Pahlawan Literasi: Inspirasi dari Berbagi

“Jangan dulu, Mas!”

Setengah berteriak aku mengagetkan Opin yang sedang berdiri di depan meja kerjaku. Dia mendadak menjelma menjadi sebuah maneken. Aku sama sekali tidak menyangka teriakanku akan membuatnya seperti itu.

“Kenapa, Bapak?”

Sepasang mata elang milik anak laki-laki berusia hampir 12 tahun itu sedikit membulat. Perasaan bersalah perlahan menyelinap ke setiap aliran darah. Perlahan tapi pasti mengantarkan rangsang ke otak sebagai penyesalan.

“Maafkan Bapak, Mas. Bapak tidak bermaksud mengagetkanmu. Bapak berubah pikiran untuk menyelesaikan tulisan. Maafkan Bapak, ya, Mas?”

Opin mengangguk pelan sambil memberesi buku catatannya. Sesaat setelahnya terdengar suara yang ditimbulkan dari gaya gesek kaki terhadap lantai ruang kerjaku. Semakin lama gelombang bunyi yang ditimbulkan kian samar. Sesaat setelahnya sirna.

Aku menatap layar komputer yang tidak jadi dimatikan oleh Opin atas permintaanku. Di layar itu masih terbuka sebuah lembar kerja pengolah kata. Aksara demi aksara berderet membentuk satu kesatuan. Setidaknya ada sebelas poin aku tuliskan. Sebelas poin itu menjadi stimulus bagi sepasang mataku untuk memberikan impuls ke otak. Otak pun memberikan respons berupa hal-hal yang lebih luas untuk dijabarkan.

Sejenak aku membiarkan mataku meneruskan rangsang ke otak. Cukup lama otakku memberikan respons dan memerintahkan tanganku bekerja. Keheningan malam semakin meraja. Hingga akhirnya pecah oleh sebuah sapa.

Baca juga: Stok Terbatas! Pahlawan Antikorupsi

“Assalamu’alaikum. Bapak belum selesai juga?”

Aku menoleh ke arah sumber suara. Seorang perempuan berdiri di pintu ruang kerjaku. Perempuan itu terlihat menyembunyikan tangan kanannya di belakang badannya.

“Walaikumsalam,” jawabku kemudian melanjutkan kata-kata, “memangnya ada apa, Mak?”

Mamak Opin terlihat menarik tangan kanannya. Bersamaan dengan itu, Opin muncul dari balik tubuhnya.

“Ini, Pak. Opin mau minta bantuan Bapak. Bisa?”

Aku membisu. Sebuah suara yang tiba-tiba membuatku berdiri di persimpangan. Di arah kiri, ada lembar kerja pengolah kata. Sementara di arah kanan, Opin berdiri menundukkan kepala. Butuh waktu lama bagiku untuk berdiam di persimpangan itu. Banyak pertimbangan untuk aku bisa menentukan pilihan. Hingga akhirnya, keputusan pun harus diambil.

“Sini, Mas. Mas butuh bantuan apa?” tanyaku meraih tangan Opin untuk mendekat.

Sementara itu Mamak Opin perlahan beringsut keluar. Sedangkan Opin memutuskan duduk di sampingku. Di tangannya ada sebuah buku tugas. Tanpa komando, dia pun menyodorkan buku itu ke arahku. Perlahan-lahan dia membukakannya untukku.

“Yang ini, Bapak,” katanya sambil menunjuk deretan kata berbentuk tulisan tangan.

Menurutku tulisan tangan itu cukup rapi bagi seorang siswa kelas V SD. Melihatnya aku hanya bisa tersenyum terlebih saat dia mengungkapkan keinginannya.

Baca juga: Berwirausaha dari Suka

“Baiklah. Mas kerjakan sendiri dulu. Nanti Bapak bantu pas menyuntingnya. Bagaimana?”

Opin tersenyum dalam anggukan kepala. Perlahan tapi pasti tulisan tangan itu telah berganti format menjadi baris-baris rapi di perangkat lunak pengolah kata.

Aku tertawa ketika Opin menyelesaikan tulisannya. Sungguh sebuah kebahagiaan memiliki seorang anak yang bisa menuliskan cerita sehari-harinya dengan runtut. Meskipun masih banyak yang harus diperbaiki bagiku tidak masalah.

Aku terkejut saat membaca tulisan Opin. Dia menulis cerita hari ini tentang usahanya mencuri. Aku lebih terkejut lagi saat membaca judulnya Catatan Hasil Mencuri Hari Ini. Seketika aku merasa gagal menjadi orang tua. Kepalaku mulai mendidih ketika melanjutkan membaca isinya. Dalam paragraf itu jelas tertera sebelas poin hasil mencuri.

