7 Jurus Menulis Flash Fiction

Menulis flash fiction atau yang dikenal juga dengan cerita mini (cermin), memiliki keasyikan tersendiri. Kenapa? Tantangan jumlah kata tertentu atau maksimal adalah jawabannya.

Tidak ada ide, kesulitan mengeksekusi ide, logika cerita, pemangkasan, dan juga pemilihan kata adalah permasalahan yang sering dihadapi oleh flash fictioner/cerminis. Sedangkan bagi ‘pemula’ kesulitannya lebih pada memulainya.

Berikut jurus untuk memudahkan dalam menulis flash fiction/cerita mini:
1. Tentukan ide cerita terlebih dahulu. Catat dalam kepala saja, lalu mulailah mengembangkannya;

Misalnya:

Tentang perpisahan dua orang yang seolah-olah sepasang kekasih, tetapi sebenarnya saudara kandung.

2. Kembangkan ide awal menjadi premis singkat (satu kalimat yang mewakili isi cerita secara keseluruhan);

Misalnya:

Mengisahkan tentang dua orang cowok-cewek saudara kandung yang harus berpisah dan mengikuti orang tua pilihannya masing-masing.

3. Tulislah ending cerita yang diinginkan. Tidak perlu panjang-panjang. Singkat saja. Kok ending-nya duluan? Iya. Ini semata-mata untuk memudahkan kita dalam menentukan ‘tujuan’ flash fiction/cermin kita dengan memuntir awal yang akan kita buat;

Misalnya:

“Iya. Pasti aku akan menjaga ibu. Selamat jalan adikku. Selamat tinggal ayah,” kataku lirih sambil menyeka hujan yang tiba-tiba menderas di kelopak mataku. Aku pun bergegas menuju kedai kopi untuk mengabarkan hal ini pada ibu.

4. Awali flash fiction/cermin langsung dengan konflik yang dialami tokoh. Tidak perlu bertele-tele. Ingat! Flash fiction/cermin dibatasi jumlah katanya;

Misalnya:

Gubrak!

Aku tersentak mendengar suara itu. Kualihkan pandangan dari feri berbagai ukuran yang lalu lalang di hadapanku. Setengah berdiri, aku menatap ke arah sumber suara. Dari tepi kanal itu, aku melihat jelas sebuah kecelakaan. Seorang gadis yang sedang naik sepeda jatuh tersungkur. Beberapa detik kemudian, aku tersadar dan berlari menapaki padang rumput menuju lokasi kecelakaan.

5. Lanjutkan tulisan awal, sebisa mungkin usahakan dengan menggiring pembaca ke arah yang bertolak belakang dengan ending;

Misalnya:

“Bersiap-siap? Maksud kamu?” tanyaku penasaran.

“Ah! Sudahlah. Apa pun yang aku persiapkan tidak akan mengubah hubungan antara aku dan kamu,” jawabnya datar.

Aku sama sekali tak mengerti arah jawabannya. Aku dan Aurora terdiam. Suara feri yang lalu lalang masih terdengar jelas di telingaku, menyamarkan degup jantungku yang tak beraturan. Memang pada musim semi ini, kunjungan wisatawan meningkat. Banyak wisatawan yang ingin menghabiskan liburan dengan menikmati perbukitan hijau yang berderet mengitari wilayah Forsand.

6. Teruslah menulis hingga ‘nyambung’ dengan endingnya. Tetaplah berpegang pada prinsip ‘show don’t tell‘;

Misalnya:

“Maksud kamu? Kamu akan pergi? Begitu?”

“Iya. Maafkan aku. Ini!” kata Aurora menyerahkan selembar kertas terlipat rapi. Aurora pun berlalu menuntun sepedanya meninggalkanku dalam ketidakpastian sebuah rasa.

“Aurora! Jangan pergi!” aku berteriak.

7. Setelah selesai semua, edit sesuai jumlah kata yang dipersyaratkan/diinginkan dengan memadatkan isi cerita. Bisa dilakukan dengan membaca ulang dari awal kemudian memangkas kata/kalimat mubazir dan menggantinya dengan kata/kalimat yang lebih efektif.

Nah! Kurang lebih seperti itu. Mudah bukan? Jika ada langkah-langkah/jurus lain, silakan tambah di kolom komentar. Yuk! :)

Selamat berpesta dengan kata-kata!

7 Jurus Memancing Ide Menulis

Menulis bagi beberapa orang merupakan kebutuhan. Namun tak jarang, ada yang menjadikannya sekadar pengisi waktu luang. Banyak alasan yang melatarbelakangi seseorang tidak menulis. Tidak ada ide seringkali menjadi penghambat. Bagi yang memang dasarnya suka menulis, hambatan tersebut tentu bisa diatasi.

