.:. Untukmu Putih Abu-abu, Aku .:.

 

Categories: Suratku | Tags: | 20 Komentar

Lomba cerpen Andrea Hirata Song Book

Info Lomba!

Bentang akan menerbitkan Andrea Hirata Song Book, yang memadukan lagu ciptaan Andrea (soundtrack serial Laskar Pelangi) dengan kisah-kisah Laskar Pelangi yang menjadi sumber inspirasinya. Lebih seru lagi, Andrea Hirata Song Book juga akan menampilkan cerpen dari pembaca. Mau karya kamu masuk di project ini?

Cek syarat-syaratnya:

1. Mengirimkan karya cerpen atau artikel pengalaman pribadi dengan tema:

  • Inspirasi dari Tetralogi Laskar Pelangi
  • Negeri Laskar Pelangi (Pulau Belitong)

2. Tidak memuat unsur SARA (tidak berpotensi menimbulkan konflik) dan pornografi.

3. Naskah ditulis dalam kertas kuarto, 3-5 halaman, spasi 2, margin Top 4, Left 4, Right 3, Bottom 3 (dalam cm), font Times New Roman 12pt.

4. Setiap file MS Word hanya memuat satu cerpen.

5. Sertakan biodata lengkap (Nama, alamat, no HP, email dan profil singkat penulis) dalam halaman terakhir dari naskah (halaman terpisah).

6. Naskah diterima paling lambat 1 Maret  2012.

7. Jumlah cerpen yang dikirimkan bebas.

Lomba dibagi menjadi 2 kategori yaitu :

    • Anak & remaja    : usia max 15 tahun
    • Umum                  : usia diatas 15 tahun

Hadiahnya: 

2 pemenang kategori anak dan remaja

Uang sebesar @ Rp 350.000,00  + paket buku bentang

2 pemenang kategori umum 

Uang sebesar @ Rp 500.000,00  + paket buku bentang

Naskah dapat dikirim via

email: songbookandrea@gmail.com

dengan subyek email  Andrea Hirata Song Book  

 

Sumber : Fan page Facebook Bentang Pustaka

Categories: Event | Tags: | 2 Komentar

.:. Melepasmu (takkan) Semudah Itu .:.

Senja kelima belas tanpamu. Tak ada gurat jingga, juga merpati yang pulang ke kandangnya. Hanya pelangi yang menjelma dari rinai kecil meniti setiap titik di pipi. Bukan luka, bukan pula derita. Ini tentang bahagia.

“Besok aku berangkat. Kamu jaga diri baik-baik ya,” katamu padaku, datar.

“Pergilah! Aku tak akan mencegahmu. Pintu ini selalu terbuka untukmu,” jawabku saat itu.

Ah! Kamu memang paling bisa menenangkan gemuruh dadaku. Bahkan aku sendiri tak bisa mendengar detak jantungku yang berpacu dengan kecupanmu di keningku. Hanya dengan begitu aku bisa membuat ringan langkahmu. Entah berlalu selamanya ataukah hanya sementara.

Aku masih termangu di depan pintu, mengamati bekas jejakmu saat meninggalkanku. Meski aku tak tahu pasti apa alasanmu, tapi aku yakin hatiku tak pernah salah menilaimu. Kamu pasti akan kembali untukku; harapku.

***
Waktu terus berlalu, beribu-ribu senja sudah kulewati. Namun, tak jua kamu datang kehadapanku. Aku masih duduk manis di depan pintu. Menanti senyummu yang terkembang saat menginjakkan kaki kembali disini. Tempat yang kita sebut sebagai rumah.

Aku masih betah termangu di depan pintu. Berharap jejakmu kembali mengarah ke tempat aku berpijak ini. Kutekuri beberapa lembar kertas usang darimu. Sudah berbulan-bulan hari kujalani untuk membaca surat yang sama. Surat terakhir darimu yang mengabarkan bahwa kamu baik-baik saja, disana. Kota yang selalu terjaga dalam impian kita.

“Kamu masih nunggu dia, Nak?” terdengar suara Ibu di belakangku. Laksana jarum tipis yang menghujam kulit. Terasa perih yang menyengat pori-poriku. Aku mengerenyit pelan, mengigit bibir bawahku dengan rasa tertahan.

“Iya, Bu. Aku percaya dia akan pulang. Menjemput aku,” ucapku lirih. Bibirku gemetar, seolah menanggung ragu yang tertahan. Berharap itu tak terjadi, setengah berdoa, kekasihku itu akan datang untuk menjemputku. Seperti janjinya dulu.

“Nanti, kalau aku sudah sukses disana. Aku akan pulang buat menjemputmu.”