Ah aku tidak menyangka,” batinku sambil tersenyum.

Semakin aku mencermati isi tulisannya, aku justru bangga padanya. Rasanya tidak sia-sia selama ini aku berbagi padanya. Tidak percuma sejauh ini aku memotivasinya. Sebelas poin hasil mencuri itu adalah ideku yang hendak kutuliskan. Ide tulisan tentang materi dari narasumber kelas menulis yang kuikuti.

Demi menyadari bahwa judul telah mengelabuiku, aku pun berkata pada Opin, “Mas … Kenapa Mas kepikiran menuliskan sebelas poin ini sebagai cerita hari ini?”

“He he he …,” Opin hanya tertawa kecil.

Baca juga: Lembar Kerja Pahlawan Bahasa

Sesaat setelahnya, dia pun menjelaskan tentang awal dia tertarik menuliskannya. Dari penjelasannya aku tahu kalau sebenarnya dia sedang mengalami writer’s block. Dia sedang berada dalam keadaan tidak tahu mau menulis apa. Hingga saat dia aku minta tolong mematikan komputer, dia justru menemukan ide dari lembar kerja yang hendak kuselesaikan.

“Jadi Bapak bisa bantu apa ini?” tanyaku memecah kebisuan.

Opin memandang lekat ke arahku kemudian menjawab, “Bapak tolong jelaskan sebelas poin ini, dong!”

Tanpa menunggu waktu lama aku pun mulai menciptakan gelombang suara. Gelombang demi gelombang pun tercipta membentuk kesatuan utuh berupa rangkaian kalimat.

 “Jadi sebelas poin itu adalah ringkasan materi yang disampaikan salah seorang narasumber dalam kelas menulis yang Bapak ikuti, Mas. Beliau bernama Theresia Sri Rahayu. Beliau biasa disapa Cikgu Tere seperti nama blognya www.cikgutere.com,” kataku membuka penjelasan.

 “Cikgu Tere itu siapa, Bapak?”

Sepasang mata elangnya menghunjam tepat ke kelopak mataku. Sepasang mata penuh pengharapan jawaban atas sebuah pertanyaan.

Aku pun tidak menyia-nyiakan itu dan menjawab, “Cikgu Tere adalah seorang guru kelahiran Kuningan tanggal 13 September 1984. Selain guru beliau juga bloger andal dengan segudang prestasi. Salah satunya adalah menjadi guru berprestasi tingkat kabupaten Bandung Barat. Prestasi lainnya adalah berhasil menerbitkan buku di penerbit mayor kolaborasi dengan Profesor Eko Indrajit. Selain itu, juga menerbitkan buku solo berjudul Bukan Guru Biasa. Prestasi lainnya? Masih banyak sekali, Mas. Nanti saja, ya, Bapak Mas baca sendiri.”

Aku pun menyodorkan tautan Biodata Cikgu Tere kepada Opin untuk diunduh. Dengan tekun, Opin pun mengunduh dan mulai mengeja satu per satu informasi yang ada.

Opin terlihat mengangguk-angggukkan kepala. Sesekali dia terlihat menekuni layar komputerku lagi. Rangsang cahaya dari layar komputer membuat sepasang mata elangnya berkedip-kedip. Kedipan yang akhirnya mengubah tulisan menjadi lisan.

“Yang nomor satu ini, Bapak. Apa maksudnya IDOLA?”

Ingatanku mengembara pada suatu masa ketika Cikgu Tere malam itu menyampaikan materinya. Namun, keterbatasan ingatan memaksaku untuk meraih gawai yang ada di dekat komputer.

Sambil menggerakkan jari di atas layar gawai, aku pun berkata, “Sebentar, ya, Mas. Bapak carikan dulu. He he he.”

Perlahan tetapi pasti akhirnya aku menemukan penjelasan juga. Dengan mengeraskan suara dan penekanan pada bagian tertentu, aku mengulang kembali penjelasan Cikgu Tere tentang IDOLA. Mulai dari identifikasi topik menarik, daftar semua judul luar biasa, outline terperinci yang memudahkan, lanjut menulis isi tiap bab, dan atur atak sesuai persyaratan penerbit.

“Kalau 3B itu apa saja, Bapak?”

Aku pun melanjutkan menggerakkan tangan di layar gawaiku. Gerakan yang dikoordinasi oleh otot lurik itu akhirnya menemukan titik hentinya. Sederet aksara membetuk penjelasan tentang 3B, yaitu Belajar, Berkarya, dan Berbagi.