Untuk membantumu memancing ide, berikut ini tujuh jurus memancing ide:
1. Picu ide dengan lebih peka terhadap lingkungan sekitar (teman sejawat, keluarga, teman bergaul, komunitas, dll). Apa saja bisa menjadi ide sebuah tulisan;
2. Buka pergaulan dan interaksi dengan orang baru. Hal ini tanpa disadari akan menambah bahan untuk cerita baru;
3. Jangan bosan menjadi pendengar yang baik bagi pelacur (pelaku curhat). Curhatan sederhana bisa saja jadi tulisan yang istimewa;
4. Banyak membaca, apa saja. Ide bisa digali dari apa yang telah kita baca;
5. Lakukan perjalanan, ke mana saja. Pengalaman baru adalah pemicu lahirnya ide yang efektif;
6. Selalu berpikir kreatif dengan menghapus pikiran ‘tidak ada ide menulis’. Pikiran kuat semacam itu, akan memicu lahirnya ide-ide yang kadang datang dari proses berpikir;
7. Mengingat-ingat pengalaman pribadi dalam hidup. Jatuhnya memang curhat, tapi curhat terselubung bukan sebuah kesalahan, kan? :)

Punya jurus lainnya? Share di kolom komentar, yuk!

7 Toko Buku Online Langganan

Sebagai seorang book hoarder, saya seringkali tergoda untuk melengkapi koleksi buku yang saya miliki. Sebelum ada @gramedialombok, saya sering belanja buku secara online. Bahkan sampai sekarang pun tetap saya lakukan. Dari pengalaman berbelanja buku secara online, saya memilih beberapa toko buku online untuk dijadikan langganan.

Adapun alasannya adalah terkait dengan promo menarik berupa diskon, ketepatan waktu pengiriman, keutuhan paket, kemudahan transaksi, dan terpercaya. Beberapa toko buku online saya mengenalnya secara pribadi. Hal ini menjadi alasan utama saya.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, berikut ini adalah toko buku online yang recommended untuk melakukan transaksi:

  1. @bukubukularis
  2. @kutukutubuku
  3. @LineBookShop
  4. @pengenbuku
  5. @bukabuku
  6. @mizanstore
  7. @Jualbukusastra

Kamu punya toko buku online langganan lain yang recommended? Share di kolom komentar, yuk! :)

7 Pendorong Seseorang Membeli Buku Secara Online

Banyak hal yang menyebabkan orang gemar belanja buku secara online. Apa saja faktor pendorongnya?

  1. Buku yang diincar belum ready stock di toko buku;
  2. Diskon lumayan yang diberikan dari toko buku online;
  3. Buku yang diincar adalah edisi bertanda tangan penulis;
  4. Buku yang diincar adalah edisi cetakan terbatas;
  5. Ada bonus khusus dari buku yang diincar;
  6. Baru gajian;
  7. Memiliki m-banking di smartphone.

Jika masih ada lagi, silakan ditambahkan di kolom komentar. :)

CERPEN – Imaji

Ramalan Pisces

Dua tahun berlalu. Adikku sudah cukup besar untuk menentukan hidupnya sendiri dengan memilih berpisah dari keluargaku. Sementara kehidupan rumah tangga Papa dan Mama bukan lagi surga kecil bagiku. Semua telah berubah. Pun denganku. Banyak hal dalam diriku kurasakan berbeda. Tingkah laku, cara berpikir, dan bahkan tentang perasaan cinta. Cinta yang datang tiba-tiba sedikit demi sedikit menurunkan kemampuan akal sehatku untuk berpikir. Jangankan berpikir, sekadar mengingat orang-orang sekelilingku pun, aku mengalami kesulitan. Satu-satunya orang yang kuingat saat ini adalah Papa.

Aku sendiri sebenarnya juga bingung dengan keadaan ini. Papa. Iya. Papa. Entah mengapa tentang Papa tak ada satu hal pun yang bisa aku lupakan. Aneh, kan? Iya. Seperti itulah diriku saat ini. Aneh menurut orang yang tidak aneh. Padahal, sejatinya bagiku justru mereka yang aneh. Bersikap palsu dalam kenyataan untuk mengakui perasaan terdalamnya. Dalam kondisiku yang sekarang setidaknya aku bisa lebih jujur dengan diriku. Tentang cinta yang bagi sebagian orang menganggapnya tabu.

Dan, cinta itu kini telah berhasil membunuh sebagian jiwaku. Bukan cinta yang salah, tapi aku yang terus-menerus membiarkan perasaan itu berkembang tanpa kendali. Bahkan, sampai menerobos batas kewajaran. Salah? Aku rasa tidak. Bagiku cinta harus diperjuangkan semampunya. Meskipun, pada akhirnya rasa ini justru menyakitiku, tapi aku sudah tidak peduli. Ketidakseimbangan koordinasi syaraf adalah penyebabnya. Penolakan oleh orang sekitar, terutama Mama, membuatku semakin jauh tenggelam dalam kesedihan. Tunggu! Mama? Apakah aku punya Mama? Sebentar. Aku butuh waktu lama untuk mengingat tentang sosok Mama.