Teringat jelas dalam pikiranku kata-katamu dulu. Yang mampu tenangkan batinku yang meragu akan keputusanmu. Bukan. Bukan karena kamu menjadi jauh dariku. Namun cemas dan ragu atas kelanjutan hubungan kita nanti.

“Ga usah cemas. Aku bakal baik-baik aja disana. Dan nggak bakal macam-macam kok.”

Perlahan rasa takutku kembali membesar. Sebuah perasaan kehilangan yang wajar untuk dicemaskan. Aku takut kehilanganmu. Aku tak kuat membayangkan kerinduan ini tak berpulang ke hatimu.

***

Senja masih terlihat sama, dengan semburat jingga yang mewarnai ruas-ruas awan. Menyinari bumi yang sebentar lagi berganti warna. Sesaat lagi, matahari akan ditelan oleh langit malam.

Aku terduduk di beranda rumah. Kuperhatikan buku-buku awan yang beriringan dan berarak pelan ke arah timur. Kuhirup nafasku pelan, meredakan ledakan emosi yang mengguncang hatiku. Kunikmati segarnya udara yang memilin lembut di sekitarku. Kutangkap dan kualirkan kedalam paru-paru. Menentramkan nadi yang sempat menegang.

Kuremas kencang kertas surat yang kugenggam. Surat yang lama kutunggu. Surat darimu. Surat yang kunantikan datangnya kembali. Berharap senyum yang akan kamu berikan melalui surat tersebut, yang mengatakan kamu merindukanku, yang memberi kabar kamu akan secepatnya menjemputku.

Tangis tak dapat terbendung. Disaksikan oleh senja yang memerah ironi. Hujan membasahi tanah hatiku. Deras. Begitu deras. Seperti badai yang merontokkan setiap ketegaran dalam diriku. Seperti hari itu, ketika senja yang menjadi saksi kepergianmu. Dan kini, senja pula yang benar-benar mengantarkanmu pergi seutuhnya dalam hatiku.

Kuremas semakin keras suratmu yang tak lagi kuperlukan. Rangkaian kata yang kamu ucapkan begitu sederhana, namun sanggup memecahkan isi hatiku. Susunan kata yang begitu mudah untuk dijawab, oleh orang lain selain diriku.

Hai, apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja. Sudah berapa lama aku tidak mengirimkan surat kepadamu?

Oh ya, aku minta maaf. Aku tidak dapat memenuhi janjiku padamu. Aku telah jatuh cinta dengan seseorang lainnya, dan beberapa minggu lagi kami akan menikah.

Aku sangat-sangat minta maaf padamu.

Menunggu selalu tidak menyenangkan, aku tahu itu sejak awal. Kupikir dengan menunggumu, aku akan mendapatkan jawaban yang membahagiakanku. Namun ternyata tidak. Penantianku berjalan sia-sia. Ingin kumelupakanmu. Ingin kulepaskan dirimu, berharap bayangmu tidak terlalu lama menghinggapi diriku. Ingin kulakukan itu, andai saja semua itu mudah dilakukan.

*Sebuah tulisan duet dadakan dengan @danissyamra

Categories: Flash Fiction | Tags: | 4 Komentar

.:. Beberoq .:.

Tak ada pilihan lain saat rintik hujan yang awet seperti rindu. Wisata kuliner saat malam Minggu adalah menu wajib. Seperti biasa, di bawah tenda biru pedagang kaki lima sepanjang jalan di Cakranegara, aku memilih menu kesukaanmu, ayam Taliwang.

Duduk di kursi plastik biru di salah satu sudutnya. Dua porsi ayam Taliwang tersaji lengkap dengan bumbunya yang menggugah selera. Tak lupa sepiring kecil “beberoq” melengkapinya. Ah! Seleramu memang tidak beda jauh denganku, sama-sama suka pedas. Mungkin karena itu, hati kita cocok.

“Ini sayap, pantat, kaki dan kepala untukmu, Mas,” katamu, selalu seperti itu.

Aku hanya tersenyum, seperti biasanya. Ritual tukar-menukar organ ayam pun selesai setelah aku menyerahkan bagian dada padamu. Sesederhana itu kita saling berbagi. Dan, itu adalah salah satu kebahagiaanku bisa memilikimu, selalu mengerti apa kesukaanku.

“Masih belum bisa makan ‘beberoq’ ya, Mas? Sini aku ajarin,” katamu sambil menyuapkan potongan terong kecil yang dicampur dengan potongan bawang merah dan sambel tomat.

“Emang enak ya?” tanyaku agak ragu membuka mulut.

