Butuh penjelasan singkat yang tepat untuk membantu memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Di sela-sela menunggu jawaban, Cinta tak henti-hentinya memainkan spidol boardmarker yang dipinjamnya dari saya sambil menunduk.

“Cin…” (Baca C I N. Bukan C Y I N)

Ia mendongakkan kepala. Tatapannya tenggelam dalam bola mata saya saat saya melanjutkan kata-kata.

“Namanya juga hidup. Kamu pasti tahu kan, bahwa dalam hidup ini, kadang yang kita inginkan bukanlah yang kita butuhkan.”

Ia menganggukkan kepala.

“Kamu juga pasti udah tahu, hidup udah ada yang mengatur, kan?”

Sekali lagi, ia mengangguk.

“Nah! Bisa jadi yang kamu kejer-kejer dan ingin kamu dapetin, sebenernya bukan yang kamu butuhin. Tapi bisa juga dia yang kamu butuhin untuk menjaga hatimu selamanya. Kita enggak pernah tahu, kan?”

Ia menunduk.

“Sama halnya dengan yang ngejer-ngejer kamu. Kamu enggak capek kejer-mengejer cinta?”

“Capek sih sebenernya, Pak. Tapi gimana, ya? Serba salah, sih. Di satu sisi saya pengin punya pacar kayak cowok yang saya kejer-kejer dan enggak mau pacaran sama cowok yang ngejer-ngejer saya.”

“Kamu berjuang untuk mendapatkannya, kan?”

“Iya, Pak.”

“Coba kamu pikir sekarang. Itu artinya sama kayak cowok yang ngejer-ngejer kamu. Dia juga berjuang untuk ngedapetin kamu. Oya, cowok yang kamu kejer-kejer care enggak sama kamu?”

Ia terdiam. Hanya gelengan pelan sebagai jawaban.

“Nah! Pasti kamu sebel, kan? Sama. Cowok yang ngejer-ngejer kamu pasti juga gitu. Sekarang kenapa kamu enggak coba aja untuk berhenti sebentar. Istirahat dari kejer-kejeran gitu.”

“Maksudnya, Pak?”

“Maksudnya gini. Kamu berhenti sejenak agar cowok yang ngejer-ngejer itu bisa nangkep kamu. Saat udah kayak gitu… Kesempatan bagimu untuk mengenalinya lebih jauh. Jika cocok, ya lanjut. Kalau enggak, ya tinggal kamu ngomong baik-baik sama dia. Beres.”

“Gitu ya, Pak? Dicoba, deh!”

Cinta menjawab dengan senyum lebar saat meninggalkan ruangan saya untuk melanjutkan tugasnya mengajar di kelas.

Semoga enggak capek lagi ya, Cyin! Eh… Cin maksudnya. Hih!

- mo -

[BILIK CURHAT] ~ Ketika Cinta Harus Memilih

DP BBM
DP BBM

“Pilih yang mana coba, Mas?!”

Waduh!
Sepagi ini sudah dibom dengan pertanyaan tentang pilihan. Saya yakin bukan dia saja yang dibingungkan oleh pilihan. Pembaca di mana saja berada pasti juga pernah mengalami hal yang sama. Ada kalanya, beberapa orang meminta pendapat ke orang lain. Bisa saja keluarga atau teman dekat. Sah-sah saja, kan? Setidaknya itu menjadi langkah awal sebelum memasrahkan segalanya kepada Sang Maha Penentu Pilihan.

Dari curhat bisa diperoleh masukan-masukan. Namanya juga masukan, kan? Diambil, silakan. Dicuekin ya monggo saja, to? Tak terkecuali pada kasus cinta yang sedang dialami oleh seorang sahabat saya pagi ini. Berkali-kali dikasih masukan, tapi entahlah. Kayaknya sih dia tutup telinga selama ini. Dan akhirnya, dia kembali untuk menceritakan hal yang sama! Beruntung saya seorang pendengar yang baik. Jadi, ya… Begitulah. Untuk kesekian kalinya saya pun mendengarkannya. Rasa-rasanya sampai hafal setiap kata dan kalimatnya.

Begini kasus cinta yang dialaminya.

Sahabat saya ini, panggil saja Jaka, tiba-tiba saja menceritakan kembali kasus cinta yang dihadapinya di sela-sela obrolan tentang sekolah. Dari awal ia bercerita, saya sudah tahu arah pembicaraannya. Bagaimana tidak? Itu-itu saja yang diceritakannya. Untungnya kali ini subjeknya berbeda.

Setelah meletakkan secangkir kopi hitam yang baru disesapnya, Jaka pun mulai membuka suara.

“Gini, Mas. Saya temenan sama cewek. Biasa aja sih wajahnya, tapi dia udah kerja. Sejak kenal sih, Bapak dukung saya untuk nikah sama dia. Tapi…”

Cowok berusia 25 tahun dengan badan tegap itu diam sejenak. Ia mengambil handphone di saku celananya. Sepertinya ada SMS dari seseorang. Benar saja adanya.

“Ada yang ngajakin ketemuan nih, Mas. Temen facebook. Gimana, Mas?”

Saya tidak menjawab panjang lebar. Hanya satu kalimat saja, “Situ mau enggak?”

Raut wajahnya berubah datar. Saya memahaminya sebagai sebuah keraguan. Hanya sesaat saja berlangsung. Setelahnya ia melanjutkan ceritanya.

“Maulah. Lebih cantik sih yang ini. Tapi dia masih SMA. Dia juga gampang banget diajakin seneng-seneng.”

Saya pun tak tahan untuk berkomentar, “Jaka… Jadi cewek yang macem apa kamu cari? Yang siap jadi istri atau cuma seneng-seneng doang?”

Jaka menarik napas sampai akhirnya berkata, “Mau sih cari yang siap jadi istri, Mas.”

“Ya berarti pilih yang mapan,” kataku singkat.

“Tapi… Saya masih pengin seneng-seneng juga, sih.”

Hadeuh!

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sejenak kemudian saya pun memberikan saran sederhana.

“Gini aja. Simpel aja, kok. Bandingin lalu tentuin. Intinya hidup itu bukan untuk hari ini aja, tapi juga masa depan. Itu yang harus situ ingat.”

Jaka menganggukkan kepala.

Begitu kurang lebih kasus cinta Jaka. Saya sengaja memberikan waktu padanya untuk menentukan pilihannya sendiri. Bagimanapun juga hidupnya ke depan tergantung pada pilihannya sendiri saat ini. Mudahan dia bisa segera menentukan pilihan terbaiknya.

Semangat berjuang, Jaka!

- mo -

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,237 other followers