Semakin berusaha mengingatnya, sekujur tubuhku terasa semakin dingin. Seperti saat ini. Dingin yang begitu menusuk tulang membuat tubuhku terasa kaku. Sekuat apa pun aku berusaha, yang kutemukan hanya bayangan Mama sedang tertidur di sebuah ruangan. Itu saja. Mengingatnya membuat syaraf-syaraf sudut bibirku tertarik membentuk sebuah lengkungan dan membuat bola mata bergerak-gerak dalam kegelapan kelopak yang menutup.

***

“Krak!”

Lamat-lamat aku mendengar suara pintu dibuka. Jari-jari tanganku bergerak-gerak. Dingin perlahan menjalar merangsang syaraf mataku untuk sedikit terbuka. Samar. Dengan sedikit mengerjap, bayangan benda perlahan mulai fokus. Benda-benda terlihat begitu samar. Semakin aku berusaha keras untuk melihat, kepalaku terasa semakin cepat berputar. Beruntung ikatan di kedua pergelangan tangan cukup membantuku untuk tetap berdiri, tanpa tenaga sama sekali. Satu-satunya kekuatan adalah harapan, bahwa aku masih hidup. Telapak kakiku tidak bisa menapak sempurna di lantai yang licin. Bahkan kepalaku terkulai seperti membawa beban berat dengan rambut menutupi sebagian wajah.

Kesadaranku tidak serta merta pulih. Butuh waktu agak lama, hingga aku benar-benar sadar kalau ini bukanlah mimpi. Setelah berhasil menyatukan kerja seluruh sistem organ tubuhku, aku bisa mendongakkan kepala. Retina mataku menangkap bayangan benda-benda yang tampak abu-abu. Semuanya nyaris sama. Kesadaranku agak pulih, saat lensa mataku melihat sesosok perempuan menggunakan pakaian terusan berwarna hijau muda. Otakku menerjemahkan bayangan itu sebagai aku. Iya. Aku. Tunggu! Kenapa aku bisa melihat bayanganku sendiri? Perlahan susunan sistem syaraf otak mulai melakukan tugasnya, menganalisa dan meneruskan pada organ mata, bahwa ini adalah dinding kaca. Dinding kaca? Di mana aku?

“Kamu sudah bangun, Cess?”

Sanggurdi telingaku menangkap impuls suara yang belum terdengar sempurna. Butuh waktu agak lama untuk menemukan dan mengenali sumber suara. Syaraf sensorikku sepertinya belum sinkron dengan sumber rangsang yang ada. Semua masih samar. Indera pendengaran, penglihatan, dan lainnya belum mampu mengantarkan pesan ke otak secara benar. Sampai akhirnya, waktu itu tiba. Susunan syaraf pusat dan tepiku mulai bekerja.

Di balik dinding kaca, seorang perempuan berkaca mata tebal dengan rambut hitam disanggul, tampak mondar-mandir di luar dinding kaca. Dia membelakangiku dengan terusan serupa yang kupakai. Siapa dia?

“Syukur kalau kamu sudah bangun.”

Rangsang suara kembali menuju otakku.

“Mama?”

Suara langkah dari seorang perempuan paruh baya yang kupanggil sebagai Mama perlahan mendekat. Langkahnya terhenti pada sebuah mesin tepat di depan tempatku berdiri. Tangannya menyentuh sebuah tombol berwarna merah. Pintu dinding kaca pun terbuka.

Kurasakan kedua pergelangan tanganku sudah bebas. Tak ada lagi ikatan. Perlahan Mama memapahku ke sebuah tempat tidur.

“Berbaringlah.”

“Iya, Ma.”

Mama meninggalkanku menuju panel di sebelah kanan tempat tidur. Tak sekalipun mataku terlepas darinya. Dengan cekatan Mama menekan tombol. Seketika dari bagian bawahnya keluar rak yang mengeluarkan asap dingin. Mama mengambil salah satunya yang berwarna biru. Cairan dalam tabung reaksi itu berpindah ke jarum suntik yang dipegangnya.

“Kamu siap, Cess?”

“Siap, Ma,” jawabku yakin.

Mama telah memberitahukan persentase keberhasilan penelitiannya kali ini. Aku pun tahu risiko yang mungkin bisa saja terjadi padaku. Tapi, demi Mama, aku rela melakukannya. Sebenarnya bukan demi Mama saja, tapi juga diriku. Ada banyak kebenaran yang disembunyikan orang-orang di sekitarku, terutama Papa.

Formula yang disuntikkan Mama sepertinya mulai bekerja. Sel-sel darahku mulai kehilangan kendali. Termasuk sistem peredaran darah menuju otak. Aku terpejam menahan denyut kepala yang tak tertahankan dengan tubuh kadang berguncang.

“Ahh! Sakit, Ma! Sakit!”

Semenit, dua menit, dan lima menit pun berlalu. Aku tak lagi meracau. Kulihat Mama berdiri di sampingku, tersenyum memegang tanganku.

“Nah! Beres!”

“Apanya yang beres, Ma?”

Mama tampak terkejut dengan pertanyaanku. Sejenak kemudian, rasa terkejutnya menjadi sebuah senyuman.