“Wuih! Enak banget dong! Coba deh!” katamu sedikit memaksa.

Aku pun membuka mulut dan mulai menggigit potongan terong itu. Ada semacam penolakan dari perut, tetapi tiba-tiba aku ingin muntah. Aku memaksakan diri menelannya.

“Cukup, Arini,” kataku pelan.

“Padahal enak lho, Mas. Ya udah kalau nggak mau, aku habisin ya,” katamu sambil cekikikan.

Malam pun merambat pelan, hidangan lezat itu pun ludes dalam sesaat.

“Mas, ini pesanannya sudah siap. Selamat menikmati.”

“Eh…eh…iya, Pak. Terima kasih,” kataku tergagap.

Aku tersadar dari lamunanku, tanpa kamu di hadapanku. Ini malam Minggu kedua tanpamu. Sendirian? Iya. Kesepian? Pasti. Entah apa yang harus kulakukan malam ini.

Aku menatap makanan pesanan yang sudah terhidang di depanku. Satu porsi ayam Taliwang dan dua piring kecil ‘beberoq’.

“Minta piring kosong satu ya, Pak!”

Aku segera makan dengan lahap. Setelah itu aku melanjutkan menyantap bagian dada ayam yang sudah aku pisahkan sebelumnya di piring tambahan yang kini tak lagi kosong. Tak lupa aku juga menghabiskan sepiring kecil ‘beberoq’ yang tersisa. Seperti itu caraku merayakan rinduku padamu; mantan kekasihku.

Mataram, 4 Februari 2012

Categories: Sajakku | Tags: | 10 Komentar

.:. Pelecing Kangkung .:.

“Nggak usah deh,” kataku pada Arini.

“Nggak lah, Mas. Kan tadi aku udah janji mau ngasih Mas sepulang dari Senggigi,” jawab Arini sambil menggeser duduknya mendekatiku.

“Eh…tapi aku kan ngerasa nggak enak,” jawabku sambil membuka sedikit bibirku.

“Gimana, Mas? Enak nggak?” tanya Arini setelah sepersekian detik bibirku bergerak-gerak.

“Enak banget. Cuma sepertinya kok ada yang kurang ya?”

“Kurang apa nih? Kurang enak ya? Atau kurang banyak? Mau aku tambahin?”

“Eh…eh…bukan, tapi kayaknya pelecing kangkungnya kurang rasa terasi deh.”

“Lho kan sengaja, karena saya tahu Mas nggak suka terasi.”

“Iya sih, tapi sekarang aku suka terasi.”

“Lhah? Tumben, Mas? Siapa yang ngajarin?”

“Bibirmu yang udah ngajarin.”

Categories: Flash Fiction | Tags: | 2 Komentar

.:. Segitiga Sama Sisi .:.

Sore yang tak biasa. Gerimis bukan lagi satu-satunya yang meramaikan suasana. Canda tawa pelanggan terselip diantaranya. Sementara aku, hanya bisa mematung di belakang meja memperhatikan setiap gerak-geriknya. Dibalik kaca belakang coffee shop, tempat meramu kopi pesanan pelanggan, lensa mata dan sanggurdi telingaku merekam segala kejadian. Mengumpulkannya dalam kerumitan kenangan.

Sesekali terdengar suara seorang perempuan yang dengan ceria menceritakan novel terbarunya kepada seorang pria. Kekasihnya, mungkin. Perkataan yang terngiang, bahkan membuatku sejenak terlupa akan tugasku.

“Kupersembahkan tulisanku padamu yang tak pernah tahu itu untukmu.”

Deg!
Semacam lembing menghunjam tepat di jantungku. Itu sama persis dengan kisahku. Kisah yang terkisahkan dalam novel sepanjang kehidupanku. Untukmu tanpa pernah kamu tahu.

Di sudut lain, seorang yang sepertinya backpackers sedang asyik dengan dunia petualangannya. Entah dengan siapa dia berbincang, aku tak memperhatikannya. Hanya satu kalimat yang kuingat mengalir membuat asap dari secangkir kopinya yang pekat sedikit mengarah kiblat.

“Aku petualang sejati yang akan menyudahi petualangan untuk petualangan baru bersamanya.”

Ini bukan aku. Aku menyerah bahkan sebelum aku memasang tas ransel untuk mulai bertualang. Ketakutan akan terjatuh ke jurang, atau pada tatapan kejam binatang liar. Aku sama sekali belum siap. Meskipun kehidupan sudah mengajariku agar bisa kuat, tetapi aku tetaplah ranting rapuh. Menunggu patah setelah daun-daun jatuh. Tersebab masa laluku bersama kamu dan dia.

