Berbincang dengan Petang

Berbincang dengan Petang

“Hai, Petang!”

“Hai juga! Ah! Rasanya lama sekali kau tak membuka suara. Ke mana saja?”

“Tidak ada, Petang. Aku tak ke mana-mana. Hanya berputar-putar saja dengan bahagia sebagai pusatnya.”

“Yakin?”

“Tentu saja. Kenapa harus meragukannya?”

“Aku tak meragukanmu. Hanya penasaran saja. Tentang apa yang membuatmu bahagia. Tentang apa yang membuatmu enggan beranjak dari sekitarnya.”

“Adalah aku. Dirimu yang tak pernah mengeluh saat seharusnya cakrawala menyentuh.”

“Jelaskan padaku, wahai pemilik bahagia. Mau?”

“Begini, Petang. Sebelumnya izinkan aku bertanya. Kenapa kau tak pernah menolak untuk diganti gulita?”

“Karena memang seperti itu seharusnya. Lalu apa hubungannya dengan bahagiamu?”

“Aku pun demikian adanya, Petang. Aku tak pernah mengeluh untuk hari-hari yang berat. Sebab ada malam yang meringankan beban seharian”

“Lalu… Siapakah malammu? Bolehkah kutahu?”

“Malamku adalah kekasihku. Pemilik hati, pemeluk pilu.”

#TigaKata – Sapi. Sepi. Tepi.

#TigaKata – Sapi. Sepi. Tepi.

Seekor sapi betina sedang duduk di sebuah padang. Angin malam berembus melahirkan kantuk tak kepalang. Ia sendirian saja. Sesekali ia menggelengkan kepala. Bunyi lonceng di lehernya bergemerincing saat itu juga. Ia terus berusaha membiarkan matanya terbuka. Ia hanya tak ingin tertidur tiba-tiba. Itu saja. Bahkan gulita tak menyurutkan niatnya untuk tetap terjaga. Pun nyeri pada luka bernanah di sekujur tubuhnya. Berhasilkah ia?

Sesaat kemudian sepi menyergap. Tak terdengar lagi suara lonceng di lehernya. Ke manakah ia? Tak ada yang mengetahuinya. Bahkan angin malam enggan bercerita. Pun pohon-pohon yang daun hijaunya telah berubah warna. Pekat menyapa. Gulita. Tanpa tanda.

Sementara itu seekor sapi jantan mengendap-endap dari arah tepi padang. Suara langkah kakinya menimbulkan bunyi samar saat menginjak ilalang. Ia baru saja kembali dari berkelana. Tak seberapa lama, ia pun tiba di tempat sapi betina semula berada. Mendadak tubuh besarnya gemetar di belakang tubuh sapi betina. Apa yang terjadi? Tidak terjadi apa-apa sebenarnya. Ia hanya tak mampu menahan diri ketika sapi betina tiba-tiba terbangun dan bertanya, “Sudah berapa betina kaucumbu malam ini?!”

Tak lama kemudian, sapi jantan itu benar-benar jatuh. Di sekitarnya berserakan ramuan obat luka yang berhasil diperolehnya dari seseorang yang telah mempekerjakannya.

#TigaKata – Rapuh. Sepuh. Simpuh.

#TigaKata – Rapuh. Sepuh. Simpuh.

Pagi yang rapuh. Air mata lupa tempatnya menyembunyikan luka. Bukan. Ini bukanlah rapuh yang sesungguhnya. Hanya rasa yang tersesat menuju doa. Bukan. Ini bukan luka yang sebenarnya. Hanya dibuat-buat agar tahu rasanya menjadi manusia. Ah! Ternyata ini bukan yang sejujurnya. Sebenarnya hanya ada rapuh.

Termakan usia sepuh dalam ketakutan-ketakutan yang sebenarnya tak utuh. Hanya saja bergantian menghantam. Tak ayal kemampuan bertahan hanya menjadi harapan. Bahkan ketabahan yang tersisa tak lagi sanggup menjaga benteng kehangatan. Rasanya wajar jika akhirnya sepuh berkarib dengan rapuh.

Namun bukan berarti tak ada sisa kekuatan. Tercipta dengan dipenuhi kesabaran adalah kunci. Terbiasa menuntaskan cobaan adalah bulatnya nyali. Hanya simpuh kepada pemilik teguh yang akhirnya sedikit demi sedikit menjauhkan sepuh dari rapuh.

– mo –

Percakapan dengan Senja

Pada senja aku bertanya, “Hei, Senja. Kenapa kau terburu-buru begitu?”

Senja diam saja. Tak ada satu kata pun lahir dari bias jingganya. Hanya sisa tawa yang perlahan meredup di cakrawala.

Aku pun kembali merangkai tanya, “Senja… Kenapa kau diam saja? Kenapa kau begitu enggan menerjemahkan rasa yang ada?”

Senja tiba-tiba terbahak. Dalam gelak, ada cemooh meledak.

“Hei… Anak Muda! Jangan kau banyak bicara! Nikmati saja selagi kau bisa!”

Aku tak menyerah. Kata demi kata kurangkai untuk mencecarnya hingga muka memerah.

“Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin tahu, kenapa kau selalu saja membisu saat kutanya kenapa kau begitu terburu-buru.”

Tawa kembali membahana di ujung samudera. Kali ini runtuh bersama pudarnya jingga.

“Hahaha… Bodohnya kau, Anak Muda. Bukan aku yang terburu-buru. Kau saja yang tak pernah siap menanggung rindu. Kenapa kau justru menyalahkan aku?”

Aku mengedikkan bahu di bawah semburat. Abu yang perlahan menjelma pekat. Aku kalah lagi berdebat dengan senja yang memang tak pernah berkhianat.

“Maafkan aku, Senja. Aku hanya belum siap mengeja rindu sendirian. Tak sudikah kau temani aku lagi?”

Senja menggeleng hingga di ujung binar matahari dia pun oleng.

“Tidak saat ini, Anak Muda. Selalu ada waktu bagiku menemanimu dalam suka cita. Pun ada waktu bagi malam untuk menemanimu merayakan rindu yang kelam. Berbahagialah kau dengan segala luka rindu yang kaupunya. Rayakan hanya dengan doa-doa. Bisa?”

Aku menarik kedua ujung bibirku, melepas kepergian senja dalam pilu. Ah! Rindu. Kenapa kau tak pernah mau bersekutu dengan waktu?

~ mo ~