“Berhasil. Bahkan, Mama tak perlu mengeluarkan kata-kata dalam pikiran, kamu udah bisa ngebacanya,” kata Mama yang membuatku semakin bingung dengan banyak kode yang bertebaran dalam pikiran Mama.

***

Di ruang tengah, Mama mengeluarkan instruksi-instruksi, hanya lewat pikiran. Aku pun mampu menerjemahkannya sebagai perintah yang harus diikuti.

“Iya, Ma.”

“Sekarang berangkatlah. Sebelum Papamu pulang dari Singapura.”

Aku mengangguk dan berpamitan untuk berangkat kuliah. Di kampus, aku langsung menuju ruang mading. Aku tahu, seseorang yang kucari ada di sana.

“Hei!”

Dugaanku tepat. Dia memang ada di sana. Seorang gadis seusiaku dengan menggunakan baju flanel, celana jeans dan sepatu sport menuju ke arahku. Cara berpakaian yang sama sekali berbeda dengan gadis seusianya. Tapi, justru itu menunjukkan jiwa petualangnya.

“Hallo!”

Aku membalas sapanya dan langsung memeluknya. Seminggu tak ada komunikasi benar-benar membuatku rindu pada sahabatku yang satu ini, Ariana. Meskipun, beda jurusan, tapi kedekatanku dengannya benar-benar terjalin sempurna. Perlahan kulepaskan pelukan saat menyadari banyak sekali pertanyaan dalam pikiran Ariana tentangku perihal aku yang menghilang.

“Oke. Cukup, Ariana.”

“Maksud elo apa, Cess?”

“Oh… Eh… Enggak papa, kok. Eh… Kantin yuk! Gue traktir, deh.”

“Eh… tumben. Emang hari ini elo ulang tahun? Tapi, sekarang, kan, tanggal 27 Maret? Ulang tahun elo bukannya tanggal 2 Maret, Cess?”

“Bawel, ah!”

Aku gandeng tangannya menuju kantin kampus. Banyak hal yang ingin aku korek dari Ariana. Tentang segala hal yang diketahuinya terkait hubungan kakaknya, Ratri, dengan papaku.

Di kantin, aku mengajak Ariana duduk di pojok yang sepi. Aku yakin di sini adalah tempat yang aman.

“Eh… Elo kenapa tumben kusut gitu, Ar? Ada masalah apa?”

“Jadi gini, Cess.”

Ariana tampak menghela napas. Sepertinya ada beban dalam hatinya yang ingin dikeluarkan. Dan, gilanya, aku justru menghilang saat dia membutuhkan.

“Gimana? Gimana?”

“Gini, Cess. Saat libur dua minggu kemarin, gue ada rencana jalan-jalan.”

“Terus?”

“Tapi, ya gitu. Elo tau, kan, gimana kakak gue?”

“Kakak elo yang hobi jalan sama om-om itu?”

“Heh! Kurang ajar elo! Gitu-gitu dia kakak gue tahu!”

Suara Ariana tiba-tiba meninggi. Hal ini membuatku sedikit terkejut.

“Maaf, deh,” kataku merajuk.

Ariana mendadak terdiam. Aku tahu dia tersinggung dengan kata-kataku. Diletakkannya sendok bakso di mangkoknya dengan agak kasar. Bunyi yang tercipta membuatku tersentak.

“Ar… Elo mau, kan, maafin gue?”

“Sebenernya gue enggak susah maafin orang. Untung aja elo sahabat gue. Oke, Cess. Lupain. Omongan elo sebenernya ada benernya juga, si. Dan, elo tahu, gara-gara itu rencana jalan-jalan gue gagal total. Damn!”

Sekarang waktunya. Kugeser dudukku lebih dekat lagi dengan Ariana. Dengan sekali tepukan pelan di punggungnya, Ariana menceritakan segala hal tentang Ratri, sekretaris pribadi Papa. Dari ceritanya, aku tahu, Ratri sama sekali tidak ada keinginan untuk menggoda Papa. Hanya saja, kebetulan dia diajak Papa pergi ke Singapura dalam rangka tugas. Karenanya Ariana dan saudara kembarnya tidak bisa ke mana-mana karena harus menjaga ayahnya yang sakit keras.

“Maafin gue, ya, Ar. Semoga bokap elo cepet sembuh.”

“Thanks, Cess.”

Sekali tepuk di punggungnya, Ariana kembali ke keadaan semula.

***

Sepulang kuliah, aku menemui Mama di laboratoriumnya. Mama menyuruhku berbaring untuk mengecek kondisiku. Aku pun melaporkan tentang segala informasi yang kuperoleh. Tak ada sedikit pun yang terlewat. Aku bangun dengan Mama duduk di sampingku. Iseng kutepukkan tanganku ke punggung Mama.

“Apa rencana Mama selanjutnya?”

“Entahlah, Cess. Mama hanya ingin pergi jauh dari Papa. Mama enggak sanggup kalau terus-menerus kayak gini. Banyak hal yang berubah pada Papa sejak beberapa bulan yang lalu.”