Aku masih belum mengalihkan pandanganku ke sekeliling yang riuh. Aku menikmati setiap detik yang berlalu bersama cerita kehidupan yang tertinggal dalam ampas kopi pelanggan. Pandanganku sedikit kabur. Bukan oleh air mata, tetapi asap air panas yang mulai mendidih. Menyadari itu, kualihkan pandanganku dari sesosok perempuan yang tampak rapuh yang sedang berusaha menikmati kehidupannya.

Aku bergegas mematikan kompor listrik dan mulai menakar kopi pesanan. Kali ini ada pesanan yang berbeda. Aku menyiapkan ketiganya, kopi, gula, dan garam dapur. Ada getaran halus dalam hati, saat aku meletakkan ketiga toples kecil itu dalam posisi segitiga sama sisi. Entah ini pertanda ataukah semacam sindiran untukku. Kubuka masing-masing tutupnya, kemudian aku meraciknya sesuai pesanan, kopi, gula, dan garam dalam 3 banding 2 banding 1. Aku mulai mengaduknya sampai bercampur sempurna. Aku menghela napas dalam-dalam.

“Ah! Seandainya aku, kamu, dan dia bisa disatukan pasti akan senikmat kopi racikanku ini.”

Categories: Flash Fiction | Tags: | 11 Komentar

.:. Jadilah Milikku, Mau? .:.

Jadilah milikku, mau?

Kamu masih terdiam di kursi bambu depan rumahmu. Ini adalah pertanyaan kesekian yang aku lontarkan. Aku tak pernah memaksamu untuk menjawab “Iya”. Aku yang mengawali rasa ini, dan aku juga yang pada akhirnya harus siap tersakiti.

Jadilah milikku, mau?

Kamu hanya menggeser dudukmu. Kursi bambu itu berderit, seakan seperti itulah isi hatimu saat ini. Aku tak menyalahkanmu akan sikap diammu. Aku tahu kamu diam bukan berarti tak mau, tapi memang aku yang terlalu cepat mengungkapkan perasaanku. Aku sudah mencoba mengendalikannya, tetapi justru hatiku kian berontak untuk mengungkapkannya.

Jadilah milikku, mau?

Bibir merahmu masih terkatup. Aku lega meskipun belum plong. Beban masih saja menggelayuti hatiku. Ini tentang perasaan yang terpendam setelah sekian lama dalam kebersamaan, aku dan kamu. Bahkan, tanpa sepengetahuan orang tuamu. Kamu begitu pandai merahasiakan ini semua. Itu yang aku salut sama kamu.

Jadilah milikku, mau?

Aku tersenyum tipis, saat bibir mungilmu mulai terkuak sedikit. Aku harap-harap cemas, saat pandanganmu mengarah ke sekeliling. Aku yang sudah tidak sabar, menggeser kursi bambu mendekatimu. Suara yang cukup untuk membangunkan seisi rumahmu baru saja terjadi. Dan, tanpa kusadari di ambang pintu, ibumu tersenyum padaku.

“Tidak ada apa-apa kok, Bu.”

“Saya kirain ada yang jatuh. Ya sudah. Silakan dilanjut kalau gitu.”

Kamu tersipu. Pun, dengan aku. Kita hanya cekikikan di beranda melepas kepergian ibumu masuk rumah. Sekarang aman.

Jadilah milikku, mau?

Pertanyaan yang sama, dan belum ada satu jawaban pun kuterima. Setengah berbisik kamu akhirnya membuka mulutmu. Mata bulatmu nyaris tak berubah. Tetap menatapku malu-malu.

“Nanti ya. Saya akan menjawab setelah pak Guru selesai mengajariku materi ulangan besok tentang gaya gravitasi. Gimana?”

Categories: Flash Fiction | Tags: | 3 Komentar

.:. Aku Maunya Kamu, Titik .:.

Aku maunya kamu. Titik.

Tak berlebihan. Kamu pantas mendapatkannya. Kamu yang telah memantik api asmara yang meredup dan hampir padam. Meletupkan kembali kisah lama yang hampir saja tak bernyawa. Kamu hadir saat aku sudah tak ada lagi harapan untuk memuja. Bahkan tak ada lagi asa untuk membina sebuah kebersamaan. Terima kasih, kamu.

Aku maunya kamu. Titik.

Kamu yang selalu tersenyum manis, sejak pertemuan kita seminggu yang lalu. Kamu yang selalu ceria menghiasi hari-hariku. Ah! Kehadiranmu telah menciptakan pelangi selepas hujanku yang bertubi-tubi. Kamu telah menjadi jawaban atas pertanyaan yang selama ini dilontarkan padaku. Aku telah siap, tinggal menunggu waktu yang tepat. Sampai hubungan kita benar-benar bukan lagi sekadar senang-senang.