“Kenapa, sih, kita harus belajar, Mas?” tanyaku setelah menyebutkan 3B yang dimaksud oleh Cikgu Tere.

Opin sejenak terdiam. Dia masih berusaha menenggelamkan pemahamannya dalam pertanyaanku. Sesaat setelahnya, dia pun membuka mulutnya.

“Supaya kita pintar, Bapak!” jawabnya setengah berteriak.

Aku tersenyum kemudian memberikan penguatan, “Mas … Sebenarnya belajar itu bukan perkara agar pintar saja. Namun, masih banyak hal lain yang menjadi tujuannya. Misalnya, yaitu dengan belajar kita akan mendapatkan banyak pengalaman baru. Baik itu berupa materi maupun hal-hal lain dalam kehidupan.”

Opin menganggukkan kepala kemudian bertanya, “Kalau berkarya itu maksudnya apa, Bapak?”

“Berkarya itu maksudnya menghasilkan karya. Apa saja karyanya? Tergantung profesi masing-masing. Misalnya, Bapak sebagai seorang guru pembelajar, Bapak menghasilkan karya berupa video pembelajaran dan juga buku,” jawabku sambil beradu tatap dengannya.

Opin kembali menganggukkan kepala. Kali ini dia lanjut bertanya tentang berbagi. Aku pun menjelaskan tentang makna berbagi sebagai jalan untuk menebarkan kebaikan. Salah satu caranya adalah menulis seperti yang dilakukan oleh Cikgu Tere. Aku juga menambahkan tentang alasan kecintaan Cikgu Tere terhadap dunia tulis-menulis. Dengan semangat Opin mendengarkan penjelasanku tentang alasan Cikgu Tere, yaitu melakukan hobi, meningkatkan kemampuan menulis, mengekspresikan diri, dan jembatan meraih prestasi.

Obrolan berlanjut pada hal-hal teknis dari nomor tiga hingga sebelas. Mulai dari hambatan dan tantangan yang dihadapi Cikgu Tere selama menulis, terkait writer’s block, konsistensi menulis, kiat sukses tembus penerbit mayor, motivasi mengeblog, personal branding, jadwal menulis, trik menulis buku, dan menulis sebagai jalan inspirasi dan motivasi. Untuk memperkuat penjelasan, aku menyajikan tangkapan layar gawai tentang materi yang ingin diketahui oleh Opin.

Dan, sepertinya malam lebih memilih merebahkan semangatku dan Opin dalam pelukannya. Sebelum benar-benar berakhir, aku memendam lebih dalam pertanyaan Opin terkait personal branding seperti yang dilakukan Cikgu Tere. Sungguh sebuah hal yang masih belum bisa aku lakukan hingga saat ini. Pada akhirnya malam pun mengajarkan padaku tentang inspirasi menentukan personal branding dari berbagi tentang hal itu kepada Opin.

– mo –

17 thoughts on “Pahlawan Literasi: Inspirasi dari Berbagi

  1. Membaca resume ini, saya membayangkan sebuah buku berjudul “Bapak dan Opin”. Bab demi bab mulai terbayang outlinenya. Bukan hanya Bapak yg bangga, Opin juga bahagia. Krn Opin bisa menjadi penulis populer seperti Bapaknya. Tolong bantu sy mewujudkan imajinasi ini, Pak.

    • Siap, Cikgu! Saya rencana ambil judul ‘Pahlawan Bahasa’. Setidaknya sudah ada 12 bab terinspirasi dari materi selama 12 pertemuan. Rencana akan tetap seperti ini sampai 20 resume. Masih nyari ide untuk tagline-nya. 😁

  2. Hmmm… mas Mo bukan guru biasa dan bukan penulis biasa bukan pula bloger biasa… luar biasa…

    • Terima kasih apresiasinya, Bu Jum. Rencana dibikin buku kumpulan cerpen resume. Oya, saya sudah meninggalkan jejak juga di postingan Ibu. Tabik. 🙏

  3. Hebat…
    Terbuai saya dibuatnya ketika membaca tulisan ini.
    Karakter Bapak dan Opin benar benar terasa ketika saya membacanya.

    Semoga bisa terbit dalam bentuk buku, apalagi sudah diminta cikgu Tere…

    Sukses Pak

    • Terima kasih apresiasinya, Pak Indra. Insyaallah sedang direncanakan ke arah sana untuk mewujudkan imajinasi Cikgu Tere 🙏

  4. Pingback: Pahlawan Bahasa: Takdir dari yang Terserak |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s