“Mama mau ninggalin Papa?”

“Kayaknya, iya.”

“Sendirian?”

“Enggak. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut Mama, asal kamu bisa menerima kehadiran asisten baru Mama.”

“Asisten? Kok Mama enggak pernah cerita, si? Siapa dia?”

“Dia masih baru. Selain sebagai asisten, dia juga sangat pinter bikin Mama bahagia. Di mana pun dan kapan pun. Enggak kayak Papa kamu.”

Aku semakin penasaran dengan cerita Mama. Aku sama sekali tidak menyangka, ternyata selain aku, Mama juga menyimpan rahasia. Secara saksama, aku mendengarkan cerita Mama. Sampai akhirnya, sebuah nama meluncur begitu saja dari bibir Mama, Ronald.

Ronald? Iya. Ronald adalah alasan utamaku mendukung penuh Mama untuk mengungkap perselingkuhan yang dilakukan Papa. Aku tidak ingin Mama mengalami hal yang sama denganku, menjadi korban perselingkuhan. Tapi, kenyataannya, ternyata justru Mama sendiri juga berselingkuh — dengan kekasihku.

Amarah pun akhirnya memuncak. Aku merasa selama ini Mama telah memanfaatkan aku demi tujuan pribadinya. Sebuah keinginan untuk mencari pembenaran atas apa yang dilakukannya. Bersamaan dengan itu, ada pesan masuk dari Papa yang mengabarkan kepulangannya hari ini, sekaligus memberikan sebuah instruksi.

Aku turun dari tempat tidur membiarkan Mama bercerita tanpa kontrol tentang kedekatannya dengan Ronald. Kedekatan yang sudah seperti suami istri. Secepat kilat kutekan tombol pada panel di samping tempat tidur. Rak berisi cairan terbuka. Kucari botol bertuliskan ‘racun’. Setelah menemukannya, cairan itu pun berpindah ke jarum suntik di tangan kananku. Sekali tusuk, tubuh Mama terkulai lemas di tempat tidur dengan kaki menggantung. Sejenak kemudian, tubuhnya mengejang dengan mulut mengeluarkan banyak busa. Mama terkapar.

Prok! Prok! Prok!

Suara tepuk tangan terdengar di pintu laboratorium. Seorang lelaki gagah muncul. Aku menyambutnya dengan pelukan.

“Gimana, Pa? Aku berhasil, kan?”

“Iya, Sayang. Dengan begitu enggak akan ada lagi yang mengganggu hubungan kita berdua. Kita akan bisa hidup bahagia selamanya, Sayang. Kamu mau, kan?”

Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan Papa. Jawaban yang menjadi rahasia selamanya, termasuk menyembunyikannya dari Mama dengan caraku sendiri. Ketakutan-ketakutan yang akhirnya terus-menerus merajam setiap syaraf sadarku.

***

Dingin di sekujur tubuhku. Bola mata bergerak-gerak dalam kegelapan kelopak yang sedikit demi sedikit terbuka.

“Kamu udah bangun, Cess?”

“Kamu si… siapa?”

“Aku mamamu, Cessa. Kamu enggak inget?”

“Ma… Ma?”

“Iya. Ini Mama.”

Aku terdiam. Tak percaya. Bagaimana mungkin Mama tiba-tiba berada di sini. Bukankah aku telah membunuhnya di laboratorium?

“Enggaakkk! Enggak mungkin!”

Kulihat matanya sembap menatap ke arahku. Tangannya halus membelai rambutku yang kusut. Sesekali dia meraba pergelangan tanganku yang terikat ke ranjang. Aku tahu, aku berada di tempat yang berbeda. Ini bukan di laboratorium. Aku sedikit melotot menatap seorang pria yang berdiri terdiam di sampingnya. Terlebih saat ada seorang pria lagi memakai jubah putih memasuki ruangan.

“Gimana kondisi anak saya, Dok?”

“Setelah hampir seminggu dia seperti ini, saya butuh waktu untuk menganalisa kondisinya lagi.”

“Ada kemungkinan dia bisa sembuh, kan, Dok?”

“Kemungkinan sembuh pasti ada, Pak. Saya akan berusaha. Sementara Bapak dan Ibu, jangan lupa berdoa.”

“Iya, Dok.”

“Oya, maaf, Pak, Bu. Jam besuk sudah habis. Saya harus memeriksa kondisi kejiwaan anak Bapak dan Ibu lagi. Tolong tinggalkan ruang perawatan ini.”

“Iya, Dok.  Terima kasih.”

Aku mendengar percakapan yang sebenarnya tak kumengerti. Ruang perawatan? Kenapa aku bisa di sini? Kondisi kejiwaan? Apakah aku sakit jiwa?

Aku berteriak saat kulihat seorang perempuan yang mengaku sebagai mamaku tertunduk meninggalkan ruangan.

“Tungguuu! Kamu bukan mamaku. Mamaku sudah mati!”