Aku maunya kamu. Titik.

Salahkah aku? Tentu tidak. Tidak ada kata salah dalam mencintai. Kamu telah datang membawa hatiku yang telah rusak dengan keceriaanmu. Kamu yang selalu mengajarkan aku, bahwa ada satu sisi dalam diriku yang harus tetap bersinar. Begitu caramu mengembalikan duniaku. Duniaku yang tenggelam oleh masa lalu. Ah! Kamu.

Aku maunya kamu. Titik.

Aku tak peduli, walau kita hanya bisa bertemu seminggu sekali sejak kamu bilang iya. Bersamamu aku mulai belajar, bahwa wanita hadir untuk dimengerti, bukan untuk disakiti. Terima kasih, kamu. Aku berjanji akan menjagamu. Sekarang dan sampai nanti.

Aku maunya kamu. Titik.

Meskipun aku harus menunggumu, sampai kamu cukup umur untuk aku bisa menikahimu.

Categories: Flash Fiction | Tags: | Tinggalkan komentar

.:. Kamu Manis, Kataku .:.

“Kamu manis,” kataku.

Setidaknya itu ungkapan kekagumanku padamu. Iya…kamu. Seseorang yang hadir setelah kepergiannya, dulu. Dia yang tak lagi menghiraukan aku lagi. Dia yang kini entah dengan siapa sedang bercumbu. Ah! Masa lalu yang takkan pernah benar-benar berlalu. Mungkin.

Ternyata aku salah. Masa lalu sepertinya enggan mengiringi langkahku. Sudah ada kamu yang selalu meyakinkan aku untuk meraih masa depan. Setidaknya aku bahagia sejenak denganmu. Memilihmu adalah jalanku mencapai bahagia. Setidaknya saat ini saja. Boleh?

“Kamu manis,” kataku lagi.

Kamu hanya tersenyum. Setiap bertatap muka, hanya itu yang sanggup kukatakan. Tak lebih. Aku tak berani untuk mengungkapkannya. Sungguh. Aku takut disangka gila karena terus memujamu. Apa aku salah terlalu memujamu?

“Kamu manis,” kataku, berulang kali.

Dan, kamu tak pernah bosan mendengarnya, terpaku diam dalam cermin.

Categories: Flash Fiction | Tags: | Tinggalkan komentar

.:. Malaikat, Aku Titip Rinduku .:.

Dear Ayah,

Ayah baik-baik saja kan? Maafkan aku yang sudah lama tidak mengirim kabar untukmu. Bukannya aku tidak sayang ayah, tapi semata-mata karena aku memang belum ada waktu untuk menjengukmu. Maafkan aku, Ayah. Aku janji, aku pasti akan menjengukmu segera mungkin. Saat ini, aku hanya bisa menjengukmu lewat doa. Iya. Hanya lewat doa. Ayah tidak keberatan kan?

Ayah,

Entah mengapa, tiba-tiba aku ingin menulis surat untukmu. Asal ayah tahu, ini bukan surat, tapi rindu yang tak sempat terkatakan pada sosok yang mengagumkan; engkau. Bahkan selaksa doa rasanya takkan cukup untuk mengobati rasa rindu ini. Rindu tawamu, yang selalu membuatku tegar saat aku terpuruk. Rindu punggungmu, saat aku merengek karena kelelahan berjalan kaki. Dulu. Iya…dulu.

Ayah,

Aku tahu ayah bangga dengan keberhasilanku. Aku tahu itu berkatmu. Doamu yang tak pernah putus, keperkasaanmu mencari biaya agar aku bisa kuliah. Ah! Ayah! Aku rindu masa-masa itu. Masa-masa saat ayah berkata, “Kamu hebat, Mo!” Singkat, tapi aku tahu begitulah cara menunjukkan cintamu padaku, anak bungsumu. Ayah selalu tersenyum paling lebar, tertawa paling keras saat aku berhasil. Menjadi juara kelas saat SD sampai SMA dan berhasil kuliah tanpa tes. Hanya lewat surat ini, aku ingin mengabarkan keberhasilanku saat ini. Aku sudah tidak tahu bagaimana lagi hendak menyampaikannya.

Ayah,

Sekian dulu ya, Yah. Ayah istirahat yang tenang ya. Aku di sini mendoakanmu sepenuh cinta agar malaikat menjagamu di surga.

 

Dariku,

 

Anak bungsumu

 

 

 

Categories: Suratku | Tags: , | 3 Komentar

Blog pada WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.019 pengikut lainnya.