Dia tidak memedulikan teriakan histerisku. Aku terus meronta berusaha melepaskan diri dari ikatan di  tanganku. Sementara perempuan itu meninggalkan ruangan, sang pria justru berusaha mendekatiku.

“Kamu yang tabah. Mamamu ada tawaran penelitian ke Singapura bersama Ronald sebagai asistennya. Mereka akan menetap di sana. Mungkin selamanya. Papa yang akan menjagamu.”

Dia pun lalu menghilang mengikuti si perempuan. Perlahan seorang lelaki berjubah putih menusukku. Setelahnya, syaraf sadarku perlahan kembali tidak berfungsi, lenyap bersama semua imajinasi yang berada tipis di samping kenyataan hidup yang kujalani selama ini. Senyap.

 - mo -

Bukan (Lubang) Perawan

Kau tak perlu buru-buru menyebutku sebagai anak nakal. Suka keluyuran malam sendirian ke taman, lalu berkenalan dengan preman-preman. Aku hanya tidak tahan. Hampir setiap hari aku melihat sebuah pertengkaran. Adu mulut yang akhirnya berujung pada pemukulan. Semua terekam jelas dalam ingatan. Bahkan saat kau perlahan jauh meninggalkan. Mencari kehidupan. Seperti itu yang pernah kaukatakan.

Kau lantas menghilang di ujung jalan. Sementara ibu, harus membesarkan empat orang anaknya, sendirian. Salah satunya adalah aku, Tuan. Seorang anak lelaki kelas lima SD berusia belasan.

Dengan sayap yang memikat, aku pun akhirnya hidup di taman. Hinggap dan berpindah dalam setiap pelukan ke pelukan. Bukan kenikmatan. Aku hanya rindu dua tanganmu yang menghangatkan, Tuan.

Malam ini, aku kembali menyusuri ingar-bingar taman. Redupnya lampu adalah sebuah pemandangan. Menggodaku untuk meneruskan berjalan. Hingga sebuah sudut kutemukan. Di sana, seorang laki-laki seusiaku duduk sendirian. Lalu, kau pasti tak tahu apa yang terjadi, bukan?

Aku dan laki-laki mungil itu, sebut saja Alfian, berbagi kenikmatan. Berdua menggulung diri dalam asap putih yang menenangkan. Memang terlalu dini bagi usiaku yang belasan. Namun, aku sama sekali tak memahami itu sebagai perbuatan. Toh, ibu juga tak sempat mengingatkan.

Hingga larut, aku dan Alfian masih melagukan masing-masing kesedihan. Tanpa aku sadari, bahkan aku sudah tidak sedang berduaan. Di samping Alfian telah duduk dua orang lelaki dewasa yang berbincang penuh keakraban. Tanganku pun terjulur untuk bersalaman. Mereka adalah Anton dan Adrian. Malam pun akhirnya penuh tawa yang menyenangkan. Seharusnya tawa itu juga bisa kurasakan saat bersamamu, Tuan.

Perbincangan pun menemui titik kesepakatan. Dua lembar uang kertas seratus ribuan pun mereka ulurkan. Ke dalam saku celana, aku bergegas memasukkan. Tidak berhenti di situ saja, Tuan. Kau pasti akan terkejut saat mengetahui kalau aku menerima sebuah ajakan. Iya. Sekadar ajakan untuk jalan-jalan. Hati mana takkan riang saat terbayang perjalanan yang menyenangkan. Seharusnya itu bersamamu, Tuan. Tentu akan lebih membahagiakan.

Sepanjang perjalanan menuju kota tujuan, mataku disuguhi bayangan warna-warni dari kotak persegi berbagai adegan. Dua orang laki-laki sedang berbagi kenikmatan. Tak terkecuali telingaku yang mendengar erangan bercampur lenguhan. Ini adalah pertama kalinya aku mengenalnya sebagai pengalaman.

Sebuah perjalanan hampir satu jam yang akhirnya membawaku tiba di sebuah salon kecantikan. Lelaki bernama Anton yang biasa dipanggil Ses Anti adalah pemilik tempat di pinggir jalan. Dan, kau pasti tahu apa yang selanjutnya terjadi, Tuan. Iya, Tuan. Aku menjadi budak nafsu setan dalam panjangnya sebuah tangis kesakitan. Maaf, Tuan. Setelahnya aku bukanlah perawan.

Usiaku yang masih belasan membuatku takut terhadap ancaman. Hingga dalam perjalanan pulang, pelecehan kembali aku dapatkan. Di tempat berbeda dengan jarak tempuh hampir satu jam dari salon kecantikan. Kedua kalinya, aku kembali tak perawan. Bukan oleh Anton, Tuan. Namun kali ini giliran Adrian. Untuk kedua kalinya, aku hanya bisa menahan air mata kesakitan.

Setelah tersalurkan, aku pun kembali menuju rumah yang penuh kehangatan. Tentu saja tanpa dirimu di dalamnya, Tuan. Kau telah pergi meninggalkan untuk menemukan kebahagiaan hidup baru sendirian.

Di depan rumah, ibu menyambutku dengan pertanyaan-pertanyaan. Penuh kemarahan. Aku sama sekali tak memiliki keberanian melakukan pembelaan. Dengan kejujuran, aku pun menceritakan. Seharusnya ada kau juga di sana menenangkan, Tuan. Beruntung ibu cukup sabar dalam mengambil tindakan. Ia bergegas menghubungi polisi untuk melakukan penyelidikan.

Saat ini, aku telah mendapat keadilan dari berbagai bantuan. Hanya saja, luka ingatan tetap saja tak mau pergi begitu saja meninggalkan. Lalu, kapan kau akan datang untuk menyembuhkanku, Tuan?

- mo -

*terinspirasi dari kisah nyata anak laki-laki korban korban kekerasan seksual*

#AyoKeJakBook2014 – Apa Asyiknya @JakartaBookFair 2014?!

APA ASYIKNYA?!

Tidak asyik sama sekali, kalau kamu bukan pencinta buku! Beda kasusnya, jika kamu adalah pencinta buku, termasuk di dalamnya adalah book hoarder. Suka membeli buku, tapi entah kapan dibacanya. Hehe… Namun, bukan itu saja. Asyik juga untuk yang bukan pencinta buku, tapi menyukai pencinta buku. Kesempatan besar untuk bertemu dengan orang-orang keren di tempat ini sangat besar. Hehe…

Tak terkecuali saya. Sebagai seorang pencinta buku yang tinggal di sebuah kota kecil, saya sangat mendambakan hiruk-pikuk pesta buku. Dari balik keindahan pulau Lombok, saya bercita-cita kalau suatu saat saya harus bisa ikut berpesta! Dan, benar saja. Kesempatan itu pun tiba pada bulan November 2012.

Selesai mengikuti sebuah pelatihan di Puncak, saya pun berniat menghabiskan sisa waktu perjalanan. Awalnya saya berencana hendak ke Bandung. Berhubung ada info kemacetan parah di Pasteur mengingat long weekend, saya memutuskan untuk ke Bogor. Kebetulan di Bogor ada seorang penulis @gagasmedia yang kece badai, @adit_adit. Berkat kegigihannya, akhirnya saya bisa berkumpul (lagi) dengan teman-teman lain yang saya kenal dari jalur self-publishing. Dari hasil obrolan waktu itu, diputuskan untuk bertemu lagi di Jakarta dalam event Indonesia Book Fair 2012 (IBF 2012).

Kesepakatan tentang waktu dan tempat berkumpul pun akhirnya disepakati. Sebelum ke lokasi, dengan naik kereta dari Bogor, saya turun di stasiun Depok Lama dengan bekal insting. Tujuan saya, yaitu singgah sejenak di rumah keponakan. Setelahnya, saya hanya minta diantar ke stasiun kereta terdekat saja. Tetapi, akhirnya keponakan memutuskan untuk mengantarkan langsung ke lokasi IBF 2012 di Senayan.

Panas kota Jakarta menyambut kedatangan saya di depan pintu masuk. Meskipun demikian, saya tak henti-hentinya tersenyum. Kalian pasti tahu kenapa, bukan? Iya. Ini adalah pesta buku terbesar pertama yang saya hadiri. Ini artinya saya berhasil mewujudkan salah satu cita-cita saya. Bayangkan saja! Berangkat dari kota kecil yang sangat minim dengan acara sebesar ini, tentulah pengalaman tersendiri. Luar biasa!

Dan, sejak memasuki pintu masuk IBF 2012 pada hari Sabtu tanggal 17 November itu, penjelajahan pertama saya di sebuah surga para pencinta buku resmi dimulai. Ada debar yang tak terkatakan saat langkah kaki menyusuri jalan masuk. Aroma kertas menguar memenuhi rongga hidung dari setiap deretan buku yang tercetak jelas di indra penglihatan saya. Panas kota Jakarta pun mendadak berubah menjadi kesejukan luar biasa. Sejuk di tubuh, sejuk juga di hati. Duh!

Menyusuri setiap lorong, seakan pikiran saya tersedot ke sebuah pusaran ilmu yang tak terhingga. Ingin rasanya menenggelamkan diri selamanya di sana. Tidak salah. Deretan penerbit-penerbit terkenal berebut mencuri perhatian saya lewat potongan harga yang sungguh menggoda isi dompet. Dan, selain kamu, rayuan buku adalah hal yang paling bisa membuatku luluh. Gila!

Tidak berhenti di situ saja. Setiap lembaran kertas mendadak menjelma bidadari-bidadari cantik yang siap untuk dijamah. Ah! Begini rasanya. Terlebih saat akhirnya saya bertemu dengan seorang teman dari Lombok juga yang sedang merintis karir di Jakarta. Debar-debar bahagia tak henti-hentinya mengantarkan kabar tentang Lombok dan segala keindahannya setelah berpisah hampir setahun lamanya.

Kebahagiaan tidak berhenti di situ saja. Setelah melalui perjalanan panjang, saya akhirnya bertemu teman-teman. Bersama mereka kebahagiaan ada di setiap jejak kaki menyusuri setiap stan penerbit. Hingga akhirnya, waktu juga yang berkuasa. Pertemuan harus diakhiri dengan perpisahan. Setelah makan di Senayan City, saya dan teman-teman membubarkan diri. Petualangan tidak berhenti begitu saja. Sepulang mereka, langkah kaki saya kembali tergelitik untuk kembali ke area IBF 2012 dengan menenteng tas hasil perburuan sebelumnya.

Kali ini saya memilih jalan masuk yang berbeda. Dan, kalian tahu apa yang aku temukan di dekat pintu masuk itu? Surga kecil! Sebuah stan buku bekas menggoda tanganku untuk menjamah satu per satu koleksinya. Tidak ada potongan harga di sini, kecuali punya cukup urat malu untuk menawar serendah-rendahnya. Beruntung selama di Lombok saya sering mengantarkan kakak belanja di pasar. Darinya, saya belajar teknik menawar. Berhasil. Buku-buku bekas karya Dan Brown pun berpindah dari rak ke tangan saya dengan harga murah. Nikmat, kan?

Setelah berhasil membebaskan diri, stan-stan penerbit besar giliran menawarkan kebahagiaan. Saya berhenti cukup lama saat melewati stan Gramedia. Tahu kenapa? Di sana sedang ada book signing oleh Om @Gol_A_Gong. Hanya saja, saya tidak berhasil mendapatkan tanda tangan untuk Catatan Si Roy 1 – 5. Meskipun begitu, saya bisa bersalaman dengan beliau. Bahagia!

Keberuntungan tidak berhenti begitu saja. Kali ini adalah panggung utama yang menawarkan sebuah acara talkshow dan premiere film 9 Summers 10 Autumns. Dan, salah satu hal asyik yang saya dapatkan adalah berkesempatan untuk ‘mencuri’ ilmu kepenulisan dari Mas Iwan Setiawan, penulis bukunya. Sayang, saya tidak membawa serta buku 9 Summers 10 Autumns dan Ibuk untuk ditandatangani beliau. Sedih, ya? Namun, saya tidak terlalu sedih, karena saat itu juga mendapat bonus tambahan ilmu tentang dunia akting dari aktor kawakan Alex Komang dan aktris yang juga mantan Puteri Indonesia, Agni Pratistha. Seru, kan?!

Jadi, jika kamu juga ingin mendapatkan keseruan yang pernah saya dapatkan, #AyoKeJakBook2014 tanggal 23 Mei – 1 Juni 2014 di Istora Senayan!

Kenapa harus ke Jakarta Book Fair 2014 (JBF 2014)?

Sama halnya dengan IBF, JBF juga menawarkan banyak keseruan. Pastinya ada promo dan diskon buku. Juga ada beberapa acara seru lainnya di Panggung Utama yang dimulai pukul 13.00 WIB, di antaranya, yaitu launching buku dan talkshow dengan penulis keren. Kece, kan?

Apa saja hal seru dalam JBF 2014?

Banyak! Beberapa di antaranya, yaitu:
1. Diskon 40% Semua Buku @penerbitchange hanya di @JakartaBookFair! Download katalognya di sini

2. Launching #FestivalSeries + Talkshow “Publish Your Novel Today!” Oleh Penerbit @teennoura pada hari Sabtu tanggal 24 Mei 2014 pukul 15.00-16.30 WIB;

3. Demo Comic & Sketch Signing HijaboComic di booth @qultummedia Jakarta Book Fair pada 29 Mei 2014. Info: @hijabographic;

4. Diskon hingga 70% dan hadiah dari berbagai acara menarik lainnya (fashion show dan mewarnai) dari Penerbit Erlangga di stand nomor 119, 120, 124 & 125 (Depan Panggung Utama). Info selengkapnya di sini.

5. Acara book signing & sketch komik Mamomics dari Penerbit Anak Kita (@_anakkita) di @JakartaBookFair pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2014 pukul 14.00-17.00 WIB di Istora Senayan, stan nomor 131.

6. Info beasiswa Sampoerna Foundation (@psfoundation) di Panggung Utama tanggal 23 Mei 2014 pukul 16.30-18.00 WIB;

7. Talk Show, Workshop, Jumpa Editor, Jumpa Penulis di stan penerbit @GagasMedia di Panggung Utama dari tanggal 23 Mei sampai 1 Juni 2014.

Bukan itu saja pastinya! Banyak promo dan diskon buku serta masih banyak acara seru lainnya sepanjang perhelatan JBF 2014 yang akan dibuka tanggal 23 Mei 2014 pukul 13.30 – 16.30 WIB ini. Jaga terus linimasa @JakartaBookFair untuk info acara selengkapnya! Daftar acara untuk Panggung Utama, silakan baca selengkapnya di sini.

Jangan ketinggalan! #AyoKeJakBook2014 dan temukan surga para pencinta buku yang sesungguhnya!

Salam pencinta buku,

- mo -

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 5,205 other followers